
Pakaian telah rapi dan wangi, kini saatnya ia siap-siap untuk pergi ke kantor,
"Sayang kau mau makan dulu kan?"pinta Ayana yang menggenggam tangan suaminya untuk menyuruhnya makan.
"Iya sayang tentu saja,..kau juga belum makan kan?"
"Belum!"menggelengkan kepalanya.
Keduanya langsung menuju ke ruang makan, tidak ada keberadaan mamah di situ, namun beberapa menu makanan kesukaan Reyhano sudah tertata rapi di situ.
Membuat Rey berkaca-kaca menatap semua makanan itu.
Lihatlah kebaikan mamah yang selalu aku campakkan selama ini...
"Di mana mamah?"
"Entahlah aku juga tidak tahu Rey..."
Ayana memandang seluruh sudut rumahnya mencari kehadiran ibu mertuanya.
Namun batang hidupnya saja tidak terlihat.
"Bi...mamah diamana?"
Melihat bibi yang sedang merapikan barang-barang membuatnya bertanya tentang keberadaan ibu mertuanya.
"Sepertinya Nyonya di kamar Nona!"
"Oh iya sudah baiklah!"
"Sayang kamu duduklah dulu disini aku akan mengajak mamah makan dulu!"
"iya baiklah!"
Ayana berjalan menuju ke kamar mamahnya, mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan setelah mendengar sahutan dari mamahnya.
"Mamah ayo kita makan!"Pinta Ayana sambil merangkul tangan mamah mertuanya.
"Kau makanlah dulu bersama Rey, biarkan Rey makan dengan tenang bersamamu, mamah nanti saja...!"
Sambil memainkan leptopnya.
Mamah pasti masih mengira Rey masih marah dengannya...
"Tidak mah!, Ayana tidak akan makan sebelum mamah ikut makan bersamaku!"
"Ayana kau ini...!"
Mendengar Rengekan Ayana membuat ibu mertuanya terseyum lalu menuruti pintanya.
Keduanya segera menuju ke meja makan, mamah duduk di tempat biasa dan Ayana duduk di samping kursi Rey seperti biasanya juga.
Mereka semua memulai makanya, dan kedua kalinya ibu melihat Rey yang mengambil lauk masakannya lagi, mungkin kemaren itu ia terpaksa karena permintaan istrinya, tapi kali ini ia tulus dari dalam hatinya.
Ibu terlihat tersenyum senang, matanya yang indah juga berbinar menahan air mata kebahagiaan yang ingin mengalir itu.
Mereka saling terdiam di meja makan menikmati makanannya, sedangkan Rey sudah cepat menghabiskan makanannya karena terburu-buru untuk pergi ke kantor.
"Ayana aku sudah selesai,aku pergi ke kantor dulu yah..!"
"kenapa buru-buru Rey?"
__ADS_1
"Ada meeting mendadak sayang.. Muach" segera berdiri dan mencium kening Ayana dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
"Iya sudah hati-hati sayang, semoga harimu menyenangkan!"Rey terseyum mendengar perkataannya, lalu memadang ibunya sesekali yang sedang fokus ke arah piring makan.
"Mamah...!"
"Hah'...?" ibu Rey tentu sangat terkejut mendengar panggilan dari Rey
Rey juga tidak berani menatap wajah ibunya sendiri karena merasa begitu bersalah, Panggilan dari Rey yang lembut ini baru pertama kalinya ia dengar kembali setelah sekian lama.
"Rey... berangkat ke kantor dulu!"suara Rey pelan namun jelas dan membalikkan badannya.
Sudah hanya itu saja yang bisa ia keluarkan dari mulutnya, karena mengingat semuanya membuatnya sedih kembali, terlebih rasa bersalahnya sekarang.
Ia kemudian meninggalkan ruangan makan begitu saja.
"Iy..Iyah...Iyah sayang, hati-hati di jalan!"
Tak hanya rasa senang yang sedang ibu rasakan,tapi rasa haru sampai-sampai ia meneteskan air mata memandang putranya yang berjalan menuju ke lift.
Ayana terseyum melihat semua ini,ia juga merasa sedih melihat ibu yang meneteskan air mata,
"Ayana...?"Panggil-nya lemas sambil menangis tak bersuara.
"Iyah..."jawab Ayana sambil berkaca-kaca.
"Re..Rey memangil ku?..Rey juga berpamitan kepada Mamah..a..apa... semua ini mimpi hiks..hiks...?"
Ibu yang tak mampu menahan tangisan kebahagiaannya sampai-sampai ia terbata-bata dan terisak.
"Tidak mah.. tidak,ini bukanlah mimpi, tapi ini kenyataan..., jangan menangis mah!,aku mohon jangan menangis..."
"Apa kamu yang melakukan semua ini sayang?.."
Ayana terseyum.
"Bukan aku mah.., tapi kebaikan dan perhatian mamah yang mamah berikan untuk putra mamah sendiri,aku hanya bisa membantu sedikit untuk semua ini..!"
