
Mereka berdua masih menunggu kehadiran Ayana yang masih berjalan menghampirinya.
Kali ini Ayana tahu mana yang suaminya dan mana yang bukan, karena ia masih melihat dari segi pakaian kemeja dan Jaz yang di kenakan keduanya.
"Tuan Muda,.. Selamat atas keberhasilan anda!, semoga karya-karya anda semakin sukses dan terkenal!"
karya-karya anda?,apa maksudnya...
"Tentu saja Danu, semoga saja penggemarku makin banyak dan makin sayang!"
Ray dengan senyuman puasnya.
Kini giliran Ayana yang akan mengulurkan tangannya untuk memberi selamat dan tangan itupun langsung di saut oleh suaminya sendiri.
"Tidak perlu,kau tidak perlu memberikan selamat untuknya!, semua ini juga berkat diriku!"
Rey menatap Ayana dengan serius lalu berbicara sinis dengan Ray.
Ayana malah semakin bingung melihat sikap keduanya.
"Rey apa maksudmu?, Tidak sopan sekali!,adik Ipar ingin memberikan ucapan selamat untukku!, tapi kau malah menghalanginya,tidak sopan!"
Rey masih menggenggam tangan Ayana dia tidak ingin melepaskannya.
"kalau begitu aku yang akan mewakilinya!, Selamat kakaku Rayhmes Wilson Cho,atas keberhasilan mu menjadi seorang penulis!, penulis yang terkenal dan populer di negri ini, walaupun nama samaran, tapi aku akui karya-karya mu itu sangatlah handal!......"
Ayana terbelalak mendengar kalimat panjang lebar suaminya itu kepada kakaknya, seolah-olah pikiran sedang buyar tertelan oleh perkataanya kemaren di taman bersama Ray.
Rayhmes...dia Rayhmes..
Ray yang mendengarkan ocehan adiknya semakin tersenyum lebar memandang Ayana yang terdiam karena kaget.
"Tapi aku sangat senang,nama samaran ku itu sangat berarti dan telah merubah hidupku yang lebih baik lagi, mendatangkan seorang fans yang sangat cantik dan menawan sepertinya..!"
Namun Rey belum juga mengerti atas perkataan kakaknya itu,
"dan satu lagi kakakku!,aku harap karyamu akan selalu sukses seumur hidup mu..!, dan segeralah kembali Ke luar negeri dan sebaiknya jangan lama-lama di sini!"
Senyum yang terpapar di wajah Ray langsung menghilang seketika mendengar perkataan adiknya.
"Hey...kau ini mendo'akan ku,atau mengusirku?"
"Tentunya" Rey, sudah membalikkan badan sambil menggenggam tangan Ayana untuk pergi meninggalkan kakaknya.
"Tunggu Rey,aku hanya ingin mendengar ucapan selamat dari penggemar beratku dan penggemar lamaku!".
"Deg"Ayana yang mendengarnya menyembunyikan wajahnya yang pias itu.
Aduh kenapa jadi begini si,apa yang harus aku katakan..., kenapa yang aku gemari sejak lama malah kakak Ipar ku sendiri si....
"Maksudmu?"
Rey,sudah membalikkan badan karena bingung dengan perkataanya.
"Ayana!, biarkan Ayana saja yang mengungkapkannya!,dia bilang dia penggemar lamaku!, iya kan Ayana?"
Ayana masih bungkam,Menatap kedua orang yang sedang menatapnya serius,
__ADS_1
membuatnya semakin menundukkan kepalanya karena ia sangat tahu akan sikap suaminya yang menurutnya seperti serigala itu.
Aduh...apa yang harus aku katakan, sepertinya tatapan Tuan Muda sendiri sudah seperti menusukku kali ini...
"Kau penggemarnya?" Rey merasa greget melihat Ayana yang terdiam terlalu lama.
Ayana menganggukkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan suaminya itu,tanpa berani melihat ekspresi wajah suaminya.
melihat Ayana menganggukkan kepalanya membuat raut wajahnya semakin masam,
bagaimana tidak,Rey yang sedang merasa bersaing dengan kakaknya itu,malah mendapatkan kenyataan seperti ini membuatnya mengepalkan satu tangan karena cemburu.
"Lalu apa yang kau inginkan darinya?"Rey menatap tajam istrinya.
"Kau tak perlu bertanya Rey!,aku sudah tahu apa yang dia inginkan!,aku akan memberikan apapun yang dia inginkan, walaupun hanya sebuah pelukan sekaligus!"
gila...kakak benar-benar mengatakan hal ini..
Ayana semakin terbelalak mendengar perkataannya.
"Jaga ucapanmu!,apa yang kau katakan Ray!"
"kau tidak percaya!, tanyakan sendiri pada istrimu!, waktu di taman dia bilang.... setelah bertemu dengan nama samaran ku dia ingin sekali meminta tanda tanganku, bahkan dia juga ingin memelukku!,ya kan Ayana?"
