
Sepenjang perjalanan Rey terdiam bertumpuan dengan tangannya yang sedang menyanggah di sudut pintu mobil,
Ia terdiam terus sejak tadi, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.
Ayana pasti kesepian,..
lalu bagaimana aku harus menghubungi mamah untuk pulang, kenapa rasanya sangat berat jika aku sendiri yang harus menghubungi mamah...
Tapi kasian Ayana jika aku tidak menurutinya..., hanya permintaan seperti ini , kenapa berat sekali bagiku...
Danu hanya berani bertanya-tanya pada hatinya sendiri.
"Dimana Bayu menunggu?"akhirnya berucap kata juga.
"Di gang depan Tuan Muda"
Entah apa yang sedang di rencanakan mereka bertiga hingga berangkat ke kantor saja harus berbarengan.
"Itu Bayu Tuan Muda!.."
Melihat Bayu yang sedang duduk di depan Caffe menunggu jemputannya.
Bayu yang melihat mobil Tuan Muda langsung datang menghampirinya lalu masuk ke dalam mobil.
"Dimana mobilmu?"Tanya Rey singkat
"Mobilku sedang di servis Tuan Muda"
"Bukankah mobilmu banyak?,lalu kemana kan semua mobilmu?"
"Supirku sedang pulang kampung Tuan Muda,Hari ini diriku tidak enak badan, jadi aku tidak ingin menyetir sendiri!"
"Benarkah?, kau sakit?,kau pasti kurang istirahat,kau terlalu lelah menggantikan posisi ku kan?, seharusnya kau bilang sejak tadi jika kau sakit!"
Tuan Muda yang terlihat panik mengecek suhu badan Bayu.
Aku yakin Bayu sangat lelah menggantikan posisi Tuan Muda belakang ini...,dia pasti kurang Istirahat...
Danu, juga khawatir mendengarnya namun ia tetap fokus menyetir.
"Saya tidak papa Tuan Muda,saya hanya pusing sedikit..!"
"Tidak papa kau bilang,lihat!..suhu badanmu sangat tinggi,apa kau tidak waras tidak memberi tahuku, seharusnya kau tidak usah bekerja hari ini!"
"Tapi Tuan Muda hari ini ada pertemuan dengan...!"
"Apah?... pertemuan apah?,kau pikir kehadiran mu itu penting!, kesehatan mu lebih penting bodoh...!,Danu Turunkan aku sekarang!,aku akan menyuruh supir lain untuk menjemput ku...,kau antar Bayu ke rumah sakit sekarang!.."
Rey segera Turun dari mobilnya.
"Ta...tapi Tuan Muda aku hanya!"
"Diam!,Danu... pergilah sekarang... Jebrett...!"Rey menutup pintu mobil.
"Kau sakit hah?...sejak kapan kau sakit?, kenapa kau tidak bilang kepadaku terlebih dahulu!..."
__ADS_1
"Diam..kau dan Tuan Mudamu itu sama-sama bawelnya, membuatku semakin pusing saja..!"
"Bayu... Bayu.., seharusnya kau lebih mementingkan kesehatanmu,aku tahu kau terlalu semangat dalam bekerja, sampai kau lupa menjaga kesehatan mu kan..."
"Iyah,aku akui... aku memang tidak sehebat Tuan Reyhano, bagaimana bisa dia melewati sehari-harinya dengan kehebatan seperti ini...".
"Karena Tuan Muda sudah terbiasa, sedang kau tidak!"
Keduanya langsung menuju ke rumah sakit, kondisi Bayu tampaknya sangat melemah kali ini,wajahnya terlihat sangat pucat dan sedang di tangani oleh Dokter.
****
"Ting tong.. Ting tong!"
Bunyi sebuah bel tamu memenuhi kesunyian di seluruh ruangan rumah.
Bibi Pelayan yang mendengarnya langsung bergegas membukakkan pintu,
Ayana sedang membaca buku tentang panduan ibu hamil,ia hanya memperhatikan pelayan yang menuju ke arah pintu utama.
Siapa yang datang kira-kira?...
Ayana melanjutkan bacanya,tak lama bibi datang menghampiri.
"Permisi Nona ada tamu yang ingin menemui anda?''
"Perempuan atau laki-laki Bi?"
"Dua orang perempuan Nona, namanya Kinar dan Nada!"
"Suruh dia masuk Bi!, mereka sahabatku?"
"Tidak papa Bi, memastikan itu lebih baik!"
Akhirnya Nada dan Kinar ke sini juga,aku kira Rey lupa dengan semuanya...
Intinya tidak boleh sembarang orang masuk ke dalam rumah Tuan Muda, terlebih jika Tuan Muda sendiri tidak ada di rumah, walupun banyak bodyguard di luar rumah, namun orang dalam juga harus lebih berhati-hati lagi.
"Nona Ayana....."Kinar yang sudah datang dari arah pintu dan sudah bersuara.