"Terimakasih Ayana... terimakasih sayang!"memeluk erat menantunya dengan air mata yang berderaian
"Tenanglah mah..., Tenanglah!...,aku yakin Rey akan kembali seperti dulu lagi... percayalah!"
Ayana yang ikut menitikkan air mata dan mengelus punggung ibu mertuanya lembut untuk menenangkannya.
"Iya Ayana ibu sangat yakin... berkat dirimu!,aku percaya itu, kau yang mampu membuat hati Reyhano luluh selama ini, Terimakasih sayang... terimakasih... muach".
mencium kening menantu kesayangannya ini.
Reyhano begitu terdiam di dalam mobil bahkan ia tampak melamun menatap ke bawah.
"Danu...!"
Panggilnya begitu saja mebuatnya Danu yang fokus menyetir merasa kaget.
"Iy..Iya Tuan Muda?"
"Kau sudah mengetahui masalah keluargaku yang sebenarnya bukan, kenapa kau tidak menjelaskannya secara jujur kepadaku?"
ma.. masalah keluarga?
apa maksud perkataan Tuan Muda.
__ADS_1
"Ma.. masalah?, maksudnya masalah seperti apa Tuan Muda?"
"Masalah Papah dan Mamah,ini semua di sebabkan oleh paman kan?, kenapa kau tidak menjelaskan sejak awal?"
Rey begitu penasaran dengan alasan Danu yang tidak mau membuka suara itu.
Darimana Tuan Muda tahu tentang masalah ini, siapa yang menceritakannya?..
"iy..Iyah, saya memang mengetahuinya Tuan Muda, maafkan saya!,kerena tidak menjelaskan kepada Anda sejak awal..!"
"Aku hanya Takut anda semakin kepikiran dengan semuanya,Jika anda saja tidak mau mendengarkan penjelasan Nyonya,lalu apalagi jika saya yang berbicara Tuan Muda...., sedangkan saya hanyalah orang lain di dalam kehidupan Anda!, Saya hanya takut jika terlalu ikut campur dengan urusan keluarga Tuan Muda!"
"baiklah, Aku mengerti alasanmu,aku hanya merasa sangat bersalah dengan semua ini, kenapa masalah keluargaku sendiri aku tidak mengetahuinya,dan sikap apa yang telah aku berikan kepada mamah selama ini....!"
Tuan muda terlihat begitu kecewa dengan dirinya sendiri.
"Semua orang pasti memiliki kesalahan Tuan Muda...!"
Hanya perkataan itu yang bisa keluar dari mulut Danu untuk menenangkan hati Tuan Muda.
Dan fokus menyetir kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor.
*****
Hari-hari berlalu semakin cepat, sikap Rey semakin hari semakin baik terhadap ibunya.
Hubungan keluarga ini yang semula layu setiap hari semakin semi dan bertumbuh subur karena di sirami oleh kebaikan Ayana yang seperti air itu.
"Lihatlah Perutmu!,dia bergerak-gerak begitu cepat!"
Rey yang sedang menatap perut Ayana lekat sambil duduk di atas ranjang berdekatan dengan Ayana.
"Aku semakin yakin kalau dia itu adalah laki-laki, yang sangat tampan sepertiku...!"
Dengan PD-nya Rey mengatakan hal ini terhadap Ayana, bahkan raut wajahnya tampak datar dan serius, membuat Ayana terseyum mendengar perkataan suaminya.
"Kau yakin sayang?, tidak ragu sama sekali?"Tanya Ayana yang belum terlalu percaya dengan hasil USG.
"Tidak,jika di dalam hasil USG itu laki-laki,aku sangat percaya itu, bahkan tingkahnya di dalam perut itu terlihat seperti laki-laki yang sangat kuat,tuh.. lihat saja!,dia terus bergerak-gerak !"
Menatap perut istrinya dengan senyuman kebahagiaan yang sedang ia berikan.
"Apa dia sedang mengajakku berbicara?,dia terlihat sangat merindukan pelukanku...!"
modus Rey lalu memeluk erat Ayana yang tiduran di atas ranjang sambil menyenderkan kepalanya.
"Ih... dari mana kau tahu?,aku saja tidak tahu!"
"Dari bisikan batin seorang anak dan Papahnya!"sambil tertawa lirih menatap Ayana yang mengerutkan dahinya.
"Bercanda sayang...., sebenarnya aku yang sangat ingin memelukmu!,tapi baby juga ingin memelukku,coba tanyakan sendiri..!"
"Ih aku tidak per..!"
"Muach...!, jangan terlalu banyak bicara kau terlihat semakin manis sayang.
"Muach... Aku Mencintaimu!"Rey berbicara kepada Ayana yang sedang manyun menatap suaminya lalu ia menjadi tersenyum.
"Aku mencintaimu juga,Muach..."
Keduanya saling berbalas ciuman dan akhirnya kedua bibir itu saling bermain-main ******* bibir Mereka berdua.
__ADS_1