
Tetapi Andi dengan cepat menggelengkan kepalanya, "kondisi Ibu juga tidak baik-baik saja, Jadi tidak mungkin aku mementingkan masalah perusahaan ketimbang menjaga Ibu di sini. Ada sekretaris Ayah yang menangani semuanya, jadi tidak perlu khawatir apapun," ucap Andi.
"Tidak!! Kau harus tetap pergi, karena perusahaan kita adalah segalanya, sementara Ibu masih bisa baik-baik saja di sini. Juga, kalau bisa, temuilah Ayah Meliani, dan tetap jaga kerjasama dengannya sebab ayahmu terus membutuhkan jasa mereka untuk bertahan hidup. Kau tahu bukan? Perusahaan mereka adalah satu-satunya perusahaan yang memproduksi obat yang dikonsumsi oleh ayahmu, kalau sampai kita bersinggungan dengan mereka, maka tidak ada lagi jalan bagi ayahmu!!" Tegas Zaskia.
"Aku tahu Bu, aku akan mengurus semuanya, tapi saat ini aku masih--"
"Jangan membantah lagi!! Semakin Kau membantah, itu semakin membuat ibu sakit hati!!!" Tegas Zaskia lalu perempuan itu pun berbalik untuk pergi ketika dia teringat sesuatu sehingga dia kembali menatap putranya.
"Jangan lagi bersikukuh untuk memulai karirmu dari nol, sekarang kau sudah menjadi manajer, jadi Sudah cukup pengalaman yang Kau dapatkan selama ini!!! Pergilah ke perusahaan dan jadilah CEO sampai ayahmu sembuh!!!" Tegas Zaskia lalu perempuan itu pun pergi meninggalkan putranya dengan kepala yang berdenyut-denyut.
Andi yang melihat kekeras kepalaan ibunya hanya bisa menghelakan nafas lalu pria itu pun meninggalkan rumah sakit.
Dalam perjalanan mengendarai mobilnya, Andi pun menelpon sekretaris ayahnya, "kita bertemu di hotel xx saja, dan juga jangan memberitahu pada ibuku bahwa aku tidak pergi ke kantor." Ucap Andi yang tidak mau meninggalkan Liliana begitu saja.
__ADS_1
"Baik Tuan," jawab sang sekretaris dari seberang telepon sebelum menutup panggilan telepon itu lalu Andi terus berkendara menuju hotel xx.
Saat tiba di hotel, Andi mendapati bahwa kedua perempuan yang bersama-sama dengannya kini sedang berada di kolam renang dengan Aliana yang berenang di kolam baby.
Sementara Liliyana, perempuan itu duduk di bawah pohon hias yang ada di sana sembari menggunakan kacamata hitam dan sedang asyik menatap Aliana yang bermain air dengan seorang instruktur renang menjaga gadis kecil itu.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Andi ketika dia sudah menghampiri Liliana sehingga Liliana pun menatap pria itu.
Tetapi perempuan itu tidak mau menanyakan masalah itu Sebab Dia tidak ingin terlihat seperti memperdulikan pria di depannya meski Sebenarnya dia sangat peduli.
"Aku dari rumah sakit," jawab Andi langsung membuat Liliana mengerutkan keningnya.
"Apa yang kau lakukan di rumah sakit?" Tanya Liliana.
__ADS_1
"Hanya mengurus sesuatu," jawab Andi sembari menoleh ke arah Aliana yang saat itu tengah asyik diajari berenang.
"Ahh,," Liliana menganggukkan kepalanya dengan rasa kecewanya sebab pria itu ternyata tidak mau menceritakannya.
Sementara Andi yang mendengarkan suara kekecewaan perempuan itu langsung berbalik menatap Liliana dan melihat perempuan itu sudah kembali menatap ke arah kolam renang.
"Ada apa?" Tanya Andi.
"Tidak," jawab Liliana dengan singkat.
Hati perempuan itu terasa kacau,Sebab Dia sudah mempercayai pria itu bahwa pria itu menyukainya sehingga pastilah akan mengatakan segala sesuatu padanya, tapi ternyata apa yang ia angan-angankan hanyalah sebuah angan-angan saja, bukan sesuatu yang bisa ia gapai dan genggam.
__ADS_1