Ayana yang semula terseyum langsung cemberut.
"Iya...iya maaf, maksudku Ayana sahabatku..!"Kinar yang hanya bergurau memanggil Ayana Nona.
"Hai Ayana apa kabar?,kau baik-baik saja kan?"
Tanya Nada berjalan sebelah dengan Kinar menuju ke arah sofa dimana Ayana duduk.
"Iya aku baik-baik saja, Alhamdulillah sehat, kalian juga kan?"
"Pastinya...!"
"Wah sudah lama yah kita tidak bertemu!, Perutmu sudah semakin membesar yah Ayana...!"Nada memperhatikan Ayana sejak tadi.
"Iya makin terlihat, kira-kira Pangeran atau Putri untuk sang baby?"Kinar ikut menimpali.
__ADS_1
"Pangeran atau Putri itu sama saja bagiku, tapi Rey sangat menginginkan anak laki-laki, entahlah karunia Tuhan kita tidak tahu, yang jelas aku akan menyayangi anakku baik putra maupun putri....!"
"Iya betul sekali Ayana, aku sangat setuju denganmu!"
Nada dan Kinar tak berkedip melihat seisi ruangan di rumah ini yang begitu menakjubkan dan luas, terpancar kemewahan di dalamnya, bahkan Nada dan Kinar baru saja menginjakan kaki di rumah yang begitu menakjubkan ini.
"Wah rumahmu sangat indah dan besar Ayana,aku benar-benar baru melihat rumah yang seindah ini..."Nada sambil memutarkan bola matanya menatap seluruh penjuru ruangan
"Iyah aku juga, rumahmu sangatlah indah dan menakjubkan"Kinar pun sama begitu tercengang.
"Ini bukan rumahku,tapi rumah Rey..., aku sendiri juga heran melihatnya!"
"Sama saja,entah ini rumah Tuan Muda atau kau... yang jelas kau kan istrinya!"
"Sudahlah berhenti menatap rumah ini!, Jangan membuatku merasa tidak nyaman...!"
"Baiklah Ayana, bagaimana hubunganmu dengan Tuan Muda apa semuanya tampak lebih baik sekarang ini?"
Nada penasaran, semestinya Kinar ikut memasang telinga karena penasaran.
"Alhamdulillah.., Kehidupan ku lebih baik dari apa yang aku bayangkan sebelumnya,Rey benar-benar membuktikan kalau dia sangat mencintaiku,aku sendiri tidak sanggup untuk menutupi perasaanku..., yang jelas setelah aku melihat semuanya,aku sangat mencintainya sekarang...!"
"Wah syukurlah aku ikut senang Ayana, bahkan aku sangat senang mendengar kabar ini,aku benar-benar ikut merasa senang mendengarnya...!"
"hiks...hiks...aku juga!"Kinar yang sudah terharu mendengarnya.
"Terimakasih Nada, Kinar,ini semua juga berkat kalian,aku mencintai kalian berdua!"
Ayana memeluk keduanya, persahabatan mereka sepertinya semakin erat dan hangat, mereka saling mendukung dan melengkapi satu sama lain.
Jemari tangan masih bermain Nada,mengetuk-ngetuk meja kerjanya yang datar dan mengkilap itu, satu tangan memegang ponsel, matanya terus beralih ke arah ponsel.
Sehabis rapat ia langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Ia duduk dan terus memainkan ponselnya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang,aku harus menghubungi mamah sekarang...
Atau sebaiknya aku menyuruh Danu saja untuk menghubungi mamah...
lalu dimana martabat ku sebagai seorang suami,masa....masalah seperti ini aku harus alihkan kepada Danu...
hanya masalah seperti ini?.. memalukan...
Rey sedang bingung bagaimana cara untuk menghubungi ibu kandungnya agar pulang ke rumah, bukan bingung si mestinya, Rey identik dengan enggan,ia masih merasa enggan untuk berbicara dengan ibu kandungnya.
Tidak mungkin aku harus menghubungi Ray, ya ada dia malah semakin menjadi-jadi terhadapku...
Mau tidak mau Rey segera mengirimkan pesan singkat untuk ibu kandungnya.
"Mah, pulanglah ke rumah!,Ayana sangat merindukan mamah!...."
Pesan singkat yang sudah ia kirimkan ke nomer ponsel yang baru pertama kalinya ia hubungi itu,
ia tidak pernah mengirim pesan, menelfon,mau pun bertanya-tanya tentang kabar ibu kandungnya,hanya kali ini, hanya karena Ayana,
__ADS_1
Dan baru saat ini juga ia menghubungi Nomor ponsel Ibu kandungnya yang terbengkalai tersimpan di dalam ponselnya.
Kira-kira bagaimana reaksi ibunya saat mengetahuinya nanti, terlebih anak yang paling di rindukan dan di nantikan senyumannya itu kembali seperti dulu lagi,ia pasti akan merasa senang walaupun hanya sebait pesan dari Rey.