
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Liliana yang saat itu sedang memainkan rubik pemberian perawat menoleh ke arah ponselnya yang berdering.
Dia langsung melepaskan rubik di tangannya saat melihat penelpon ialah Andi sehingga perempuan itu dengan cepat mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo," jawab Liliana pada orang di seberang telepon.
"Maaf, sepertinya aku lebih lama ada di sini," kata Andi sembari menoleh ke dalam kamar ayahnya di mana Dia melihat 3 orang yang ada di dalam sana masih berbincang-bincang sehingga pria itu merasa aman untuk terus berteleponan dengan Liliana.
"Jangan khawatir, di sini ada perawat yang menjagaku, aku juga sedang melakukan sesuatu yang tidak membosankan." Jawab Liliana sembari mengambil rubik yang tadi ia lepaskan lalu perempuan itu menatap rubik yang warnanya amburadul karena belum disusun sesuai dengan tempatnya.
"Memangnya Apa yang kau lakukan?" Tanya Andi.
__ADS_1
"Perawat memberiku rubik, jadi aku mencoba menyelesaikannya, namun ini sangat sulit," jawab Liliana sembari menekan tombol speaker pada ponsel itu lalu dia meletakkannya di meja sementara kedua tangannya ia gunakan untuk memutar-mutar balok pada rubik yang ada di tangannya.
"Kau sedang memainkan rubik? Mau ku bantu untuk menyelesaikannya?" Ucap Andi dari seberang telepon langsung membuat Liliana mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu Bisa membantuku menyelesaikan permainan rubik ini kalau kau tidak melihatnya?" Tanya Liliana sembari tertawa mengejek pada pria di seberang telepon.
Mendengar tawa Liliana, maka Andi tidak bisa menahan senyumnya Sebab Dia senang setiap kali dia bisa membuat perempuan itu tertawa, dan selama beberapa terakhir ini perempuan itu memang jadi lebih sering tertawa, tidak seperti hari-hari sebelumnya saat perempuan itu seperti mayat hidup yang tidak bisa membuat ekspresi di wajahnya.
"Tentu saja aku bisa melakukannya, aku akan mengatakan padamu ke mana arah rubiknya diputar dan kau yang melakukannya di situ," jawab Andi tanpa melepaskan senyuman yang ada di wajahnya bahkan, tangan Andi yang tidak memegang ponsel menjadi salah tingkah membuat bulat-bulatan pada pagar pembatas tempat ia berdiri.
"Bagaimana kalau kita mencobanya?" Ucap Andi dari seberang telepon benar-benar membuat Liliana terkikik.
Meski begitu, perempuan itu tetap berbicara pada Andi, katanya, "kalau begitu cobalah."
"Bagus, sekarang beritahu aku, rubik Apa yang kau punyai 3 * 3 atau 4 * 4?" Tanya Andi dari seberang telepon.
__ADS_1
"Ini rubik 3 * 3," jawab Liliana.
"Bagus, sekarang pilih salah satu warna yang bisa menjadi dasar nya," kata Andi dari seberang telepon langsung membuat Liliana melihat-lihat warna rubik yang ada di sana sebelum dia menentukan pilihannya.
"Putih," jawab Liliana.
"Bagus, sekarang cari kotak rubik berwarna putih yang terletak di bagian tengah," ucap Andi langsung membuat Liliana mencari kotak berwarna putih yang terletak di bagian tengah pada permukaan rubik miliknya.
"Aku menemukannya," jawab Liliana.
Sang perawat yang duduk di sofa membaca majalah menoleh ke arah Liliana dan perempuan itu mengerutkan keningnya saat ia melihat Liliana sedang berusaha menyelesaikan permainan rubiknya dibantu oleh seorang pria dari seberang telepon.
Maka secara diam-diam, perawat itu pun mengambil ponselnya lalu dia main video Liliana yang sibuk berbicara dengan Andi di seberang telepon dan mengacak-ngacak rubik di tangannya.
'Mereka pasangan yang sangat kompak,' ucap perawat tersebut dalam hati sembari terus melihat Liliana yang sesekali tertawa terbahak-bahak namun fokusnya juga masih tertuju pada rubik yang ada di tangannya.
__ADS_1