Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
65


__ADS_3

Sembari menunggu dokter tiba di apartemen, maka Andi terus duduk di samping Liliana yang tidur, pria itu memegang tangan perempuan itu dengan lembut.


"Apakah masih tidak nyaman?" Tanya Andi sembari memperhatikan wajah Liliana yang tampak pucat dan perempuan itu membuka sedikit matanya menatap ke arah dinding.


"Hm,," jawab Liliana dengan singkat sembari mengatur nafasnya agar merasa lebih nyaman.


"Apakah ada sesuatu yang kau inginkan? Apa yang bisa kau lakukan supaya kau tidak kesakitan?" Tanya Andi langsung membuat Liliana menatap pria itu, dan sekali lagi bahwa Liliana tidak mengerti dengan sikap pria itu.


Tiba-tiba saja sikap pria itu berubah, dan Liliana tidak mengerti mengapa perubahan sikap pria itu menjadi sangat baik terhadapnya ketika pria itu sudah memutuskan untuk menikah dengan tunangannya.


Tetapi karena begitu malas untuk berbicara, maka Liliana hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan lalu perempuan itu memejamkan matanya sebagai pertanda bahwa dia tidak ingin lagi diajak berbicara.


Andi yang melihat sikap Liliana menjadi semakin khawatir pada perempuan itu sehingga dia pun mengambil ponsel miliknya lalu mengirim pesan pada dokter.


*Cepatlah!* Ketik pria itu pada pesan yang ia kirimkan pada Dokter Nia.

__ADS_1


Setelah 10 menit menunggu dalam rasa khawatir, akhirnya bel apartemen berbunyi sehingga Andi dengan perlahan meletakkan tangan Liliana lalu pria itu pun meninggalkan Liliana.


Andi pergi membukakan pintu untuk Dokter Nia lalu mengantar dokternya ke lantai atas untuk memeriksa Liliana.


Saat itu, dokter Nia tidak mengatakan apapun lagi, dan tidak mempertanyakan tentang perempuan itu lagi karena dia sudah mengetahui tentang Liliana sehingga dia hanya mengeluarkan alat-alat medisnya lalu memeriksa Liliana.


"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Dokter Nia pada Andi.


"Setelah minum ramuan herbal, dia langsung muntah-muntah, tetapi tadi malam dia memang sangat lambat makan, jadi aku rasa maag nya kambuh." Jawab Andi sembari memegang salah satu tangan Liana dan tatapan pria itu tak pernah lepas dari wajah Liliana yang tampak pucat dan lemas.


"Tidak, Ini pertama kalinya," jawab Andi.


Liliana yang mendengarkan percakapan kedua orang itu akhirnya membuka matanya, lalu perempuan itu menatap Dokter Nia sembari berbicara dengan suara yang begitu pelan, katanya, "tolong periksa saya dokter."


Liliana merasa begitu cemas bahwa gejala yang ia alami mungkin saja gejala kehamilan, sebab ketika ia hamil anak pertamanya, dia juga mengalami hal yang sama, tiba-tiba saja muntah lalu badannya menjadi sangat lemas.

__ADS_1


Dokter Nia mengganggukan kepalanya, lalu perempuan itu memeriksa dengan seksama sampai akhirnya dia membuka salah satu tas kecil yang ia bawa.


"Mungkin saja kau sedang hamil, mari lakukan tes kehamilan," ucap sang dokter sembari mengambil alat tes kehamilan dari tas kecil miliknya.


Andi yang mendengarkan ucapan dokter tertegun di tempatnya, dan dia benar-benar tidak berpikir sampai ke situ, namun saat ini ketika dia mendengar dugaan dokter bahwa perempuan itu sedang hamil Kenapa melonjak bersemangat.


Sementara Liliana yang mendengarkan ucapan dokter, dia benar-benar tertegun di tempatnya dan sesuatu yang dikatakan oleh dokter itu benar-benar di luar harapannya.


"Bangunlah, aku akan membantumu," ucap Andi membantu Liliana dengan Liliana yang mengikuti pria itu meski saat itu juga, pikirannya masih berada dalam keadaan kosong.


Andi mengambil alat tes kehamilan dari tangan dokter Mia lalu membantu Liliana masuk ke kamar mandi.


Begitu masuk ke kamar mandi dan pintu kamar mandi tertutup, Liliana kemudian berkata, "itu,,, aku,,, kalau aku hamil--"


"Jangan banyak bicara, itu akan menguras tenagamu," ucap Andi sembari membuka penutup proses dan membiarkan perempuan itu duduk di kloset untuk mengeluarkan air kencingnya.

__ADS_1


__ADS_2