
"Bagaimana dengan pernikahanmu dan Andi? Apakah Ayah dan ibumu sudah memutuskan tanggal pernikahan kalian?" Tanya Hakim pada perempuan yang duduk di sampingnya.
Zaskia yang ada di sana memperhatikan Meliani, dan perempuan itu berdoa dalam hati supaya Meliani bekerja sama dengan mereka, setidaknya sampai suaminya sembuh.
"Ya, meski belum ada tanggal pernikahan, tetapi aku dan Andi sudah mulai menyiapkan seluruh kebutuhan untuk pernikahannya, karena ayahku juga bilang bahwa dia masih ingin berbicara dengan ayah mertua tentang tanggal pernikahannya," kata Meliani langsung membuat Zaskia bernafas dengan lega.
Sementara Hakim yang dibohongi, pria itu tersenyum menganggukkan kepalanya, "Ahh,, kalau begitu nanti setelah ayahmu kembali dari luar kota, Tolong beritahu Ayah supaya bisa membicarakan tanggal pernikahan kalian dengannya," kata hakim langsung membuat Meliani mengerutkan kelilingnya karena sebenarnya ayahnya tidak pergi ke luar kota.
Tetapi ketika dia mengangkat wajahnya menatap Zaskia yang menatapnya, maka perempuan itu langsung mendapatkan kode supaya menyia-nyiakan saja ucapan tersebut sehingga melayani kembali menatap Hakim.
"Baiklah, nanti akan kuberitahu padanya, karena saat ini dia sangat sibuk dengan berbagai pekerjaannya," ucap Meliani.
Hakim merasa senang berbincang-bincang dengan perempuan itu, sementara Andi yang ber-chatan dengan Liliana kini merasa kesal karena perempuan yang ia bawa ke dalam ruangan itu belum juga berpamit untuk pergi. Padahal dia mau kembali menemui Liliana.
__ADS_1
Oleh sebab itu, Andi kemudian berdiri lalu menghampiri tiga orang yang sedang berbincang-bincang di ruangan tersebut.
Pria itu menatap Meliani sembari berkata, "kau bilang hanya mampir sebentar karena ada kesibukan, apakah--"
"Ah, tidak, tadi di jalan Aku mendapat pesan kalau acaranya dibatalkan, jadi aku akan di sini lebih lama lagi," ucap Meliani sembari melemparkan senyum ke arah Andi yang membuat Andi semakin jengkel dengan perempuan itu.
Hakim pun menatap Andi sembari berkata, "ayah senang kalau kalian semua ada di sini bersama-sama dengan Ayah, jadi jangan buru-buru untuk pergi, katakan saja pada Cakra agar dia menghandle semua urusan perusahaan."
Meliani yang melihat raut wajah Andi yang tampak tidak senang Langsung bersorak dalam hati, 'lihat saja, aku akan membuatmu kerepotan. Ahh, karena kau mempermalukan aku dengan membatalkan pernikahan, maka aku juga akan membuatmu menderita!!! Apalagi jika hasil pemeriksaan pemeriksaan itu ternyata adalah palsu, maka aku tidak akan bisa melepaskanmu!!!' ucap Meliani dalam hati sembari tersenyum ke arah Andi.
Pada akhirnya, Andi harus tetap berada di ruangan itu sampai 2 jam kemudian pria itu semakin merasa kesal melihat Meliani yang tak kunjung pergi dari ruangan itu sehingga dia pun berdiri menghampiri ayahnya.
"Ayah, Aku harus pergi sekarang, nanti aku kembali lagi setelah menandatangani berkas-berkas penting di perusahaan," ucap Andi membuat alasan untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Tetapi Hakim menghela nafas menatap putranya, "kau ini, perintahkan saja Cakra untuk datang membawanya ke mari, sekalian ayah juga mau melihat beberapa proyek, mungkin saja ada yang perlu Ayah koreksi."
Mendengar itu, maka Andi mengepal kuat tangannya karena merasa kesal bahwa dia harus terjebak di tempat itu sehingga sudah cukup lama ia tidak bersama-sama dengan Liliana.
Tetapi Andi tetap menganggukkan kepalanya, "baik ayah," jawab Andi.
Setelah menjawab ucapan ayahnya, maka Andi pun segera pergi ke balkon kamar rawat inap itu lalu dia mengeluarkan ponselnya menelpon Cakra agar pria itu datang ke rumah sakit membawa beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani.
Tak lupa pula pria itu memberikan instruksi pada Cakra supaya tidak mengatakan sesuatu yang buruk-buruk demi keselamatan dan kesehatan ayahnya.
Setelah selesai berteleponan dengan Cakra, Andi menatap ke dalam ruangan dan melihat melayani masih sementara berbincang-bincang dengan hakim hingga perempuan itu menggerakkan giginya lalu dia berbalik menekan-nekan layar ponselnya.
Pria itu memilih untuk menghubungi Liliana.
__ADS_1