Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
119


__ADS_3

Setelah memutuskan panggilan teleponnya dengan Liliana, Andi menjadi sangat dilema, Dia memiliki rapat yang begitu penting di perusahaan karena menyangkut sebuah proyek yang sangat besar.


Kalau dia tidak hadir, maka rapat Itu bisa kacau dan kerugian mungkin akan ditanggung oleh perusahaan mereka serta akan menyinggung partner bisnis mereka.


Tapi dia tidak bisa mengabaikan pertemuan keluarganya dengan keluarga Liliana, dia ingin hadir di pertemuan itu.


Maka dengan perasaan yang begitu dilema, pria itu menaiki mobilnya, namun Andi belum menyalakan mesin kendaraannya sebab hatinya terbagi untuk pergi ke kantor atau pergi ke kediaman Liliana.


Setelah beberapa menit berada dalam mobil, ponsel yang ia letakkan di saku jasnya tiba-tiba saja berdering sehingga pria itu pun mengambil ponselnya dan melihat bahwa yang menelponnya adalah sekretaris ayahnya.


Maka sambil menghembuskan nafasnya dengan panjang dan menyalakan mesin kendaraannya, Andi pun mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo," jawab Andi sembari melajukan mobilnya keluar dari kediamannya.


"Rapatnya akan dimulai dalam 15 menit lagi, Apakah Tuan masih dalam perjalanan?" Tanya Chandra dari seberang telepon.


"Ah, ya,, Aku ke situ sekarang," jawab Andi akhirnya memutuskan untuk pergi ke perusahaan dan berharap rapatnya bisa selesai dengan cepat supaya dia masih punya waktu untuk pergi ke kediaman Liliana.


Maka setelah perjalanan 10 menit, Andi akhirnya tiba di kantornya, dan pria itu segera memasuki lift untuk pergi ke lantai 32.

__ADS_1


Ting!


Begitu pintu lift terbuka, dilihatnya sekretaris Candra telah menunggunya, "Tuan Kim sudah menunggu di ruang rapat," ucap sekretaris Candra.


Andi mengganggukan kepalanya sembari melangkah ke ruang rapat, lalu pria itu pun mengikuti rapatnya selama 4 jam lamanya sampai akhirnya dia menyelesaikan rapat tersebut.


Pria itu melihat jam tangannya, dan saat itu sudah menunjukkan pukul 12.00.


"Apakah aku masih punya jadwal?" Tanya Andi sembari keluar dari ruangan rapat dan berharap tidak ada jadwal yang terlalu penting supaya dia bisa pergi ke kediaman Liliana.


Tetapi sayang sekali, pria itu harus menghentikan langkahnya ketika sekretaris Candra berkata, "masih ada pertemuan penting dengan klien dari luar negeri, tuan Hans. Ini adalah proyek pembangunan--"


Dengan raut wajah yang begitu menyesal, sekretaris Candra pun berkata, "Uh,, pertemuan dengan Tuan Hans sudah ditunda sebanyak dua kali, jadi kalau kita menundanya lagi, saya takut Mungkin Tuan Hans akan tersinggung sehingga--"


"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi," jawab Andi sembari menghela nafas dan dia benar-benar kesal bahwa pekerjaannya benar-benar menyita waktunya.


Maka pria itu menghadiri dua rapat lagi sampai akhirnya ketika semua taqwa rapatnya selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sehingga pria itu menghela nafas ketika berada dalam mobil.


'Benar-benar,,' Andi merasa sangat lelah, dan pria itu pun sudah memasrakan bahwa dia tidak bisa mengikuti pertemuan keluarganya dengan keluarga Liliana sehingga tidak tahu apa yang sudah dibicarakan oleh orang-orang itu.

__ADS_1


Meski begitu, Andi tetap menghubungi Liliana, namun setelah 3 kali panggilan telepon, perempuan di seberang telepon tidak mengangkat panggilan teleponnya hingga membuat pria itu menjadi cemas.


Dia pun menelpon Aliana, tetapi sama seperti ponsel Liliana, ponsel Aliana juga tidak diangkat oleh seseorang hingga membuat pria itu merasa sangat cemas.


Dia pun berkendara menuju kediaman Liliana untuk memastikan keadaan perempuan itu ketika dalam perjalanan ponselnya tiba-tiba saja berdering.


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


"Iya Bu," jawab Andi pada penelpon yang merupakan ibunya.


"Pulanglah ke rumah, jangan lupa singgah di supermarket dan belikan Ibu bahan-bahan makanan yang sudah Ibu kirimkan ke ponselmu," ucap Zaskia dari seberang telepon.


"Tapi Bu, Aku harus pergi ke rumah Liliana sebentar, Dia tidak mengangkat teleponku," jawab Andi dengan suara yang begitu cemasnya.


"Tidak perlu khawatir, di sana ada ayah dan ibunya, sekarang kembalilah ke rumah, Ibu mau memasak dan tidak ada bahan makanan!!" Tegas Zaskia dari seberang telepon.


"Baik Bu," jawab Andi dengan suara berat.

__ADS_1


__ADS_2