Aku tidak pernah mengira kakak Ipar akan mengatakan hal seperti ini di hadapan Tuan Muda..
"e...aku...?"
"benarkah itu?" Sambaran suara Rey Kepada istrinya.
"peluk lah!, jika kau ingin sekali memeluknya!"
Rey melepas genggaman tangannya karena sudah merasa kesal dan pergi meninggalkan keduanya.
Ini kesempatan ku untuk memeluknya kan....,tapi Kenapa?... kenapa?...tiba-tiba perasaanku jadi begini si, kenapa aku jadi tidak ingin memeluknya, hanya karena melihatnya pergi...
Ayana merasa bingung dengan perasaannya sendiri,Ia langsung menyusul suaminya yang pergi meninggalkannya itu dari pada harus di penggal nanti malam.
"Tuan Muda.. Tuan Muda?"
Peluk saja sana!,peluk saja sesukamu!,aku tidak akan menghalangi mu untuk memeluknya sepuasnya...
Iya di hatimu bilang begitu Tuan Muda, tapi tanganmu tidak berbohong, bahkan sudah mengepal sejak tadi,
mungkin anda merasa sangat geram, kesal, bercampur cemburu yang sedang melanda hati anda saat ini.
"Tuan Muda aku hanya..."
Ayana pun memberhentikan langkahnya ketika melihat seseorang yang mendekat menghampiri suaminya.
"Sayang!,ayo temani aku lihat-lihat!, buku-buku kakak sangatlah bagus!"
Felly yang sudah merangkul Tuan Muda lebih dulu dan mengajaknya pergi berkeliling untuk melihat-lihat.
Kenapa dengan bodohnya aku malah mengejarnya... jelas-jelas dia tidak mencintaiku, bahkan dia juga tidak merespon perkataanku sama sekali...
Ayana menyesali tingkahnya sendiri.
__ADS_1
"Mau sampai kau akan terbengong menatap mereka berdua yang selalu romantis Ayana?"
Ray yang sudah berdiri di samping Ayana dan mencoba menyadarkan Ayana yang terdiam itu.
Rey, mencoba menengok ke arah Ayana, keduanya bertatapan sebentar, namun Ayana, entah kenapa dia merasa kecewa dan langsung pergi mengikuti langkah kakak iparnya yang menggandeng tangannya itu.
lihat wanita macam apa dia ini..., beraninya dia bergandengan tangan dengan lelaki lain tanpa seizin ku
aku yakin dia sudah memeluknya puas tadi...dia pasti merasa sangat senang karena sudah memeluknya kan..
Rey, benar-benar berwajah masam saat ini, bahkan ia tidak tertarik ataupun melirik buku-buku yang berjejer di rak kaca ini, matanya selalu tertuju pada Ayana, mencoba mengintainya dari kejauhan.
"Sayang!" Bahkan Felly yang memanggil di dekat telinganya tidak ia dengarkan.
"Sayang"
"Iyah"Rey baru sadar.
"kamu lagi liatin apa si?,aku haus?"
"Iyah sudah ayo duduklah"
Rey membawa Felly berjalan ke arah sofa dan memanggil beberapa cleaning servis untuk menyediakan minuman untuknya dengan segera.
Aku tidak tahu seberapa dekat mereka sekarang,
dan aku juga tidak tahu apa saja yang sudah mereka lakukan di belakangku...
*****
"kemarilah, jangan pikirkan hal apapun!, lihatlah buku-buku ini, pilihan yang kau suka!"
Ray mengajak Ayana berkeliling melihat-lihat buku-bukunya.
Ayana terdiam menatap kakak Iparnya, rasanya ia ingin sekali berbicara sejak tadi.
"Kenapa kakak ipar melakukan hal ini kepadaku?, padahal kakak tahu sendiri bagaimana sikap adik kakak?"
"Aku tahu sifat Adiku Ayana, makanya aku melakukan ini!".
"Jika kakak tahu, kenapa kakak tega melakukan ini, jelas-jelas aku yang akan mendapat masalah nanti?"
"Apa Adiku selalu melukaimu?,apa dia berbuat semena-mena terhadapmu?" Ray begitu penasaran dengan hubungan keduanya.
"Tuan Muda tidak pernah melukaiku, hanya saja dia selalu marah-marah tanpa alasan"
Ray langsung menggenggam kedua tangan Ayana,Ia mencoba berbicara serius dan menatap Ayana lekat.
"kak Apa yang kakak lakukan?"Ayana merasa bingung dengan tingkahnya.
"Dengarkan aku Ayana!... hanya kaulah harapan ku...aku ingin.....!"
kira-kira apa yang di bicarakan keduanya yah?..
Tatapan tajam berapi-api dari kejauhan mulai membara, melihat keduanya yang sedang berpegang tangan membuatnya cemburu buta.
Matanya tak lagi berkedip, bahkan sudah semakin memerah menahan kesal dan kecemburuan sejak tadi...
__ADS_1