
Ayana ke luar dari pintu kamar mandi setelah membersihkan badan,ia memakai baju dress yang tampak cantik berwarna hitam,
Kulitnya yang yang sangat putih tampak cerah bersinar, rambutnya yang lurus panjang membuatnya terlihat cantik sempurna di mata suaminya.
Perutnya yang sedang mengandung sedikit terlihat kali ini,
Rey yang semula tiduran langsung duduk di tepi ranjang menatap istrinya,ia langsung mencoba berdiri menghampiri Ayana,
"Brakkk..."Alat infusnya jatuh kembali ke lantai,
"Rey...apa yang kau lakukan?"
Ayana kaget menghampiri suaminya yang sudah berdiri dari ranjangnya
"Kau belum sembuh... kenapa kamu turun Rey?"
Ayana yang tampak panik dan akan mengambil alat infusnya.
"Tidak usah Ayana,aku sudah sembuh, lihatlah...!"
"Srekk..."Rey, langsung mencopot alat infus yang ada tanganya, membuat Ayana meringis melihat tingkahnya ini.
Apa dia sudah gila?...
"Rey apa yang kamu lakukan?,kamu belum sembuh kan?"Ayana merasa khawatir sendiri.
"Aku sudah sembuh Ayana,aku tidak ingin sakit terus,Aku ingin keluar sebentar menghirup udara segar ayo temani aku....!"
Rey menggandeng tangan Ayana keluar dari kamarnya.
Mereka berdua keluar menuju balkon untuk melihat pemandangan kota yang sangat indah di situ, lapisan balkon yang di lapisi sekeliling kaca tampak sangat indah.
Sebuah meja yang di penuhi dengan beberapa menu makanan terlihat rapi tertata, terdapat dua kursi di situ.
Hiasan bunga dan pot besar terdapat di pojokan melengkapi keindahan balkon ini.
"Wah indah sekali pemandangannya!"
Ayana merasa sangat takjub dengan keindahan sekitar Apartemen ini dari lantai atas.
"Kau suka...,?"
"Iyah sangat suka,ini sangat indah..."Sahut Ayana yang tidak berkedip menatap sekeliling pemandangan kota sekitar.
Mendekati meja makan yang sudah tertata itu,Rey masih menggenggam tangan Ayana mendekati meja itu.
"Siapa yang mau makan di sini?"Tanya Ayana yang melihat semua keindahan ini.
"Kita..."Tanya Rey sambil tersenyum dan menyuruh Ayana duduk.
"Kau yang merencanakan semua ini?"
"Iya tentu saja untuk mu!"
"Kau sedang sakit,tapi kau malah memikirkan hal seperti ini Rey, seharusnya kau itu lebih me..."
Telunjuk Rey yang sudah membungkam mulut Ayana dengan baik.
__ADS_1
"Hust..., Sudah berapa kali aku bilang,aku sudah sembuh Ayana,aku hanya ingin makan bersamamu saja...!"
Baru kali ini aku akan makan di tempat yang sangat indah seperti ini,
aku benar-benar tidak menyangka Rey akan terus berusaha untuk merebut hatiku...
"Kau kenapa terdiam Ayana?,kau tidak suka dengan semua ini...?"
"e' tidak papa, tempat ini sangatlah bagus!".
Kenapa dia melakukan semua ini di saat keadaannya belum pulih,
kenapa dia tidak memikirkan dirinya sendiri,ia belum sembuh total kan... kenapa dia malah merencanakan semua ini dan memikirkan diriku,...
"Makanlah Ayana aku perhatikan kau belum makan sejak tadi!"
Sepertinya Rey mulai bersikap lebih memperhatikan istrinya kali ini, istri yang paling ia sayangi dan terlebih lagi ia sedang mengandung anaknya.
Bahkan rasa luka yang ia rasakan karena Felly hilang begitu saja,ia lupa akan semua itu saat berada di samping Ayana.
Makan yang di hidangkan di meja itu tentunya sangat enak dan menarik, semua menu makanan restoran mahal ter-hidangkan di situ, sayup-sayup semilir angin kecil mulai menemani kesempurnaan suasana ini,menyibak rambut Ayana dengan lembut kesana kemari, tentunya membuat Ayana terkesan lebih cantik saat di pandang.
Rey langsung mengambil piring, begitu juga Ayana, namun tangan Rey mencegat tangan Ayana melarangnya mengambil piring kembali.
"Aku tidak mau makan jika tidak sepiring berdua dengan mu!, nafsu makan ku belum kembali penuh, jadi aku ingin makan sepiring berdua denganmu Ayana...!"
"Tapi Rey... aku..aku...!"
"Kau tidak mau makan bersamaku?".
"Mau Rey...,e'...baiklah jika ini mau mu!"
