
Meliana, "Jadi tidak ada salahnya kalau aku menyentuh apapun yang kau miliki!!! Juga, kalau kau berani menyembunyikan perempuan di belakangku, maka Jangan harap aku akan membiarkan perempuan itu, aku akan membuatnya--"
"Diam!!" Bentak Andi segera meletakkan pacar baik di tangannya lalu pria itu mendorong Meliana keluar dari apartemennya.
Saat melewati tempat meletakkan sepatu, Meliana memperhatikan rak paling bawah dan melihat bahwa ada sepatu perempuan di sana, namun tadinya dia tidak menyadarinya karena dia masuk bersama-sama dengan ibu mertuanya sehingga tidak sempat memeriksanya.
"Lepas!!!" Teriak Meliana berusaha menghentikan pria yang mendorongnya, tetapi karena kekuatannya tidak jauh lebih kuat daripada Andi, maka dia dengan cepat didorong dari apartemen Andi hingga membuat perempuan itu menjadi geram.
Brak!!
Pintu apartemen ditutup dengan keras membuat Meliana menghentakkan sebelah kakinya dengan marah.
__ADS_1
"Dasar!!" Meliana berteriak dengan kesal sembari mengambil ponsel dari tas miliknya lalu menghubungi temannya yang bekerja di pusat keamanan apartemen tersebut.
"Akhirnya kau menelponku, aku sudah menyelidiki CCTV sepanjang waktu, dan menemukan bahwa ternyata ada perempuan yang keluar masuk apartemen tunangan mukamah tetapi perempuan itu tidak tertangkap CCTV yang kita periksa sebab dia datang lebih lambat dari jam kerja yang kita periksa, dan pergi lebih lambat juga dari jam masuk kantor yang kita periksa." Ucap sang pria dari seberang telepon benar-benar membuat Meliana mengepal kuat tangannya dan dia sangat marah dengan informasi yang baru saja ia terima.
Meliana telah diam beberapa saat sampai akhirnya perempuan itu kembali lagi bertanya, katanya, "itu,, apa hari ini dia juga datang?"
"Ya, dia memasuki apartemen tunanganmu beberapa saat sebelum kalian tiba, dan sekarang kau berdiri di depan apartemen tunanganmu bukan? Sampai sekarang dia belum keluar dari sana," ucap sang pria di seberang telepon yang mana saat itu dia sedang melihat CCTV yang menunjukkan Meliana yang terbengong di depan pintu apartemen Andi.
'Bagaimana bisa??' ucapan perempuan itu dalam hati dengan nafas tersengal serta tangan gemetar memegangi ponselnya yang masih terus diletakkan di telinganya.
"Kau baik-baik saja kan?" Tanya sang pria dari seberang telepon ketika dari layar monitornya Dia melihat bahwa Meliana sudah cukup lama berdiri diam memandangi pintu apartemen tunangannya.
__ADS_1
"Ahh,, ya, aku akan menemuimu sekarang," ucap Meliana lalu mematikan panggilan teleponnya dan dia hendak menemui pria itu demi memastikan wajah perempuan yang datang dan pergi dari apartemen tunangannya.
Sebab perempuan itu tahu bahwa jika dia memaksa Andi untuk membuka apartemennya, maka itu hanyalah perbuatan yang sia-sia karena pria itu tidak akan pernah melakukannya sebab selama ini pun pria itu tak pernah memperdulikannya.
Pada saat yang bersamaan Liliana yang duduk di dalam kamar mandi kini merasa semakin cemas sudah sebab sudah cukup lama dia di sana namun pintu kamar mandi belum dibuka.
Tetapi perempuan itu bernafas lega ketika pintu kamar mandi tiba-tiba saja terbuka memperlihatkan Andi yang kemudian melemparkan senyum tipis padanya sembari berkata, "Kau boleh keluar sekarang."
Liliana yang mendengarkan itu menganggukan kepalanya dengan heran sebab biasanya pria itu akan langsung menyerangnya, tetapi kali ini tampak pria itu menahan diri namun, dia tidak mengatakan apapun dan hanya keluar dari kamar mandi lalu dia melihat pria itu masuk ke ruang ganti.
Liliana sendiri pun mengambil paper bag miliknya yang telah diratakan Andi di atas meja lalu dia mengambil pakaian dari dalamnya dan memeriksanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Andi kembali menghampiri perempuan itu, "Apa kau cemburu?"