Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
24. Mengabaikan pesan dari Andi


__ADS_3

Ketika taksi sudah berhenti di depan perusahaan, Liliana turun dari mobil, namun perempuan itu merasa enggan untuk masuk ke perusahaan.


Ketakutannya untuk bertemu dengan Andi membuatnya berdiri diam di tempatnya tanpa ada sedikitpun niat untuk melangkah memasuki perusahaan.


Sampai kemudian seorang gadis yang satu tim dengan Liliana menghampiri Liliana karena merasa bingung melihat perempuan itu terbengong di tempatnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya gadis bernama Michelle.


Liliana yang mendengarkan pertanyaan Michelle kini menatap Michelle dan berkata, "tidak apa-apa, aku hanya sedikit kelelahan."


Michelle yang mendengar itu bisa mengerti perempuan di depannya, sehingga dia tersenyum menganggukkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya merangkul lengan Liliana dan menarik perempuan itu memasuki kantor.


Sembari berjalan, Michelle kemudian berkata, "jangan khawatir, biasanya setelah 1 hari berlalu, manajer akan kembali seperti semula, Jadi kau tidak perlu khawatir dia akan terus memarahimu. Ahh,, kemarin saat kau ada di ruang medis, kami sudah menyiapkan meja untukmu bekerja."


Ucapan perempuan itu membuat Liliana terkejut hingga Dia kemudian menatap Michelle dan berkata, "kalian menyiapkan meja untukku? Apakah manajer yang memerintahkan hal itu?"


Michelle langsung menganggukkan kepalanya, "hah, kemarin saat rapat, kami semua mendapat amukan dari manajer, dan tidak ada satupun yang selamat, bahkan laporan yang sebelumnya sudah disetujui oleh manajer harus diganti lagi.

__ADS_1


"Tapi setelah rapat, Dia berpesan supaya kami menyiapkan meja kerja untukmu di dekat ruangannya. Mungkin saja dia ingin membimbingmu secara pribadi sehingga dia menaruh mejamu di dekat ruangannya," ucap Michelle yang sebenarnya merasa prihatin pada perempuan itu karena dia bisa melihat bahwa manajer mereka sudah menargetkan Liliana untuk menjadi bawahannya yang akan terus dicerca.


Tetapi karena di depan Liliana, maka Michelle sadar betul bahwa dia tidak mungkin mengatakan hal seperti itu sehingga dia mengatakan hal sebaliknya agar perempuan itu tidak patah semangat.


Meski begitu, Liliana yang mendengarkan ucapan Michelle kini merasa tegang dan entah kenapa dia berpikir untuk memasukkan surat pengunduran diri saja.


'Tapi kalau aku memasukkan surat pengunduran diri, maka aku akan membayar sejumlah uang pada perusahaan, dan juga, kalau aku menyerahkan surat pengunduran diri maka aku harus menyerahkannya pada pria itu, jadi pria itu tidak mungkin mau menerima suratnya,' ucap Liliana dalam hati yang kini merasa bahwa dia hanya ingin menangis menghadapi situasi yang saat ini mencekiknya.


Terus berjalan, akhirnya kedua perempuan itu masuk ke dalam lift, Liliana yang berdiri dalam lift terus saja terbengong dan dia kebingungan harus melakukan apa untuk membuatnya menjauh dari pria bernama Andi.


Pria itu adalah atasannya, jadi tidak Mungkin dia bisa mengatur pria itu.


Lift akhirnya berdenting lalu Michelle yang merangkul Liliana menarik Liliana dari dalam lift dan mereka pergi ke ruang kerja tim mereka.


"Di sini meja kerjamu!" Ucap Michelle bersemangat menunjukkan meja kerja Liliana.


Liana berusaha menganggukkan kepalanya lalu perempuan itu kemudian duduk dan menatap beberapa orang kembali memasuki ruangan lalu duduk di meja kerja masing-masing.

__ADS_1


Liliana pun menoleh ke arah pintu ruangan manager mereka dan pintu ruangan itu sangat dekat dengannya.


Deg!


Jantung Liliana berpacu dengan cepat sembari perempuan itu menggerakkan tangannya untuk menyalakan komputernya.


Tetapi kemudian ponselnya yang ada di tasnya bergetar hingga membuat Liliana mengambil dulu ponselnya.


Dan ternyata, sebuah pesan dari nomor yang tadi pagi mengirimnya pesan kembali lagi masuk namun Liliana tidak berniat membukanya sehingga dia meletakkan lagi ponselnya.


'Aku sebaiknya bekerja saja,' ucap Liliyana dalam hati sambil cepat-cepat menyalakan komputernya bersamaan dengan Angga yang datang menemui Liliana dan menyerahkan beberapa berkas pada Liliana.


"Tolong selesaikan berkas-berkas ini," ucap Angga langsung dijawab anggukan Liliana lalu Liana kemudian mengambil berkas itu dan mulai bekerja.


Sementara bekerja, ponsel Liliana terus bergetar, tetapi Liliana terus mengabaikannya hingga membuat sang pria yang ada di ruangannya kini merasa sangat kesal.


Pria itu memandangi layar monitornya sembari menyertakan giginya lalu Karena tidak tahan lagi maka pria itu kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


Clek!


"Kau!! Kemari!"


__ADS_2