
Aku benar-benar tidak suka jika bukan aku yang mendapatkan boneka kelinci itu...
Rey masih berjalan dengan raut wajah yang terdiam karena kesal.
Sementara Ayana masih mengikutinya sambil tersenyum senang memandangi boneka kelinci itu.
"Kau sangat menyukai boneka itu?"Tanya Rey heran.
"Iyah, bukanya ini sangat lucu..."sambil tersenyum manis memandang boneka itu.
"Ya sudah permainan apa yang kau mau lagi"
"e... tidak usah, boneka ini saja sudah cukup, aku hanya ingin jalan-jalan saja disini"
syukurlah aku memang tidak bisa bermain di tempat alay seperti ini.. memalukan..
"Tapi aku lapar..."sambil memegangi perutnya.
"iya sudah kalau begitu kita cari restoran saja!"
"Tidak mau...aku hanya ingin makan di tempat seperti ini"
"Disini?, maksudmu di tempat gerobakan seperti ini...?"
Rey yang sudah mengerutkan keningnya, memandang sekitaran para penjual keliling itu, tampak raut wajahnya yang kurang meyakinkan untuk menyetujui permintaan Ayana.
"Iya kenapa, anda tidak mau?"
aku yakin sekali Tuan Muda pasti menolak untuk makan di tempat seperti ini,aku hanya ingin lihat seberapa besar rasa cintanya Kepadaku..
"Bukannya aku menolak,tapi kebersihan di tempat ini tidak meyakinkan..., kau benar-benar mau makan disini?.., bagaimana kalau kita makan di restoran saja?..".
"Aku bosan makan di restoran...!"Jawab Ayana pelan sambil meninggalkan senyuman manisnya.
dia terlihat kecewa, tidak mungkin kan aku makan makanan di tempat seperti ini... pasti rasanya tidak enak...
Membayangkan saja Rey sudah menelan ludahnya merasa jijik, apa lagi memakannya.
"Iya sudah kalau begitu kita pulang saja, lebih baik aku makan di rumah!"
Ayana yang sudah membalikkan badannya mengajak Rey untuk pulang karena merasa kecewa.
"E... tidak... tidak.. baiklah!, kita akan makan disini!"
Demi mendapatkan hati istrinya apapun akan di lakukan oleh Rey, sedangkan Ayana sedang tersenyum karena merasa senang kali ini.
Mendekati satu persatu jajanan yang ada di sekeliling alun-alun kota, banyak jajanan dan hidangan kecil-kecillan di situ, baik makan khas maupun makanan nasi ataupun rames.
__ADS_1
Tampak beberapa orang yang sedang makan batagor di meja sebelah.
"Aku pengin Batagor,anda mau apa Tuan Muda?.. maksudku suamiku..?"
Cih dia memanggilku manis hanya semaunya saja...
"Tidak, aku tidak ingin apapun,kau saja yang makan aku hanya akan menemanimu".
Sepertinya Rey benar-benar merasa gengsi,ia tidak ingin makan di tempat yang menurutnya kotor seperti ini,tapi Ayana akan terus memaksa dirinya untuk makan makanan di tempat seperti ini, karena jika terus memaksa suaminya lalu suaminya mengiyakan ini sangatlah membuat hatinya senang.
Ayana merasa seperti seorang pelayan yang sedang meluluhkan hati seorang sultan,ia juga ingin sekali melihat seberapa besar cintanya Rey kepadanya sekarang.
"Iya sudah kalau begitu.. aku juga tidak jadi makan Suamiku!, Karena aku tidak ingin makan sendirian!..."Ayana yang sudah memasang wajah datarnya.
"bagaimana bisa begitu?, makanlah!,aku akan menemanimu!.."
"Tidak usah,makan sendirian itu tidak enak!, sebaiknya aku makan di rumah saja.."
Ayana yang mencoba mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Rey yang sudah merasa gregetan dengan sifat istrinya ini.
Ya intinya jika dia tidak mau makan di tempat seperti ini, berarti dia tidak mencintaiku...
Begitulah yang terlintas di pikiran Ayana.
"Iya sudah baiklah, aku akan makan juga disini!"
Jika bukan karena ingin merebut hati Ayana,mana mau aku ingin makan makanan di tempat seperti ini...