Keduanya langsung berdo'a, Rey langsung mengambil sesuap nasi dan mengarahkan ke mulut Ayana,
Ayana pun langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari Rey,
Suasana dunia Rey begitu terang kali ini, setelah berhari-hari larut dalam kegelapan akhirnya, cahaya terang menyinarinya juga.
Perlahan ia mengunyah makanan yang ada di mulutnya, sekarang tinggal Rey ia memakan makanan yang ia masukkan ke dalam mulutnya.
Suapan ke-dua masuk kembali ke mulut Ayana,ia terlihat mengunyah seperti tadi, tapi raut wajahnya tampak menahan sesuatu yang menjanggal.
"Huek...huek..."
Ayana yang sudah berdiri menutup mulutnya.
"Ayana...kau tidak papah?"
Ayana menggelengkan kepalanya sambil memegangi perutnya dan meninggalkan suaminya begitu saja.
"Ayana tunggu!"Rey segera mengejar Ayana dan mengantarnya ke kamar mandi.
"Huek...huek.."Ayana yang merasa sangat enek perut dan tenggorokannya.
"Kau tidak papa...kau tidak papa kan sayang?"Mengelus rambut Ayana dan memijat pelan area lehernya.
"Maafkan aku...aku merasa sangat enek kali ini,aku...aku ini habis minum susu Rey, jadi aku selalu enek jika habis minum susu terus makan... huek..huek..!"
__ADS_1
"keluar kan lah!,biar kamu merasa lega!,Ayo muntah kan sayang..."
Rey merasa begitu khawatir dan terus memijat leher Ayana, melihat mata Ayana yang sudah berkaca-kaca dan memerah membuatnya semakin khawatir, lalu memeluknya dengan hangat.
"Maafkan aku... seharusnya aku tidak memaksamu makan,aku benar-benar tidak tahu Ayana, karena aku kau jadi begini... maafkan aku"
Rey merasa begitu bersalah sambil mengelus rambutnya, sementara Ayana merasa lega setelah menghirup aroma tubuh wangi suaminya ini.
"Izinkan aku memelukmu sebenar....!"
Ayana dengan nafas terengah-engah menangkap diri.
Sebentar saja Ayana?,aku akan memberikan pelukanku sepuasnya kepadamu...!
"Kau sudah sering seperti ini?"Tanya Rey pelan dan masih berdiri di dalam kamar mandi memeluknya.
"Sering... bahkan setiap hari.., lebih sering lagi setiap pagi!"
suara Ayana yang sedikit samar karena terbenam di dada Rey.
Iya ampun Ayana, mungkin kau sangat tersiksa dia saat kau jauh dariku.... maafkan aku,
"Maafkan aku.., karena tidak becus menjagamu!"Berbicara tulus sambil mengecup kening Ayana.
"Aku yang meminta maaf, seharusnya kau menyelesaikan makan mu dan minum obat kali ini,tapi aku membuatmu pergi meninggalkan makan mu...!"
"Sudah ku bilang sayang,aku sudah sembuh, jangan pikirkan aku,kau tidak papa?...apa kau masih merasa enek?"
"Sedikit!"
Perlahan demi perlahan rasa mual dan eneknya mulai menghilang, menghirup aroma tubuh suaminya benar-benar membuatnya nyaman.
Sepertinya Anak yang di kandung Ayana sangatlah manja dan sangat di nantikan oleh Rey, makanya Ayana tidak merasa enek lagi saat berada di pelukan Rey.
Tahu aja nih si baby cara mempersatukan papah dan mamah-nya.
Mereka berpelukan sangat lama sampai Ayana benar-benar terdiam dan tidak berbicara.
mungkin belainya dan sentuhan lembut Rey membuatnya merasa sangat nyaman.
"Ayana?...Ayana kau sudah tidak papa?"Tanya Rey pelan sambil menyibakkan rambut nya yang menutupi area taman wajah.
Ayana sudah terpejam kali ini,Ia merasa sedikit pusing kali ini,membuatnya tertidur di pelukan suaminya.
"Iya ampun sayang,kau pasti sangat lelah yah?"
Rey langsung menggendong Ayana dan membawanya ke atas ranjang, membaringkannya lalu menyelimutinya dengan selimut.
Rasa sakit Rey benar-benar hilang, pelukan Ayana adalah penyemangat baginya, bahkan ibarat ponsel yang baru saja mengisi baterai, kekuatan dan daya kerjanya semakin kuat dan lama.
"Istirahatlah sayang!,jaga dirimu baik-baik, sehat selalu...,mimpi indah... muach...!"
Kecupan di pipi akhirnya mendarat juga sambil mengelus perutnya,
Rey membiarkan Ayana istirahat,
Ia lalu berjalan ke arah sofa,duduk di sofa dan langsung membuka layar leptopnya menemani Ayana tidur di kamar kali ini.
__ADS_1