
Keesokan harinya. Hari kelima Liliana di ibu kota.
Liliana yang terbangun di tempat tidur seorang pria dengan perasaan kosong langsung mengambil pakaiannya lalu berjalan ke kamar mandi untuk mandi.
Setelah selesai mandi, Liliana mencopot satu pakaian dari dalam lemari lalu menggunakan juga perhiasan yang ada di sana dan turun ke lantai bawah.
Ia melihat seorang pria yang sedang menata makanan di atas meja makan dengan pakaian pria itu iyalah setelan untuk pergi ke kantor.
Liliana tidak mengatakan apapun, dia hanya duduk dengan tenang lalu dia mulai makan dengan perasaan hampa Karena dia sudah merasa bahwa dirinya tidak berguna lagi dan apapun yang berhubungan dengan Andi tidak akan pernah bisa ia tolak.
"Nanti setelah jam pulang kantor aku ada pertemuan dengan seseorang, Jadi kau tidak perlu pulang ke tempat," ucap Andi langsunh diangguki oleh Liliana.
"Baik," jawab Liliana dengan suara yang tidak bersemangat sembari perempuan itu memakan makanannya dengan paksa.
__ADS_1
Andi yang melihat perempuan di depannya sudah sangat patuh kini tersenyum dan pria itu semakin menikmati makanannya lalu mereka meninggalkan apartemen dan turun ke ruang parkir.
Begitu Liliana berjalan ke mobilnya, ia dihentikan oleh Andi yang berkata, "naik ke mobilku."
Liliana yang mendengarkan itu hanya menganggukkan kepalanya lalu dia kemudian membuka pintu penumpang depan di mobil Andi dan duduk di sana sembari memasang sabuk pengamannya.
"Ahh, baru kemarin malam kita bersama-sama, tapi entah kenapa sekarang aku menginginkanmu lagi. Masih ada 20 menit sebelum jam masuk kantor, perjalanan ke kantor 10 menit bersama-sama dengan macetnya jadi 10 menitnya itu akan kita gunakan dengan efektif," ucap Andi sembari menyalakan mesin kendaraannya lalu melajukan mobilnya meninggalkan ruang parkir itu.
Liliana yang duduk di sana tidak menyatakan apapun, dan dengan wajah yang tampak tidak bersemangat perempuan itu menatap keluar jendela dengan pikiran kosong.
Sepanjang perjalanan selama 10 menit sampai di kantor, tangan Andi terus berada di paha Liliana dan meski Liliana merasakan basah di area pribadinya, namun dia tidak berkata apapun dan hanya duduk dengan pikiran kosong menatap keluar jendela.
"Di sini sepi, kemarilah," ucap Andi Setelah dia memarkir mobilnya di tempat yang tidak terjangkau CCTV.
__ADS_1
Liliana yang mendengarkan ucapan pria di sampingnya melepaskan sabuk pengamannya dan berpindah tempat duduk ke atas paha Andi.
Andi yang melihat itu tersenyum senang sembari mengulurkan tangannya menyapu leher dan wajah Liliyana, "aku senang karena sekarang kau mulai patuh padaku. Cium aku sayang, kita awali pagi ini dengan semangat," ucapkan langsung membuat Liliana menundukkan kepalanya lalu dia mencium bibir pria itu.
Andi yang merasakan itu merasa begitu puas, ia membalas ciuman Liliyana dan mengulurkan tangannya menyentuh tubuh Liliana dengan penuh semangat dan hasrat membara.
Nafas pria itu tersengal, tetapi berbeda dengan Liliana, dia tetap tenang dan mengikuti instruksi pria itu melakukan apapun yang diinginkan oleh Andi.
Selama 10 menit terus bersama-sama dengan pria itu, akhirnya Liliana terbebas juga dan perempuan itu cepat meninggalkan mobil dan memasuki perusahaan.
Begitu tiba di meja kerjanya, Liliana meletakkan tasnya dan mengambil sebuah plastik yang ada di dalam tas itu lalu pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian dalamnya.
Setelah selesai, Liliana kembali ke meja kerjanya dan dengan wajah yang datar perempuan itu menyalakan komputernya lalu mulai bekerja.
__ADS_1
Hari itu, beberapa kali Ia dipanggil ke dalam ruangan manajernya, Liliana tidak pernah melakukan perlawanan terhadap apapun yang diinginkan oleh Andi sehingga pada hari itu semua orang cukup merasa heran ketika melihat Liliana yang terus keluar dari ruangan Andi tidak menunjukkan gejala-gejala perempuan itu dimarahi oleh manajer mereka.
Saat mendekati jam pulang, Michelle yang tidak tahan untuk bertanya kemudian mendekati Liliana dan berkata, "Apakah manajer sudah memperlakukanmu dengan baik?"