"Benarkah..?,kau mau makan bersamaku di sini?" Ayana yang begitu senang dan tak sengaja merangkul tangan Rey.
Tentu saja hal ini membuat Rey begitu senang melihat istrinya yang pertama kali merangkulnya,
"E...maaf" Ayana yang tersadar langsung mencoba melepaskannya kembali.
"baiklah.. sebaiknya kita duduk di sini suamiku!...."
Ayana yang sudah melepas rangkulannya dan terseyum terpaksa menghadap ke arah suaminya karena malu telah merangkulnya tadi.
bagaimana bisa aku merasa begitu senang dan langsung merangkulnya tadi..
kenapa juga jika aku memanggilnya Suamiku ini terasa Aneh bagiku... rasanya tidak terbiasa, lidahku juga terasa kaku untuk mengucapkannya...
Ayana langsung duduk di kursi panjang yang tersedia di situ.
Sementara Tuan Muda yang awalnya senang menjadi cemberut kembali karena Ayana begitu cepat melepaskan rangkulannya.
Dia bilang maaf karena telah merangkul ku hah... memang aku ini apa baginya..majikan?..
__ADS_1
Bahkan yang lebih mengesalkan lagi mendengar perkataan maaf dari Ayana yang sudah melepas rangkulannya itu.
Masih mencoba mengontrol emosinya,Rey segera duduk di samping Ayana.
"Mas..mas.. pesen dua porsi yah..!"Ayana yang melihat pedagang itu yang mendekat ke arah mereka berdua.
"Baik kak!, Tunggu sebentar.."
Pedagang itu langsung segera menyiapkan dua porsi milik Ayana dan Rey.
Apa makanan ini enak sekali..?,kenapa mereka terlihat lahap sekali memakannya....
Tuan Muda yang sudah menelan ludah sendiri melihat beberapa orang yang sedang menikmati makanan itu di meja sebelah.
Sejak kecil memang pola makan Tuan muda itu
sangatlah terjaga,ia tidak pernah berani menyentuh makanan jalanan yang tersedia di pinggiran ataupun emperan.
Rasanya aku sangat senang bisa makan batagor kali ini,aku sudah lama semenjak tidak kuliah aku belum pernah makan makanan seperti ini lagi...
kenapa rasanya lidahku ini teringin sekali memakan batagor ini ..,
bahkan air liurku terasa mengalir cepat karena tidak sabar menikmatinya...
Ayana yang begitu merasa tidak sabar untuk menikmatinya, rasanya ia ingin sekali memakannya sekarang juga.
Di waktu kuliah dulu, Ayana memang sering beli makanan atau jajanan yang ada di penjual keliling,
karena kebetulan sebelum ia masuk ke jam kampusnya, ia selalu mendapati penjualan keliling yang selalu berjualan di depan gerbang kampusnya, bersama teman-teman dekatnya dulu.
yah..aku jadi rindu teman-teman dekatku, bagaimana kabar mereka sekarang...
Ayana yang sekilas teringat akan teman dekatnya Siksa dan Mia di waktu kuliah dulu.
kira-kira kapan aku bertemu mereka lagi...
Tak lama kemudian makanan pesanan mereka sudah datang di meja makan, membuat Ayana yang terpikir akan teman-teman dekatnya langsung menghilang begitu saja.
"Silahkan kak,ini pesannya!"pedagang mempersilahkan keduanya untuk segera menikmati makanannya.
"baiklah, makasih mas..!"Ayana yang sudah terseyum lebar memandang makan itu,ia benar-benar tidak sabar untuk memakannya.
Sementara Tuan Muda sedang menatap makanan itu lekat,entah apa yang sedang ia pikirkan,
Apa ia sedang berpikir lagi, Ia mau makan atau tidak?, mungkin ia sendiri benar-benar takut untuk makan makanan di tempat seperti ini.
Tak usah menunggu lama lagi, Ayana langsung berdo'a dan segera menyantap makanannya, ia tak perduli dengan tingkah lelaki yang masih terdiam menatap mangkok porsi makannya.
__ADS_1
"Ya ampun ini enak sekali..."Ayana sambil tersenyum menguyah makanya, sementara Rey terus memandang istrinya yang sedang menikmati makanannya itu.