Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
9. Pikiran yang kacau karena banyaknya masalah


__ADS_3

Liliana yang terus mencari pakaiannya dengan ketakutan kini menghentikan gerakannya ketika dia mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.


Perempuan itu menoleh ke arah pintu kamar mandi dan melihat Andi yang keluar dari kamar mandi kini menatapnya dengan tenang dan pria yang hanya memakai handuk kecil yang dibalut di pinggangnya itu kemudian berkata, "cepatlah bersiap dan berangkat ke kantor atau kau mungkin akan terlambat!"


Setelah berbicara, Andi kemudian masuk ke sebuah ruangan yang merupakan ruangan ganti yang membuat Liliana langsung berlari ke arah ruangan itu dan berusaha membuka pintu, Namun ternyata pintunya dikunci dari dalam.


"Itu tolong,, bisakah kau membuka pintunya? Aku perlu pakaianku karena aku terburu-buru untuk pergi!!" Ucap Liliana dengan perasaan cemasnya.


"Oh, orang yang belum mandi tidak boleh masuk kemari!!" Jawab Andi dari seberang pintu benar-benar membuat Liliana menggerakkan giginya hingga perempuan itu berlari ke arah kamar mandi.


Liliyana cepat-cepat mandi dan entah bersih atau tidak, perempuan itu tidak memperdulikannya karena masalah yang sedang ia hadapi jauh lebih besar daripada masalah mandi bersih atau tidak.


Setelah keluar dari kamar mandi, dia melihat bahwa kamar telah kosong dan perempuan itu membuka pintu yang tadi ditempati oleh Andi mengganti pakaiannya lalu menyadari bahwa di ruangan itu ada banyak pakaian perempuan hingga dia mengambil salah satu pakaian dari sana secara acak.


Liliana cepat-cepat mengganti pakaiannya, lalu dia kemudian melihat tasnya di atas meja dan mengambilnya sebelum berlari keluar dari kamar.

__ADS_1


Sementara menghentikan sebuah taksi, Liliana terkejut ketika ponsel yang ada dalam tasnya tiba-tiba saja berdering hingga perempuan itu cepat-cepat mengambil ponselnya.


"Ya halo?" Ucap Liliana menjawab panggilan telepon dari Angga.


"Kau dimana?! Cepat ke kantor sekarang juga atau kau mungkin akan mendapatkan masalah besar!!!" Ucap Angga dari seberang telepon dengan suara yang begitu cemas diikuti oleh nada panggilan telepon yang diputuskan secara sepihak.


Tut tut tut...


Liliana yang melihat panggilan telepon yang sudah diakhiri itu tidak memperdulikannya lagi, dan dia hanya naik ke taksi sembari berusaha kembali menelpon Angga, namun panggilan teleponnya tak pernah lagi diangkat.


'Ahh,, apa yang ku pikirkan? Makan obatnya masih bisa nanti saja, yang penting belum lewat 24 jam.' ucap Liliana dalam hati memutuskan untuk pergi ke kantor dan nanti Saat jam istirahat barulah pergi ke apotek.


Maka perempuan itu cepat-cepat memberitahu sopir taksi tentang Arah tujuannya hingga ketika dia tiba di perusahaan, perempuan itu berlari menuju lift.


"Maaf," ucap Liliyana ketika dia tak sengaja menabrak seseorang lalu perempuan itu kemudian akhirnya berdiri dengan tenang di dalam lift dan melihat tombol-tombol lantai pada lift yang ditekan oleh orang-orang.

__ADS_1


Karena lantai yang enak dituju oleh Liliana sudah tertekan, maka dia tidak memperdulikannya lagi, bahkan tak menghiraukan tatapan aneh semua orang yang melihatnya.


Perempuan itu hanya berdiri diam sembari mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin malam.


Beberapa saat kemudian Liliyana menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika dia mengingat secara samar ingatannya menyerang manajernya sendiri.


'Astaga, apa yang sudah kulakukan?' ucap Liliana dalam hati dengan mata melotot menyadari kekonyolan yang ia lakukan.


Perempuan itu menelan air liurnya lalu pintu lift akhirnya berdenting yang menandakan bahwa dia sudah tiba di lantai tujuannya, maka perempuan itu cepat-cepat keluar dan ternyata semua orang sedang berkumpul karena mendapat amarah dari manajer mereka.


Liliana berjalan perlahan-lahan hingga Dia tiba di samping Angga dan berdiri dengan tangan terkepal kuat karena ketakutannya pada manajernya yang kemarin malam telah Ia Serang.


'Kalau pria ini sangat marah padaku, maka tidak mungkin tadi pagi dia bersikap baik-baik saja padaku meski masih agak judes, namun dia tidak memecatku,' ucap Liliyana dalam hati berusaha menenangkan pikirannya yang sedang kacau.


Bahkan dia tidak memikirkan lagi apa yang sudah ia lakukan kemarin malam dan berakhir bangun dalam pelukan seorang pria.

__ADS_1


Pikirannya sudah kacau ke mana-mana sehingga dia tidak dapat mengolahnya secara bersamaan.


__ADS_2