Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
62


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Liliana meninggalkan Andi yang membereskan piring kotor sementara dia pergi ke kamar mandi untuk mandi.


Srassshh.....


Suara shower yang membasahi tubuh Liliana menjadi satu-satunya suara yang terdengar di kamar mandi karena saat itu Liliana sedang memejamkan matanya menikmati air hangat yang membasuh tubuhnya.


'Apakah pria itu sudah dipaksa menikah dengan tunangannya sehingga dia tiba-tiba menanyakan pendapatku tentang pernikahan? Tapi kenapa hatiku terasa sakit? Kenapa harus sakit?' ucap Liliana dalam hati yang mana perempuan itu tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


Dia tidak menyukai Andi, dia bahkan tidak ingin menghabiskan 1 detik pun waktunya bersama-sama dengan Andi, tapi kenapa sekarang rasanya berbeda?


Mengapa dia merasa sakit?


Liliana yang kebingungan dengan dirinya sendiri akhirnya menghabiskan waktu 1 jam lebih untuk berada di bawah shower sebelum perempuan itu keluar dari kamar mandi dan melihat Andi juga telah selesai mandi.


Tanpa mengatakan apapun, Liliana masuk ke ruangan ganti untuk mengganti pakaiannya dan setelah keluar, ia duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya saat tiba-tiba saja sebuah tangan besar datang mengambil air Alih hairdryer yang ia pegang.


"Biar aku melakukannya untukmu," ucap Andi langsung membuat Liliana menatap bayangan Andi yang ada di pantulan cermin.

__ADS_1


Tidak biasanya pria itu membantunya mengeringkan rambutnya, dan sikap Andi pada hari itu benar-benar membuat Liliana kebingungan.


Meski begitu, Liliyana masih belum mengatakan apapun dia hanya diam sampai akhirnya rambutnya selesai dikeringkan lalu perempuan itu memakai perawatan malamnya.


Saat hendak naik ke tempat tidur, Liliana terkejut saat melihat Andi yang ada di tempat tidur kini sudah berbaring mengungguli Liliana.


"Apa kita langsung tidur?" Tanya Liliana yang tak biasanya pria itu langsung tidur saat mereka bersama-sama, padahal biasanya mereka berolahraga terlebih dahulu.


"Ya," jawab Andi dengan singkat benar-benar membuat Liliana kebingungan dengan sikap pria itu, namun tidak dia tidak terlalu menanggapinya dan hanya ikut berbaring di tempat tidur.


Meski begitu, Liliana tidak tidur memunggungi Andi, malahan dia tidur menghadap ke pria itu menatap punggung Andi yang terlihat begitu sedih.


Waktu terus berlalu, namun Liliana tidak dapat memejamkan matanya hingga perempuan itu pun memilih berbalik menunggui Andi dan berusaha untuk terlelap dalam tidurnya.


Namun, meski tubuhnya begitu lelah, tetapi pikirannya yang merasa aneh terhadap sikap Andi membuatnya tidak bisa tenang sehingga perempuan itu tak kunjung tidur.


'Sial!! Ada apa denganku?' kesal Liliana pada dirinya sendiri sembari duduk di tempat tidur dan menatap pria yang sedang tidur memunggunginya.

__ADS_1


'Dia tidur,' ucap Liliyana dalam hati sembari menghela nafas, lalu perempuan itu turun dari tempat tidur dan berniat untuk pergi ke dapur membuat minuman herbal yang bisa membuatnya lebih cepat tidur.


Ketika Liliana sedang mengaduk minuman herbal yang iya buat, tiba-tiba saja sebuah pelukan dari belakang mengejutkan perempuan itu.


"Kau tidak bisa tidur?" Tanya Andi mengejutkan Liliana.


"Ahh,, Apakah aku membangunkanmu?" Tanya Liliana sembari menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk minuman herbalnya.


"Aku tidak bisa tidur," ucap Andi sembari menyandarkan kepalanya di bahu kanan perempuan itu.


"Kalau begitu duduklah di sana, biar kubuatkan juga minuman herbal untukmu," ucap Liliana.


"Hm," jawab Andi dengan singkat selalu pria itu kemudian pergi ke arah sofa depan TV dan duduk di sana sembari menunggu Liliana datang membawakannya minuman herbal.


Setelah beberapa saat terdiam, Liliyana akhirnya menghampirinya lalu Andi mengulurkan tangannya memegang pinggang perempuan itu dan menarik Liliana duduk di pangkuannya.


Liliana hanya diam saja, dan dia tidak berniat bertanya apa-apa karena dia sendiri tahu bahwa pria itu pasti tidak akan menceritakan masalahnya.

__ADS_1


Tapi beberapa saat kemudian, Liliana terkejut ketika Andi lah yang memulai pembicaraan, "makan malam hari ini tidak berjalan dengan lancar. Perempuan itu ada di sana dan,,, dia mendesak untuk melakukan pernikahan," ucap Andi.


Liliana yang mendengarkan itu langsung mengangkat wajahnya menatap Andi dan dia bisa melihat kecenderungan pria itu tidak menginginkan pernikahannya bersama-sama dengan tunangannya.


__ADS_2