Monopoli Cinta Tuan Muda

Monopoli Cinta Tuan Muda
Menghabiskan waktu di kamar


__ADS_3

Semenjak kehadiran mamah di rumah Ayana merasa sangat nyaman dan tidak ada lagi kebosanan yang menyelimuti dirinya.


Bahkan hari-harinya di penuhi dengan canda dan gelak tawa bersama ibu mertuanya.


Pekan ini adalah hari semua orang ada di rumah untuk bersantai, bahkan Reyhano masih tertidur di kamar karena kecapean kerja lembur semalam.


"Ayana mamah sedang mengundang dokter kandungan kemari,ia akan memeriksa kandungan mu dan perkembangan janin!"


"Wah benarkah mah?, baiklah.. Terimakasih mah, mamah lagi ngapain?"


Tanya Ayana mendekat kebetulan ia sudah membersihkan dirinya.


"Mamah sedang mengupas buah untukmu!,ibu hamil harus makan buah-buahan biar makin sehat yah!"


"Iya ampun mamah,kan jadi merepotkan...!"


"Siapa juga yang mengupas buah untukmu!, mamah hanya mengupas buah untuk cucu mamah.!"Ibu menghadap ke arah perut Ayana.


"Ih.. mamah bisa saja deh!"


keduanya tertawa barengan.


"Duduklah!, Minum susunya!'


"Iya ampun mah, kenapa mamah jadi mempersiapkan semuanya untuk Ayana begini si,kan Ayana jadi...!"


"Putriku diam!,Nurut saja apa perintah Mamah,buah mana yang kau mau Ayana?"


"Aku lebih suka mangga mah,tapi biar Ayana saja mah yang mengupas sendiri yah mah...!"


Ayana yang merasa tidak enak sendiri jika harus di layani dengan berlebihan oleh Ibu mertuanya ini.


"Ayana makanlah buah Anggur-nya!,mamah yang akan memotong mangga-nya!"


"Ya..tapi..!"


"Hust... orang hamil harus nurut apa saja perkataan orang tua!"


"hehe... mamah kalau sudah bilang begini Ayana bisa apa coba..!"


Sejujurnya ini membuatku tidak nyaman, beberapa hari ini Mamah bersikap sangat berlebihan,


kan aku jadi gak enak sendiri kalau begini....


Ayana hanya bisa tersenyum menikmati segelas susu coklat kehamilan yang sudah di sediakan oleh ibu mertuanya.


"Huek...Huek..."


"Ayana, kau tidak papa sayang?"Mamah terlihat panik melihat Ayana mual-mual.


"Aku..aku hanya tidak suka mencium aroma bau pisang mah,ini membuatku merasa enek...!"


"Pi.. pisang?"Ibu melihat sebuah pisang yang ada di ujung meja.


"Bi..Bi..!"


"Iyah Nyonya?"


"Singkirkan buah pisang ini dan jauhkan dari Ayana yah!"


"Baik Nyonya!"


Bibi pelayan itu langsung menjalankan tugasnya dan menaruh pisang itu di kulkas bagian belakang.


Ayana masih terdiam,menahan rasa mual-nya akibat bau pisang tadi.


"Maaf mah, maafkan Ayana..!"


"it's okay sayang!, Mamah juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan, orang yang sedang hamil itu sangatlah sensitif dengan bau-bau atau aroma sesuatu yang menyengat baik wangi maupun tidak...!"


Menganggukkan kepalanya mengerti apa yang di ucapkan Ibu mertuanya.


"Kau merasa mual kan?, sebaiknya kau memakan buah mangga-nya sekarang!,biar rasa enek mu bilang,jika kau memang suka mangga...!"

__ADS_1


Ayana mencoba mencicipi buah mangga yang sudah terpotong-potong di atas piring.


Rasa mual-nya semakin menghilang.


"Bagaimana kau suka?,kau masih merasa enek?"


"Em... tidak lagi,ini terasa sangat enak, mangga-nya ada sedikit rasa asam bercampur manis Ayana suka...!"


Apa kehadiran mamah benar-benar berarti buat Ayana, mereka terlihat sangat akrab, dan mamah sepertinya memperhatikan Ayana sepenuhnya....


Rey sejak tadi berdiri di tangga memperhatikan keduanya, namun ia mengurungkan niatnya untuk menuju ke meja makan.


Perasaanya masih sangat bimbang sampai saat ini,di sisi lain ia tersenyum melihat kebaikan Mamah yang sangat dekat dengan Ayana setiap hari.


Ia juga kadang menjadi terseyum sendiri melihat perhatian mamah, namun tetap saja ia belum bisa memaafkannya.


"Apa Rey belum bangun?, kenapa dia belum kemari juga Ayana?, Suruh dia makan Ayana!,ini udah siang... mamah akan kembali ke kamar!"


"Iya mah, tapi..!"


"Ini lebih baik!, suruh Rey makan"Ibu Rey terseyum meninggalkan meja makan.


Sudah beberapa hari ibu pulang ke rumah, namun ia belum bertatap muka dengan putranya,ia hanya melihatnya sekilas, itu pun hanya dari kejauhan.


Sepertinya Rey memang belum ingin bertemu dengan ibunya,ia terlihat sangat sibuk sekali di mata ibunya.


Aku tidak bisa membiarkan suasana rumah ini selalu seperti ini,


Aku hanya berharap Rey akan ber-baikan dengan mamah lagi..


