
"Jangan banyak bicara, itu akan menguras tenagamu," ucap Andi sembari membuka penutup proses dan membiarkan perempuan itu duduk di kloset untuk mengeluarkan air kencingnya.
💞💞💞
Sementara Liliana yang duduk di kloset, perempuan itu merasakan matanya menjadi sangat panas dan dengan tangan gemetar ia mengambil gelas kecil yang disodorkan oleh Andi padanya.
Dia takut,, dia takut akan hasilnya. Bagaimana kalau positif?
Andi pun memperhatikan Liliana, dan dia bisa melihat bahwa perempuan itu berada dalam keadaan tidak baik-baik saja sehingga pria itu berkata, "Apakah kau mengkhawatirkan sesuatu?"
Pertanyaan pria itu langsung membuat Liliana mengangkat wajahnya menatap Andi, dan saat ia berkedip air matanya kemudian jatuh menetes di pipinya hingga membuat Andi menjadi semakin panik.
Pria itu mengulurkan tangannya menghapus air mata Liliana, "Apakah sangat sakit sampai Kau Jadi menangis?" Tanya Andi.
Liliana langsung menggelengkan kepalanya, tetapi tubuh Perempuan itu terasa begitu dingin karena membayangkan dirinya yang akan hamil diluar nikah untuk kedua kalinya.
Apalagi setelah ia mengetahui bahwa Andi memang benar-benar berniat menikah dengan Meliana sehingga perempuan itu sadar betul bahwa kali ini bayinya akan kembali lahir tanpa ada seorang ayah di sisinya.
Maka setelah menyerahkan air kencingnya pada Andi, perempuan itu memperbaiki pakaiannya sebelum runtuh di lantai dan dia menangis dengan keras.
__ADS_1
"Hiks,, hiks,, hiks,," Isakan Liliana langsung membuat Andi yang hendak mencelupkan alat tes kehamilan pada air kencing Liliana kini menghentikan gerakannya lalu pria itu kemudian menghampiri Liliana.
Tanpa aba-aba, Andi mengangkat Liliana dari lantai dan mendudukkan pria itu di atas meja di kamar mandi.
"Ada apa?" Tanya Andi sembari memeluk perempuan itu.
Tetapi Liliana tidak mengatakan apapun dia hanya membiarkan dirinya dipeluk oleh Andi dan dia terus menangis mengabaikan Andi yang terus bertanya tentang keadaannya.
Sampai beberapa waktu kemudian, Liliana akhirnya merasa begitu lemah hingga untuk menangis saja dia seperti tidak punya tenaga untuk melakukannya.
Liliana hanya terdiam dalam pelukan Andi dan perempuan itu merasakan tangan Andi mengusap punggungnya, sementara tangan yang lain dari pria itu menyeka air mata Liliana.
Melihat Liliana yang tidak mengatakan apapun, maka Andi hanya bisa menggendong perempuan itu keluar dari kamar mandi lalu dia kembali membaringkan Liliana di tempat tidur.
Setelah selesai menyelimuti Liliyana, maka Andi menatap sang dokter sembari berkata, "alat tes kehamilannya ada di dalam."
Dokter Nia menganggukkan kepalanya lalu perempuan itu pun masuk ke kamar mandi dengan Andi yang langsung terbalik menatap Liliana yang kini tidur dengan wajah yang semakin pucat dari sebelumnya.
Andi pun kebingungan harus melakukan apa, sebab dia tidak tahu apa yang membuat perempuan itu menangis.
__ADS_1
Apakah perempuan itu merasa sakit ataukah ada sesuatu lainnya yang membuatnya menangis.
Setelah 3 menit terdiam, akhirnya dokter keluar dari kamar mandi lalu perempuan itu pun membawa alat tes kesehatan yang digunakan oleh Liliana.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Andi pada dokter Nia.
Dokter Nia tidak langsung menjawab, tetapi perempuan itu menatap ke arah Liliana yang saat itu juga membuka matanya dan menatap ke arahnya.
Dokter Nia bisa melihat bahwa perempuan itu tampak sangat tidak siap untuk melihat hasilnya sehingga Dokter Nia hanya menyerahkan alat tes kehamilan itu pada Andi tanpa mengatakan apapun.
Liliana mengalihkan pandangannya pada wajah Andi ketika dia melihat pria itu menatap alat tes kehamilannya dan dia penasaran Bagaimana reaksi pria itu mengetahui hasil pemeriksaan kehamilan tersebut.
"Apa maksudnya dengan dua garis merah?" Tanya Andi sembari menatap sang dokter.
Dokter Nia yang ditanya pun tidak melihat ke arah Andi, namun dia menatap Liliana dan terlihat bahwa perempuan itu langsung meneteskan air matanya setelah mendengar kata dua garis merah.
"Dia hamil," jawab Dokter Nia.
"Ha,, hamil?" Tanya Andi untuk memastikan pendengarannya.
__ADS_1
"Ya, Dia sedang hamil, jadi aku akan meresepkan obat untuknya," ucap Dokter Nia segera berjalan ke arah meja tempat ia meletakkan barang-barangnya untuk memberikan resep pada Liliana.