
Berdiri di depan cermin dalam toilet, Liliyana melototkan matanya menatap memar-memar yang ada pada lehernya.
Karena tadinya dia terlalu terburu-buru sebab memikirkan tentang kehamilannya, maka Liliana jadi lupa untuk berdiri di depan cermin di kamar hotel, sehingga perempuan itu juga tidak menggunakan make up dan kini harus mempermalukan dirinya sendiri di depan semua orang.
'Pantas saja tadi Aku melihat banyak orang yang terkejut menatapku saat aku memasuki lift, tapi aku mengabaikan mereka semua karena pikiranku itu hanya kebiasaan orang-orang saja yang baru pertama melihat seseorang. Tapi ternyata, semua itu karena ini?' ucap Liliana dalam hati segera membongkar tasnya dan untungnya di dalam tasnya ada make up yang bisa ia gunakan sehingga perempuan itu cepat-cepat menutupi memar-memar pada lehernya menggunakan make up.
Belum selesai menutupi Semua memar itu, Liliyana kemudian mendengar suara langkah kaki yang berjalan menuju toilet sehingga Liliana cepat-cepat mengambil peralatan make up yang ada di atas meja lalu berlari masuk ke salah satu bilik toilet untuk bersembunyi.
'Sial!!' ucap Liliana dalam hati sembari melihat lehernya lewat kaca kecil yang dia bawa ke mana-mana.
__ADS_1
Sembari mengaplikasikan make up untuk menutupi lehernya, Liliana kemudian mendengar percakapan dari luar.
"Hah,, gara-gara pria mesum itu, kita semua terkena omel oleh manajer. Bahkan, laporanku baru saja ditolak mentah-mentah oleh manajer dan disuruh untuk membuat yang baru!" Terdengar suara salah seorang gadis.
"Hah,, kau benar, tetapi untunglah si mesum Dimas itu telah di pecat, kalau tidak, mungkin kita masih akan menderita melihat pria menjijikkan itu terus berkeliaran di sekitar kita."
"Hah,, kau benar, dia sangat mesum sampai beberapa kali aku melihat dia sengaja menjatuhkan sesuatu ke bawah meja hanya untuk tertunduk melihat ke dalam rokku!"
Dia juga mengingat Bagaimana manajer mereka meninju pria itu hingga tersungkur jatuh dan manajernya mengatakan bahwa akan memaafkan pria itu dan menyuruhnya datang pagi-pagi ke kantor.
__ADS_1
'Astaga,, jadi percakapan yang samar-samar kudengar itu kemarin ternyata,,,' Liliana kini mengerti bagaimana pria itu sangat menakutkan bagi semua orang.
Cara pria itu memperlakukan orang-orang sangatlah buruk, bahkan memberi mereka harapan sebelum menghempaskannya secara mengerikan.
Hal itu membuat Liliana kembali teringat dengan pertemuan pertama mereka ketika manajernya berkata bahwa akan melupakan masalah tersebut namun masih memberinya hukuman untuk merapikan gudang yang sangat luas, dan bahkan sekarang dia dituntut untuk menyelesaikannya dalam satu hari.
Padahal pekerjaan itu sangatlah berat untuk ia lakukan sendirian saja.
Namun, karena tidak punya kapasitas untuk membantah apapun sebab Dia baru dipindahkan dari kantor cabang, maka Liliana cepat-cepat menyelesaikan riasannya sebelum keluar dari toilet lalu pergi ke gudang.
__ADS_1
Sembari berjalan ke gudang, Liliana mengerutkan keningnya memikirkan sikap manajernya yang sangat aneh.
'Tadi pagi di hotel dia bilang aku harus bertanggung jawab padanya karena aku sudah merampas ke pekerjaannya?? Tapi kalau begitu, kenapa dia masih bersikap buruk padaku di kantor?! Hah,, kalau dia tidak mirip dengan Andi, dan bahkan namanya juga sama, maka aku akan segera mencincang pria itu menjadi beberapa bagian lalu membagi-bagikan potongan tubuhnya pada buaya!!!' Kesal Liliana sembari menggertakan giginya.