Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
128


__ADS_3

Setelah meninggalkan rumah Liliana, Michelle dan teman-temannya berdiri lama di depan gerbang rumah Liliana dengan perasaan masih tak percaya mereka.


"Aku benar-benar tak percaya mereka akan menikah, dan aku lebih tak percaya lagi dengan cara CEO kita berteleponan dengan Liliana."


"Kau benar, CEO kita yang selalu saja marah dan dingin dan galak dan menyebalkan malah begitu manja terhadap Liliana, padahal dulu mereka berdua adalah musuh. Entah bagaimana caranya mereka bisa jadi bucin seperti itu?!!"


"Hah,,, sekarang aku percaya kalau musuh benar-benar bisa menjadi pasangan, ini benar-benar menakutkan!!!"


Semua orang mengatakan pendapat mereka masing-masing, dan tentunya mereka masih dihantui rasa tak percaya mereka bahwa kedua orang itu benar-benar menikah.


Lagi kebucinan yang ditunjukkan kedua orang itu membuat mereka tidak bisa lagi berpikir macam-macam bahwa pernikahan itu dipaksakan atau pernikahan itu karena ada sebuah alasan tersembunyi.


Semua orang perlu beberapa waktu untuk menerima informasi yang baru saja mereka dapatkan sebelum akhirnya mereka meninggalkan kediaman Liliana.


Sementara itu, Liliana yang tinggal di rumahnya kini sedang duduk bersama-sama dengan Aliana dan dia bersiap untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada gadis kecil itu, Sebab Dia tidak mau menikah sebelum dia mengatakan yang sebenarnya pada Aliana.

__ADS_1


"Kakak mau bicara apa?" Tanya Aliana yang kini sudah bosan menunggu kakaknya untuk berbicara, tetapi sedari tadi terus saja terdiam.


Padahal, kakaknya sendirilah yang berkata akan mengatakan sesuatu yang penting padanya, namun sekarang setelah mereka duduk bersama untuk berbicara, malah kakaknya tampak kesulitan untuk berbicara.


"Itu,, sebelum itu, kau janji tidak boleh marah padaku," ucap Liliana sembari mengangkat jari kelingkingnya untuk berjanji dengan gadis kecil yang ada di hadapannya.


"Ya!! Tentu saja tidak marah aku tidak pernah marah pada Kakakku tersayang!!!" Kata gadis kecil itu tanpa menunda-nunda langsung mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Liliana.


"Sekarang katakan, apa yang kakak mau katakan?" Tanya Aliana dengan mata yang berbinar-binar menatap Liliana, dia sama sekali tidak curiga bahwa akan ada hal buruk yang dikatakan oleh Liliana.


Ucapan kakaknya langsung membuat Aliana menyipitkan matanya, lalu gadis kecil itu semakin memperhatikan kakaknya dengan seksama sembari berkata, "Kenapa kita bukan kakak adik? Kakak anak ayah dan ibu, aku juga anak ayah dan ibu, jadi kenapa bukan kakak adik?"


Pertanyaan gadis kecil yang ada di hadapannya langsung membuat Liliana semakin berat untuk berbicara, dia pun mengangkat gadis kecil itu ke pangkuannya dan kembali mengaitkan jari kelingking mereka.


"Aku akan menjelaskannya, tapi kau harus janji, kau tidak boleh marah pada ku," kata Liliana kembali mempertegas agar gadis kecil itu tidak marah terhadapnya.

__ADS_1


"Ya!! Tentu saja tidak marah, aku kan menyayangi Kakak, sangat menyayangi kakak!!" Seru Aliana dengan serius.


Mendengar Aliana yang terus berbicara kakak apa adanya semakin membuat Liliana menjadi ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, Tetapi dia tidak bisa menunda terlalu lama, Kalau hari ini dia tidak bisa mengatakannya, Maka besok, lusa atau kapanpun pasti akan sama saja, dia tidak akan sanggup untuk mengatakannya.


Oleh sebab itu, Liliana bertekad untuk membicarakannya saat itu juga sehingga dia pun berkata, "jadi,,, Sebenarnya aku adalah ibumu. Ibu dan ayah yang selama ini kau panggil Ibu dan Ayah bukanlah orang tua mu, mereka adalah kakek dan nenekmu. Apa kau mengerti?"


Pertanyaan kakaknya langsung membuat Aliana menggelengkan kepalanya, dan dia sama sekali tidak mengerti mengapa Ayah dan Ibunya bisa menjadi kakek dan nenek nya?


"Jadi,, dulu akulah yang melahirkan mu, aku adalah ibumu, tapi karena saat itu ayahmu meninggal, maka Ibu--"


"Kenapa kakak yang melahirkan aku? Padahal kakak belum menikah!" Tegas Aliana.


Liliana kembali berkata, "Itu,, jadi seperti sekarang ini, aku dan Andi saling mencintaiku dan sekarang di dalam perutku ada seorang bayi, tapi saat aku mengandung mu, aku dan ayahmu belum menikah sampai kau lahir jadi--"


"Tidak!!! Itu tidak mungkin, kalau kakak yang melahirkanku, kenapa aku memanggil Ibu pada orang lain? Kenapa tidak memanggil Ibu pada kakak?!!" Tanya Aliana kini merasa kesal dengan pembicaraan mereka.

__ADS_1


Dia tidak mau mengerti dan tidak mau terima.


__ADS_2