
Setelah diperiksa, maka Andi pun dipanggil untuk berbicara dengan dokter.
Pria itu enggan meninggalkan Aliana sendirian, Tetapi dia juga tidak mau membawa gadis kecil itu ke dalam rumah sakit sebab dia tahu bahwa gadis kecil itu memiliki IQ di atas rata-rata dan pemahamannya terhadap orang dewasa yang berbicara juga sangat tinggi sehingga dia takut gadis kecil itu akan terkejut mendengarkan ucapan dokter.
"Ini,, maukah kau tinggal di sini bersama perawat menjaga kakakmu? Kakak harus berbicara dulu dengan dokter," ucap Andi langsung dijawab anggukan Aliana karena gadis kecil itu tidak ingin lagi meninggalkan kakaknya.
Maka Andi Menitipkan gadis kecil itu pada salah satu perawat yang ada di sana sebelum dia pun pergi menemui dokter untuk berbicara.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Andi saat ia sudah duduk di kursi di depan dokter.
"Jangan khawatir, Ibu dan bayinya baik-baik saja, tetapi saya harus menekankan bahwa stres adalah salah satu penyebab keguguran yang paling umum terjadi. Oleh sebab itu, dia akan dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu, namun Saya menyarankan kepada Anda supaya menjaganya dan tidak boleh membiarkan dia mengalami stres." Kata Sang dokter sembari memutar layar komputernya menuju Andi.
__ADS_1
Perempuan itu pun menjelaskan keadaan rahim Aliana pada Andi hingga membuat Andi tidak mampu berkata apa-apa melihat calon bayinya yang ada di perut Liliana.
Maka setelah berbicara dengan dokter, Andi pun menghampiri Liliana dan melihat perempuan itu masih terbaring lemas dan masih memejamkan matanya, sementara Aliana duduk di atas ranjang perempuan itu sembari memegang tangan Liliana.
"Maaf, Anda harus mengurus administrasinya, karena pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap setelah administrasinya dibereskan," ucap seorang perawat yang datang menghampiri Andi sehingga Andi pun mengikuti perawat itu untuk mengurus administrasi Liliana.
Setelah menyelesaikan administrasi Liliana, maka Liliana pun segera dipindahkan ke ruang VVIP yang terletak agak jauh dari tempat orang tua Andi dirawat.
Setelah dalam ruangan, maka Andi membiarkan Aliana duduk di atas ranjang memegang tangan Liliyana, sementara dia duduk di kursi dengan tatapan tertuju pada perempuan yang terbaring di atas ranjang.
Setelannya, Andi kembali duduk di samping ranjang Liliana dan memegang tangan perempuan itu sembari terus memperhatikan Liliana yang tertidur lelap.
__ADS_1
Selang beberapa saat, Liliana akhirnya tersadar hingga anti dengan cepat berdiri menatap perempuan itu dan dia merasa lega saat ia melihat Liliana pun menetapnya.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Andi yang sangat cemas pada perempuan itu.
Liliana tidak mengatakan apapun, perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan hingga membuat Andi kemudian menundukkan kepalanya dan mencium bibir Liliana dengan lembut.
"Maaf, seharusnya tadi aku tidak meninggalkanmu. Maaf sudah membuatmu harus masuk rumah sakit seperti ini," ucap Andi sembari meminjamkan matanya menyatukan dahinya dengan dahi Liliana.
Liliana tidak mengatakan apapun, tetapi perempuan itu hanya memejamkan matanya dan Dia meneteskan air matanya memikirkan dirinya yang berada pada posisi serba Salah.
Andi yang melihat air mata perempuan itu langsung menyeka air mata Liliana sembari berkata, "sayang, katakan padaku jika ada yang membebani hatimu. Aku akan berusaha melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, jadi tolong jangan menyimpan rahasia dariku."
__ADS_1
Liliana yang mendengarkan itu membuka matanya dan menatap pria yang begitu khawatir padanya tetapi perempuan itu tidak mengatakan apapun dan dia hanya diam saja menahan rasa sakit pada perutnya.
Melihat Liliana yang tidak berkata-kata, maka Andi pun kembali lagi berbicara, katanya, "Dokter bilang kalau kau seperti ini karena terlalu banyak pikiran dan juga stres, jadi aku mohon padamu katakan padaku apa yang membebani pikiranmu supaya aku bisa membantumu untuk menyelesaikannya. Kau tidak inginkan anak kita sampai kenapa-kenapa?"