
kenapa bantal guling ku keras sekali, tidak seperti biasanya..
Tanganya masih meraba-raba kesana kemari mencoba memeluk bantal guling-nya yang terasa aneh di bekapannya.
"Muach....apa yang kau lakukan?,kau membuatku geli?" mencium keningnya, suara lelaki itu menyadarkannya dan tertawa lirih di sampingnya.
Ayana langsung membuka matanya lebar-lebar,nampak dada bidang miliknya yang sedang ia bekap dan peluk itu.
"hah.... Tuan Muda.."Ayana sedikit menjauh darinya karena kaget.
"kenapa kau menjauh,sini... tidurlah jika masih ngantuk!"
Tuan muda mendekatkan tubuhnya dan memeluk erat Ayana ke dada bidangnya.
Membuat Ayana meronta-ronta ingin melepaskannya pelukannya.
Tuan Muda benar-benar meninggalkan acara itu, acara yang menurutnya tidak menarik, bahkan acara yang menyebalkan baginya, acara yang membuat hatinya memanas dan membara di guyur oleh rasa cemburu.
Bahkan ia tidak memikirkan untuk pulang ke rumah,apa dia juga lupa untuk memikirkan istri pertamanya,..
"kenapa kita terus disini Tuan Muda?"
"hah..?,apa.. ?,kau bilang apah?..kau bilang apah tadi?
Apa dengan keadaanya yang sadar ia ingin aku panggil suamiku..
"Tidak...!,aku..aku mau ke kamar mandi!"
"mau aku temani?"
"Apa anda sudah sadar?"Ayana langsung menatap suaminya.
"aku?... sadar?, memang kapan aku tidak waras?"
"berapa botol yang anda minum kemaren?"
Ayana bertanya dengan serius menatap suaminya, sedangkan Rey menatap matanya balik.
kenapa dia begitu serius menatapku,
"Aku tidak minum sama sekali...,aku hanya minum penambahan energi tubuh,aku tidak suka dengan minum-minuman keras Ayana"
Ayana yang mendengarnya terbelalak, matanya mulai berkaca-kaca karena kaget, bahkan yang lebih menyebalkan lagi Rey mengatakan dengan begitu santai.
"Aku tahu dari tingkah mu..,kau mengira aku sedang mabuk bukan?, untuk itu aku menjadi pura-pura mabuk di depan mu..!"
"Setega itukah anda kepadaku?.., kenapa anda melakukan ini?, kenapa dengan teganya anda pura-pura mabuk di depanku?,... kenapa.... kenapa ..kenapa..segitu gampangnya anda memainkan perasaanku?... Kenapa?.. kenapa... kenapa?."
Ayana yang merasa begitu kesal sambil memukul-mukul dada bidang suaminya.
"Hey.. hey..hey.. dengarkan aku.. dengarkan aku..!"Tuan Muda menahan kedua tangannya yang terus memukulinya itu.
"Lelaki bajingan,tak punya hati....segitu teganya anda mempermainkanku... menyebalkan...dasar menyebalkan.. dasar menyebalkan!"
Mata Ayana yang sudah berkaca-kaca menatap suaminya dengan perasaan yang begitu kesal.
"Dengarkan aku,.. maaf!,..aku tidak bermaksud mempermainkan mu Ayana,aku benar-benar mencintaimu...aku mencintaimu"
__ADS_1
Rey berbicara serius sambil memeluk erat istrinya.
Ayana yang sudah terlanjur kesal dan berkaca-kaca, air matanya langsung mengalir begitu saja,
Ia bingung harus berbicara apa,apa dia harus senang?apa dia harus kesal? apa dia harus marah?..
Perasaannya menjadi bimbang, karena posisinya yang menjadi istri kedua membuatnya tidak terlihat bahagia.
"Aku tidak percaya,aku tidak percaya,aku tidak percaya?"Ayana mengusap air matanya agar terlihat biasa saja.
Rey yang mendengar perkataannya langsung melepaskan pelukannya.
"Kau tidak percaya denganku?"
"bagaimana aku bisa percaya denganmu?, sedangkan anda memiliki istri yang sangat anda cintai?"
"Ayana tatap aku!"
Ayana mengalihkan pandangannya,ia tidak ingin berharap lebih dari suaminya yang selalu semena-mena ini.
"Tatap aku Ayana!,kali ini saja!"
Rey yang sudah memegang kedua pipinya dan memaksa istrinya agar menatapnya dalam.
Ayana terus menggelengkan kepalanya, terus mencoba menghindari tatapanya.
"Ayana tatap aku! tatap aku Ayana...!"
Ayana mengarahkan wajahnya,ia berusaha menatap suaminya yang akan berbicara itu.
"Dengarkan aku baik-baik!,aku mencintaimu Ayana..aku mencintaimu..."
Kali ini keduanya bertatapan lama,mata Ayana mulai berkaca-kaca kembali,
Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang,di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia juga sangat ingin di cintai layaknya seorang istri oleh suaminya.
