Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
61


__ADS_3

"Kenapa kau ada di sini? Apakah Kau juga datang ke sini karena merindukan aku?" Tanya Andi dengan pelukan yang begitu erat hingga membuat Liliana merasa sesak.


💢💢💢


Meski merasa sesak, tetapi Liliana tidak mengatakan apapun dan dia hanya bisa merasakan bahwa pria itu sedang menghadapi sebuah masalah yang berat sehingga dia tampak begitu terpuruk.


Ting!


Sampai saat peringatan lift berhenti di lantai tujuan mereka, barulah kedua orang itu melepaskan pelukan mereka lalu Liliana mengantar Andi ke apartemen pria itu.


"Aku harus pergi sekarang," ucap Liliana ketika Andi telah duduk di ruang tamu.


Tetapi Andi, dia malah menarik perempuan itu arahnya dan memeluk Liliana sembari berkata, "kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau ada di sini?"


"Itu,, Aku meninggalkan sesuatu di apartemen mu, jadi aku datang untuk mengambilnya," ucap Liliana.


"Aahh,," kata Andi dengan suara yang mengandung kekecewaan hingga membuat Liliana merasa begitu aneh pada pria itu.

__ADS_1


"Kau bilang hari ini aku tidak perlu menemani mu di apartemenmu, jadi Sudah bolehkah aku pergi sekarang?" Tanya Liliana yang merasa begitu resah karena dia berharap malam itu bisa tidur bersama-sama dengan gadis kecilnya di rumah.


Namun Andi tidak mau mengijinkan perempuan itu pergi, sehingga Andi mempererat pelukannya pada Liliana.


"Tidak, Tolong temani aku malam ini," ucap Andi sembari memejamkan matanya menikmati kebersamaannya dengan Liliana.


Sementara Liliana, perempuan itu lagi-lagi dibuat terkejut oleh Andi, karena baru saja pria itu berkata tolong, padahal biasanya pria itu hanya memerintah saja.


Tetapi karena tidak ingin mengundang kemarahan Andi, maka Liliana hanya patuh saja pada pria itu dengan berkata, "Kalau begitu, biarkan aku membuat makan malam."


"Kau belum makan malam?" Tanya Andi.


"Aku akan membuatkan mu makan malam," ucap Andi tanpa menunggu jawaban dari Liliana lalu pria itu kemudian pergi menuju dapur dengan Liliana yang menatap punggung pria itu dengan rasa heran yang tinggi.


Perempuan itu penasaran dengan apa yang terjadi pada pria itu, tentang apa yang dibicarakan oleh pria itu dengan keluarganya sehingga membuatnya terlihat sangat berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.


Namun karena merasa bahwa memikirkannya saja tidak akan menyelesaikan masalah, maka Liliana pun ikut berdiri menyusul pria itu ke dapur.

__ADS_1


"Biar aku membantumu," ucap Liliana.


"Hm, aku butuh seledri," ucap Andi langsung membuat Liliana kemudian membuka kulkas lalu perempuan itu mengambil daun seledri dan membersihkannya.


Setelah itu, Liliana memotong-motong daun seledri itu dengan sesekali menoleh ke arah Andi yang tampak sangat fokus dengan pekerjaannya di dapur.


'Haruskah aku menanyakannya? Tapi kenapa aku harus menanyakannya?' ucap Liliana dalam hati yang merasa begitu dilema untuk menanyakan masalah pria itu atau hanya membiarkannya saja.


Tetapi setelah lama keheningan, Liliana terkejut ketika tiba-tiba saja Andi mulai berbicara, katanya, "Bagaimana menurutmu dengan pernikahan?"


Pertanyaan yang secara tiba-tiba itu langsung membuat Liliana menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang pisau lalu dia menatap ke arah Andi yang juga menatapnya dengan mata redupnya.


Liliana terdiam beberapa detik memperhatikan ekspresi pria itu, tampaknya pria itu sedang berada dalam masalah besar yang menyangkut pernikahan.


"Itu,, Aku tidak berpikir untuk menikah," ucap Liliana sembari kembali menundukkan kepalanya memotong-motong daun seledri yang ada di tangannya.


Andi yang melihat perempuan itu pun tidak mengatakan apapun, namun dalam hati pria itu dia merasa kecewa dengan jawaban Liliana hingga Dia hanya bisa memikirkan masalah itu dalam hati.

__ADS_1


Tidak ada lagi percakapan antara kedua orang yang sedang memasak di dapur, hanya ada suara alat-alat memasak yang berbunyi.


__ADS_2