
Setelah di UGD, Hakim dipindahkan ke IGD untuk mendapatkan perawatan intensif, sementara semua keluarganya menunggu di ruangan tunggu di depan IGD dengan Zaskia yang terus menangis dipelukan putranya.
Sementara Meliani dengan kedua orang tuanya, mereka juga ada di sana namun mereka tidak berbuat banyak selain diam di tempat duduk mereka mendengarkan Zaskia yang terus menangis dari waktu ke waktu.
Setelah beberapa jam terus berada di depan IGD, maka Akhirnya salah seorang dokter muda keluar dari IGD hingga membuat semua orang berdiri menatap dokter tersebut.
"Keluarga Tuan Hakim?" Ucap dokter tersebut langsung membuat Zaskia dan semua orang yang ada di sana menghampiri dokter itu untuk mendengarkan penjelasan dari sang dokter.
"Bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Zaskia sembari menjaga air mata yang terus berderai di pipinya.
"Kami masih melakukan pengamatan yang intensif terhadapnya. Tetapi kalian harus bersiap untuk kabar terburuknya. Tolong juga segera selesaikan administrasinya," ucap dokter sebut langsung membuat Zaskia semakin runtuh di pelukan putranya.
"Hiks,, hiks,, suamiku!!! Hiks,, hiks,," Zaskia sebelum perempuan itu jatuh pingsan.
__ADS_1
Melihat ibunya yang pingsan, maka Andi segera membawa perempuan itu untuk mendapatkan satu ruangan di rumah sakit tersebut, lalu dia membaringkan perempuan tersebut diranjang rumah sakit dan membiarkan Meliani menemani perempuan itu.
Sementara Andi, Dia segera pergi mengurus administrasi orang tuanya dengan perasaan berkecamuk.
Pria itu memikirkan perempuan yang ia tinggalkan di hotel, dia cemas pada keadaan perempuan itu apalagi perempuan itu sedang dalam masa-masa sulitnya mengandung.
Namun dia juga tidak bisa meninggalkan ayah dan ibunya yang sedang ada di rumah sakit sehingga dengan pikiran yang terbagi-bagi pria itu berdiri di depan tempat mengurus administrasi pasien rumah sakit.
Maka jantung pria itu serasa berhenti berdegup beberapa saat saat dia menekan panggilan telepon itu dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.
"Apakah kakakmu baik-baik saja?" Tanya Andi pada gadis di seberang telepon sebab tadinya dia berkata pada gadis itu untuk menelponnya jika ada sesuatu yang terjadi, sehingga dia berpikir bahwa gadis kecil itu menelponnya karena ada sesuatu yang terjadi pada Liliana.
"Kakak baik-baik saja, Dia barusan muntah tapi dia sudah tidur, tapi,, Apakah kak Andi tidak akan kembali ke sini? Aku takut kalau nanti Kakakku muntah lagi," ucap gadis kecil dari seberang telepon dengan suara yang begitu cemasnya hingga membuat Andi menggertakan giginya dan meramas rambutnya.
__ADS_1
"Itu,, Kakak akan kembali, sebentar lagi kakak akan ke situ, jadi kau jaga Liliana sebentar sampai Kakak kembali, kau mengerti?!" Ucap Andi pada gadis kecil di seberang telepon.
"I, iya, tapi jam berapa kak Andi datang kemari?" Tanya Aliana masih dengan suara yang begitu cemas.
Pertanyaan itu langsung membuat Andi melihat jam tangannya dan saat ia melihat bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 maka dia menghela nafas dan merasa bahwa mungkin gadis kecil itu akan segera tertidur.
"Sebentar lagi, kau tunggu sebentar lagi, tidak cukup satu jam, kakak pasti sudah ada di situ," ucap Andi yang meski saat itu dia kebingungan harus melakukan apa, sebab ayahnya sedang ada di IGD dan ibunya sedang pingsan dan berada di ru salah satu ruang rawat inap di Rumah sakit, sementara dia juga tidak bisa mengabaikan keadaan Liliana yang sedang mengandung anaknya.
"Baik, aku akan menunggu kak Andi," kata Aliana dari seberang telepon diikuti nada panggilan telepon yang terputuskan.
Tut tut tut....
Mendengar nada sambungan telepon yang diputuskan itu, maka Andi menurunkan teleponnya dari telinganya dan pria itu pun memejamkan matanya untuk berpikir.
__ADS_1