Tapi karena posisinya sekarang ini yang menjadi penghalang baginya,
yang menjadi penghalang kebahagiaannya,se-cinta apapun suaminya itu sekarang,dia tetaplah istri kedua, begitulah pikirannya.
"Apa anda sadar, jika anda mencintaiku...ini akan membuat hati istri pertama anda akan terluka?"
"Aku tahu itu Ayana,tapi aku mencintaimu..,aku mencintaimu..aku tidak bisa menahannya lagi.. muach" Ciuman hangat mendarat di pipinya, tidak ada restoran dari Ayana.
"jika aku hanya mencintai istri pertamaku, lalu apa aku tidak boleh mencintai istri kedua ku begitu?"
"Ini masalah perasaan!, bukan kepemilikan..,Cinta itu satu..menjadi satu Tuan Muda, bukan mendua ataupun menjadi dua.."
"Jangan memanggilku Tuan Muda muach..." mencium pipinya kembali, namun tidak ada respon dari Ayana.
"lalu bagaimana dengan perjanjian pranikah yang ada di atas kertas itu, bukanya aku dan anda hanya menikah selama dua tahun?"
"Sudah aku bilang,itu bukan kemauanku!,itu hanya kemauan Felly, Felly yang membatasinya dua tahun, bukan aku Ayana, bukan aku.."
"Tapi tatap saja.., kita akan berpisah bukan?"
Ayana langsung berdiri meninggalkan rajang, perasaannya menjadi campur raduk tak karuan, matanya pun mulai berlinang, entah apa yang sedang ia rasakan sekarang, air matanya mulai berlinang dengan sendirinya.
__ADS_1
Tuan Muda mengikuti langkahnya yang berdiri di balik jendela kamarnya,
Ayana langsung mencoba mengusap air matanya kembali, menutupi apa yang sedang ia rasakan karena suaminya mendekat.
"Aku tidak ingin berpisah denganmu Ayana.. tidak ingin...aku sungguh tidak ingin berpisah denganmu..!" Rey memeluk Ayana dari belakang,
apa sepantasnya aku harus bahagia?,tapi aku ini hanyalah istri kedua...
Ayana mencoba melepaskan pelukannya,ia ingin sekali menenangkan diri, karena semua ini sudah mengguncangkan hatinya.
"Jangan menyuruhku untuk melepaskanmu!, Karena aku tidak bisa" Rey semakin memeluk Ayana erat,ia enggan untuk melepaskan pelukannya.
"Tapi aku butuh waktu!, karena aku belum memiliki perasaan terhadapmu!"
"Aku tahu,aku akan berusaha agar kau dapat mencintaiku nanti...!"
"kenapa kita terus disini, kapan kita akan pulang?"
Ayana yang sudah merasa tidak betah lama-lama di tempat ini.
"Pulang kemana..?,aku tidak akan membawamu pulang... selama kakakku masih ada di rumah!"
Ayana semakin terbelalak mendengarnya,apa suaminya benar-benar sudah gila sekarang,ia berusaha untuk melepaskan pelukannya kembali.
"Itu artinya anda akan mengurungku sekarang?"
"Aku tidak mengurung mu..,aku hanya ingin kau tinggal di sini...aku akan memberikan fasilitas segalanya untukmu!, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu.."
"Ini bukan soal fasilitas,tapi aku tidak terbiasa hidup sendiri, lalu bagaimana aku bisa menghubungimu jika aku tidak memiliki ponsel?"
Tuan muda langsung melepaskan pelukannya, menuju ke arah meja dan mengambil ponselnya!
"Pakailah ponselku!, hubungi aku apapun yang kau perlukan!"
Rey mendekati Ayana dan memberikan ponselnya kepadanya, Ayana langsung menerimanya dengan diam tanpa menatap suaminya,
"Aku akan mandi, habis itu pergi ke kantor!,jaga dirimu baik-baik..!"
Ayana hanya menganggukkan kepalanya mendengar perkataannya.
Setelah suaminya masuk ke kamar ia langsung duduk tertunduk dan menangis.
Ada apa dengan perasaanku... kenapa dengan perasaanku... kenapa aku menjadi begini si..
Ayana bingung dengan perasaannya sendiri tiba-tiba ia merasa ingin sekali menangis,
mencoba menenangkan dirinya, sambil menghadap ke langit-langit kamarnya yang mewah ini,
Aku tidak tahu nasib hidupku kedepannya,apa akan lebih baik lagi atau tidak... semoga saja kebaikan selalu menghampiriku ya Tuhan
Mencoba duduk kembali di pinggiran ranjang,tak lama kemudian suaminya keluar dari pintu kamar mandi.
Ayana tidak terdiam tidak memandangnya sama sekali,
Tuan Muda memakai perlengkapan kantornya sendiri, setelah itu menghampiri istrinya yang masih terdiam di pinggiran ranjang.
"Aku berangkat, jaga dirimu baik-baik!..muach!"
__ADS_1
kecupan lembut mendarat di keningnya, Ayana masih tetap tidak merespon,ia benar-benar terdiam dan hanya memandang suaminya yang pergi meninggalkan ruangan.