Aku benar-benar tidak tahan jika harus melihat kesedihan di wajah mamah terus menerus seperti ini....


Ayana langsung menuju ke lantai atas menuju ke kamarnya untuk membangunkan suaminya itu.


Rey memang sudah terbangun sejak tadi, bahkan ia masih bersembunyi di balik selimut.


"Sayang...kau sudah bangun,aku kira belum!"


"Kau dari mana...?"


Tanya Rey datar sambil memeluk pinggang istrinya yang sudah duduk di sampingnya itu.


"Aku habis makan buah sama mamah tadi, kenapa kau belum bangun juga?,Ayo kita makan sayang,ini udah siang!"


"Nanti saja aku belum nafsu makan, apa kau sudah lapar?"


"Tidak,aku bahkan habis minum susu juga,aku sudah merasa sangat kenyang!"


"Hmm..ya sudah kalau begitu aku akan makan nanti saja!"


"Oh iya sayang, mamah sedang mengundang dokter kandungan ke mari, aku harus periksa kesehatan dan perkembangan janin,mamah bilang aku juga mau di USG..."


Aku memang tidak pernah berpengalaman tentang kehamilan seseorang,


mamah pasti lebih tahu tentang semua ini..


"Wah benarkah?, Kira-kira bayi kita laki-laki atau perempuan?"


Menarik tangan Ayana dan memposisikan tubuhnya duduk di atas perutnya.


"Perempuan maupun laki-laki itu sama saja sayang, semua itu adalah karunia!"


"Iya sayang.. Muach"Mencium bibir Ayana yang tampak merona.


"Makin hari kau makin berat yah.."Mengelus pipi Ayana dan terseyum menatapnya.


"Apaan sih..,turunkan aku...!"


Rey semakin mempererat tanganya yang sedang melingkar di pinggangnya itu karena Ayana mencoba untuk melepaskan tangannya.


"Ya ampun Nona..., sensi banget si kalau lagi hamil, makin menggemaskan deh,cuma bilang itu aja dah ngambek...!"


Melihat Ayana yang sudah cemberut.

__ADS_1


Rey yang ingin menghabiskan waktu di dalam kamar bersama istrinya ini.


menarik tangan Ayana dan mendekatkan wajahnya.


"Dengarkan!,bukan begitu maksudku sayang, makin hari kau makin seksi saja, semakin menggemaskan tahu gak...!"


Rey yang sudah mencium leher Ayana dan


membuatnya merasa geli.


"Ih... sayang,apa yang kau lakukan?"


Reyhano langsung menahan tangan Ayana yang berusaha melepaskan pegangannya, karena ia semakin beringsut merasa geli dengan lidah Rey yang bermain-main di sepanjang lehernya yang mulus itu.


"Kenapa kau wangi sekali,... benar-benar harum seperti bunga yang baru saja merekah, dan membuatku tergoda Ayana, Muach..."


Terseyum setelah mencium bibir Ayana dan melihat pipinya yang merona.


"Ih... apaan sih, siang-siang udah begini, bangun Rey... bangun!"


"Gak papa...tapi kamu suka kan?"Semakin terseyum menatap Ayana.


"Ih.. apaan sih, minggir aku mau ke depan saja menghirup udara segar..!"


"Ett.... tidak boleh"


menahan tangan Ayana yang sudah beranjak berdiri dan melarangnya pergi meninggalkan ranjang.


"udara segar apaan!, ini bukan pagi hari sayang,apa kau benar-benar ingin menghirup udara segar?"


"Iya benaran!"


"Mau aku kasih tahu gak?, tempat untuk menghirup udara yang paling segar di mana pun kamu berada?"


"memang ada?"Ayana ragu dengan perkataannya.


"Kemarilah aku beri tahu!"


"Sstt....."Rey langsung memeluk Ayana erat dan membekapnya di dalam dada.


"Di pelukanku!...,Cium aroma tubuhku yang wangi ini, pasti kau akan merasa sangat segar,iya kan?.."


"Ih... Rey, benar-benar menyebalkan kamu ini, lepaskan!,kamu kan belum mandi...."


Dengan suara yang kesal dan meronta-ronta ingin melepaskan pelukannya.


"Kau tidak ingin di peluk olehku... memang aku bau asam?"


Tanya Rey menahan Ayana yang berusaha melepaskan pelukannya itu.


"e'.... tidak juga sih!"Ayana berkata jujur dan segera menutupi mulutnya sambil tersenyum.


"Tuh kan bilang saja kau suka di peluk begini!"


"Bukan aku yang suka.... bukan aku..!"


"Lalu siapa?, Jangan menyalahkan baby yah,ini itu identik dengan mamahnya loh..!"


"Terserah kau!, lepaskan!"


"Muach... bagaimana kalau kita menghabiskan waktu di kamar hari ini?"Tanya Rey menggoda.


"e'....e.. kenapa gitu, bagaimana kalau di luar?"


Ayana yang sedikit mengalihkan pembicaraan dan sedang tersenyum sebenarnya.


"Tidak mau!,Karena aku ingin bersamamu terus hari ini... muach...muach... muach..."


Rey menelusuri leher Ayana kembali dan berulang-ulang menciumnya.


"Rey...apa yang kau lakukan!"merasa geli.


Bicara Ayana memang menolak,tapi tubuhnya memang mengiyakan apa yang sedang di lakukan suaminya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2