Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
82


__ADS_3

"hah....."


Andi duduk di kursi sembari memperhatikan ibunya yang duduk di depannya, perempuan itu sadari tadi menghela nafas dengan berat lalu kembali terbengong dan menghela nafas lagi.


Pria itu jelas tahu apa yang membuat ibunya terlihat seperti orang bodoh, Tetapi dia tidak mengatakan apapun dan hanya menunggu ibunya menenangkan dirinya.


"Hah,,, Sekarang aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, hah,,,, Kenapa cobaan keluarga kita seperti ini?!!" Ucap Zaskia yang tidak mengerti mengapa keluarga mereka diberikan cobaan yang begitu berat.


Setelah keluarga mereka tidak bisa mendapatkan menantu seperti Meliani, sekarang pun keluarga mereka tidak akan bisa mendapatkan seorang penerus, bahkan seorang perempuan pun tidak akan mau menikah dengan Putra mereka jika mengetahui bahwa pria itu memiliki kelainan.


Andi yang memperhatikan ibunya akhirnya tidak bisa menahan dirinya untuk berbicara, sehingga pria itu pun berpindah ke samping ibunya lalu Dia memegang tangan ibunya.

__ADS_1


"Ibu harus kuat, ibu harus tenang, segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya," ucap Andi berusaha menenangkan perempuan itu.


"Hah,, segala sesuatu ada jalan keluarnya, Tapi tidak untuk masalah keluarga kita. Sekarang Ibu tidak bisa memikirkan masa-masa tua Ibu harus kesepian tanpa seorang cucu. Bahkan cucu, menantu pun Ibu tidak layak memilikinya!!!" Ucap perempuan itu sembari menghela nafas dengan berat dan dia benar-benar tidak habis pikir dengan keadaan keluarga mereka.


Melihat ibunya tidak bisa dihibur selain mengucapkan kejujuran, maka Andi hanya diam saja, sebab pria itu juga tidak ingin mengatakan tentang keadaan Liliana.


Dia tidak mau bertindak tanpa adanya persetujuan dari Liliana sebab pria itu sudah tidak ingin lagi menyakiti hati perempuan itu sehingga apapun yang ia lakukan, Dia berharap itu semua sesuai dengan keinginan Liliana dan akan membahagiakan perempuan itu.


"Aku harus mengangkat telepon ini, Ibu tunggulah di sini sebentar," ucap Andi sembari berjalan meninggalkan ibunya lalu mengangkat panggilan telepon itu.


"Ya?" Jawab Andi pada pria di seberang telepon.

__ADS_1


"Bagaimana kabar ayahmu?" Tanya pria di seberang telepon yang bernama Chandra.


"Dia masih ada di IGD, jadi aku harus merepotkan anda untuk melihat keadaan perusahaan, karena saat ini ayah saya benar-benar tidak bisa ditemui," ucap Andi yang jelas tahu bahwa perusahaan mereka juga membutuhkan seorang pemimpin, Tetapi dia berada dalam keadaan yang serba salah.


Ayahnya sedang dalam keadaan kritis, sementara ibunya berada dalam keadaan yang tidak baik pula, belum lagi Liliana, Ketiga orang itu membutuhkan perhatian darinya sehingga dia sendiri pun kesusahan untuk membagi perhatian tersebut apalagi kalau dia masih harus mengurusi masalah perusahaan.


"Baiklah, tapi ada beberapa berkas yang perlu tanda tangan Tuan besar atau tuan muda,, saya akan mengirim seseorang untuk datang ke rumah sakit mendapatkan tanda tangan tuan muda," ucap sang sekretaris.


"Baiklah," jawab Andi kemudian menutup panggilan telepon itu lalu dia berbalik untuk menghampiri ibunya ketika dia melihat ibunya sudah berdiri di belakangnya.


"Kau pergilah, urus urusan perusahaan, biar ibu yang menunggui ayahmu di sini." Ucap Zaskia yang tidak mau jika keadaan perusahaan mereka sampai terganggu karena masalah yang sedang mereka hadapi.

__ADS_1


Tetapi Andi dengan cepat menggelengkan kepalanya, "kondisi Ibu juga tidak baik-baik saja, Jadi tidak mungkin aku mementingkan masalah perusahaan ketimbang menjaga Ibu di sini. Ada sekretaris Ayah yang menangani semuanya, jadi tidak perlu khawatir apapun," ucap Andi.


__ADS_2