
Aliana berkata, "Kakakku benar-benar akan menikah, dia akan menikah dengan Kakak Andi, manajer Kakak di kantor!!"
🪂🪂🪂
"Itu,,," Liliana menggigit bibir bawahnya, sementara Aliana yang menatap kakaknya tidak bisa berkata apalagi kini menyadari bahwa dia mungkin melakukan sebuah kesalahan sehingga gadis kecil itu mendekati Liliana.
"Kakak, Apakah aku salah mengatakan sesuatu?" Tanya Aliana dengan wajah yang penuh penyesalan menatap kakaknya.
Liliana yang melihat wajah sedih Aliana langsung mengangkat Aliana ke pangkuannya lalu dia memeluk gadis kecil itu.
"Kau tidak melakukan kesalahan, sama sekali tidak," ucap Liliana.
"Kalau begitu, apa yang dikatakan oleh Aliana itu benar?" Tanya Michelle dengan mata yang meniti Aliana.
"Itu,, ya, itu benar. Minggu depan kami akan menikah, tapi pernikahannya dilangsungkan secara tertutup, kami tidak mengundang siapapun kecuali pihak keluarga saja," ucap Liliana benar-benar membuat semua orang tak bisa lagi berkata apa-apa.
Semuanya terdiam di tempat mereka dan dalam hati mereka masing-masing tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar, bahwa Liliana yang selama ini disiksa oleh Andi malah akan menikah dengan Andi?
Sementara Liliana yang melihat semua orang terdiam, perempuan itu pun berkata, "Kalian pasti sangat terkejut, tapi itulah kenyataannya. Ada banyak hal yang sudah terjadi, sehingga kami memutuskan untuk menikah."
__ADS_1
"Apa kau hamil?" Tanya salah seorang perempuan yang duduk paling dekat dengan Liliana langsung membuat salah seorang temannya menutup mulut perempuan itu.
"Itu,, Jangan dengarka kata-kata nya, dia memang sering mengatakan hal-hal yang aneh," kata perempuan yang membekap mulut perempuan yang baru saja menanyakan tentang kehamilan Liliana.
Tetapi Liliana menganggukkan kepalanya, "Tidak apa-apa kok, itu memang kenyataannya, Aku sedang hamil." Ucap Liliana kembali membuat semua orang terdiam.
Sekarang dalam pikiran mereka Ada bermacam-macam hal, mulai dari alasan perempuan itu hamil dan bagaimana Andi bisa memaksa perempuan itu untuk hamil.
Meski begitu, tidak ada satupun diantara mereka yang berani berbicara hingga keheningan melanda tempat itu.
Keheningan baru terpecahkan ketika Aliana berkata, "kak, bolehkah aku pergi menelpon kak Andi? Aku meninggalkan sesuatu di rumahnya."
"Ahh baiklah, pergilah," ucap Liliana membiarkan Aliana turun dari pangkuannya.
Semua orang mengganggukan kepala mereka lalu mengambil minuman di meja dan menunggunya.
Setelah selesai minum, Michel langsung Liliana sambil berkata, "kalau begitu selamat untuk pernikahanmu dengan CEO semoga resepsinya berjalan dengan lancar dan kalian boleh langsung sampai maut memisahkan."
Begitu selesai berbicara, Michel langsung disenggol oleh temannya yang duduk di sampingnya, "kau ini,, mungkin saja ini pernikahan yang dipaksakan, mungkin saja Liliana jadi sedih mendengarmu berkata seperti itu," kata perempuan itu mengingatkan Michelle.
__ADS_1
Liliana yang bisa mendengar ucapan perempuan itu langsung tersenyum, lalu dia pun berkata, "kami menikah karena suka sama suka."
Ucapan Liliana benar-benar mengejutkan semua orang hingga mereka menatap ke arah Liliana dan Liliana pun lanjut berbicara, katanya, "awalnya hubungan kami memang tidak terlalu baik, tetapi setelah beberapa waktu kami menyadari bahwa kami saling mencintai dan akulah yang mengajak dia menikah terlebih dahulu."
"Apa?!!" Michelle berbicara dengan nada suara tak percayanya.
Liliana tersenyum sembari menganggukkan kepalanya berbarengan dengan Aliana yang berlari dari lantai atas membawa sebuah ponsel di tangannya.
"Kak andi mau berbicara dengan kakak," ucap Aliana langsung membuat semua orang menatap ke gadis kecil itu.
Aliana pun dengan cepat menghampiri Liliana dan menyerahkan ponselnya pada Liliana sembari naik ke pangkuan Liliana agar dia juga bisa melihat layar ponselnya.
Liliana yang melihat Andi di layar ponselnya langsung tersenyum, lalu perempuan itu berkata, "Apakah ibu belum memberitahumu kalau kita tidak boleh bertemu sampai acara pernikahannya?"
"Sudah, tapi sekarang ini kan kita tidak bertemu, hanya bertatap muka lewat ponsel saja. Bagaimanapun aku sangat merindukanmu, jadi aku tidak tahan untuk meneleponmu, dari tadi juga Aku menelpon ke nomormu tapi kau tidak mengangkatnya jadi aku menghubungi Aliana. Oya, Apa kau sudah makan malam?" Tanya Andi dari seberang telepon.
"Ah, ya, kami makan malam lebih awal, tapi,," Liliana merasa ingat untuk berbicara karena saat itu semua orang mendengarkan percakapan mereka.
"Tapi kenapa? Apa kau mau melarangku juga untuk meneleponmu sekarang? Sudah tidak bisa bertemu, dan sekarang tidak bisa berteleponan, aku akan mati karena merindukanmu!!!" Tegas Andi dari seberang telepon.
__ADS_1
Semua yang mendengarkan itu langsung terdiam di tempat mereka, tidak ada yang menyangka bahwa Andi yang biasanya galak dan berbicara singkat-singkat sekarang malah berbicara panjang lebar terhadap Liliana dan bahkan bisa mendengar suara manja pria itu terhadap Liliana.
Sangat-sangat tidak masuk akal!!!