
Liliana merasa begitu lelah merapikan gudang, tetapi ketika dia melihat bahwa belum separuh udang itu selesai dirapikan, maka Liana hanya bisa menerima nasib dengan memaksakan tenaganya mengangkat barang-barang dan merapikan barang-barang yang ada disana, serta membuat sortiran untuk setiap barang-barang yang ia susun di dalam gudang.
Sampai pada jam istirahat, Liliana terkejut ketika ada banyak orang yang masuk ke dalam ruangan yang ternyata ialah Angga dan rekan-rekan kerja yang lain.
"Makanlah," ucap Angga menyerahkan sekotak makanan pada Liliana sementara yang lainnya mengambil catatan dari tangan Liliana dan yang lain pula membantu Liliyana membereskan gudang.
"Kami akan mengambil alih pekerjaan karena masih ada satu jam lagi sebelum jam masuk kantor Jadi kau duduklah di sana dan isi tenagamu." Ucap Angga benar-benar membuat Liliana merasa begitu haru karena orang-orang di sana membantunya.
Padahal, dia belum mengenal semua orang yang ada di sana, tapi ternyata mereka semua datang membantunya dengan sukarela.
maka dengan mengganggukan kepalanya Liona akhirnya duduk dan Dia cepat-cepat menghabiskan makanannya sebelum membantu lagi orang-orang yang bekerja untuknya.
__ADS_1
Namun, ketika dia sedang mengambil sebuah barang yang seingatnya diletakkan di sebuah sudut, Liliana menghentikan langkahnya ketika dia mendengar dua orang yang sedang bergosip di balik rak yang ditempati oleh Liliana.
"Astaga,, Sebenarnya aku males sekali untuk mengerjakan ini, tapi kita tidak punya pilihan lain selain membantu perempuan itu!!!"
"Kau benar sekali, barang-barang ini sangat berat dan membuat tangan kita menjadi kasar karena harus mengangkatnya ke sana-sini. Seandainya manajer tidak memerintahkan kita untuk membantunya, maka aku tidak akan pernah datang kemari!!!"
"Hah,, sial!! Kau benar, kenapa manajer memerintahkan kita untuk membantunya?"
"Ahh kau benar, tapi untunglah hanya jam istirahat saja kita membantunya, besok setelah pulang kerja Ayo kita mampir ke salon kecantikan untuk merawat kulit kita yang sudah kasar ini."
"Hm, Itu ide yang sangat bagus."
__ADS_1
Liliana yang mendengar itu sekejap merasa begitu sedih dalam hatinya dan dia seperti balon yang dilayangkan ke atas udara untuk merasakan hembusan angin yang sepoi-sepoi, tetapi bukannya mendapatkan tiupan angin yang sepoi-sepoi malah mendapatkan angin topan yang membuatnya sampai meletus.
'Aku pikir mereka benar-benar datang untuk membantuku, karena mereka benar-benar tulus memperlakukanku. Tapi ternyata mereka melakukannya hanya karena disuruh oleh manajer, bukan disuruh, tetapi mereka diberi hukuman untuk merapikan gudang selama jam istirahat.' ucap Liliyana dalam hati sembari menghela nafas dan dia sudah tidak jadi lagi mendapatkan barang yang ada di dekat dengan kedua perempuan itu, sebab takutnya kedua perempuan itu akan mengetahui bahwa dia sudah mendengarkan percakapan keduanya.
Maka dengan perasaan gundanya, Liliana berusaha membereskan gudang sembari menahan air matanya yang hendak menetes sampai akhirnya jam istirahat telah selesai.
Semua orang yang tadinya datang membantu Liliana berpamit untuk pergi, dan Liliana tidak mencegah mereka sebab Dia sendiri tahu bahwa mereka juga melakukannya hanya karena dihukum, bukan untuk membantunya dengan tulus.
Namun setelah Semua orang pergi, Liliana langsung tersungkur di lantai dan dia menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang entah kenapa begitu sial.
"Hiks,, hiks,, hiks,, Kenapa takdir memperlakukanku seperti ini?! Hiks,, hiks,, hiks,," isak Liliana.
__ADS_1