Monopoli Cinta Tuan Muda

Monopoli Cinta Tuan Muda
Perihal Gunting


__ADS_3

Tak terasa pagi pun tiba, Ayana masih tidur terlentang di atas ranjang dengan gaun pesta yang masih melingkar di tubuhnya,


Pancaran sinar matahari dari jendela kaca kamarnya membuatnya kaget dan terbangun,


"Hah...gila jam tujuh, kenapa aku baru bangun" ia pun kaget saat melihat baju pesta yang masih melingkar di tubuhnya.


"bagaimana aku bisa tidur dengan posisi seperti ini?, kenapa aku masih memakai baju pesta ini,apa semalam dari pesta aku langsung tidur begitu saja tanpa membersihkan badan?...".


Ayana sambil mengingat-ingat tentang semalam, kepalanya pusing seketika...


"Ah.. kenapa aku tidak mengingat apapun,aku hanya ingat aku pusing kepala saat di pesta, iya aku memang pusing kepala... terus..,e..tapi aku tidak mengingat apa yang aku lakukan setelah Tuan Muda menghampiriku saat aku pusing kepala..?"Ayana sambil memegang kepalanya memikirkan tentang semalam.


"Ah.. aku tidak tahu, mungkin Suamiku yang seperti raja itu yang mengantarku ke kamar untuk istirahat"


Ayana terbangun dari ranjang,ia beranjak berdiri untuk membersihkan badannya,..


"Aduh kenapa aku santai begini?,aku kan harus menemani manusia gila itu ke kantor!"


Ayana langsung bersiap-siap mengambil bajunya, mempersiapkan peralatan mandinya dan mencari-cari ikat rambut yang tidak melingkar di kepalanya itu.


"Aduh.. dimana ikat rambutku?, kenapa tidak ada di laci rias?, bukanya biasanya aku taro di sini!" Ayana yang terus mencari cari ikat rambutnya, kesana kemari.


Tak lama kemudian ia melihat keberadaan ikat rambutnya yang tergeletak di lantai di balik pintu kamarnya.


"kenapa ikat rambutku ada disitu?,apa aku melemparkannya semalam?, tapi tidak mungkin... aku tidak pernah melempar ikat rambut!"


Ayana langsung bergegas mengambil ikat rambutnya dan tidak sengaja mendapati bercak darah yang terpapar di lantai di balik pintu kamarnya.


"Apa ini?,kok.. seperti darah?" Ayana yang mengamati bercakkan darah tersebut lalu mencoba mengusapnya,


"ini memang darah kan?, warnanya seperti darah?, tapi ini memang sudah kering, tapi darah siapa ini?"


Ayana yang terdiam dan berpikir,ia tampak bingung dengan semua ini..


"Apa aku sedang menstruasi?, he'h.. tapi tidak itu tidak mungkin,aku kan tidak sedang menstruasi, darah siapa ini?, sebenarnya apa yang terjadi semalam?".


Ayana yang benar-benar bingung sendiri sambil menggerutu memikirkan tentang semalam, kenapa ia tidak mengingat apapun dari waktu pusing itu.


"Sebenarnya aku kenapa si?, kenapa aku tidak mengingat apapun tentang semalam?"Ayana berbicara sambil memasuki pintu kamar mandi.


Tuan Muda sudah rapi,ia terdiam duduk di sofa ruangan keluarga sambil memainkan ponselnya, tidak seperti biasanya ia serapi ini di pagi hari, biasanya ia menunggu Ayana yang menyiapkan dan melayaninya keperluan kantor, tapi kali ini melakukannya sendiri.


"Apa itu Bi?"


Tanya Tuan Muda yang melihat salah satu pelayan rumahnya menghampirinya sambil membawakan sesuatu barang di tangannya.


"Ini ada paket baru datang untuk Anda Tuan!,"


Bibi Pelayan yang menjelaskan dan menaruhnya di atas meja


"Paket apah.?,aku tidak memesan apapun?,Bi coba tolong bukain!"Perintah Tuan Muda yang masih fokus menghadap ke layar ponselnya.

__ADS_1


Bibi pun langsung segera mengambil gunting untuk memotong kabel tie yang masih melingkar di kantong paketnya.


"Bi apa yang kau pegang?"


Suara lantang Tuan Muda yang membuat kaget Bibi Pelayan, karena suaranya memenuhi seisi ruangan,ia merasa gelisah melihat sebuah gunting dan membuatnya ingat dengan tingkah Ayana semalam.


"Apah?.. apanya tuan Muda?"


bibi yang tampak bingung dan berdebar Karena kaget.


"E.. tidak maksudku...cepat buka dan singkirkan gunting itu!,dan satu lagi singkirkan gunting-gunting yang terlihat di sekitaran rumah,bila perlu umpet-in di laci-laci atau tempat yang tertutup dan tak terlihat!,beri tahu juga kepada seluruh pekerja yang lain, Karena aku tidak suka melihat gunting-gunting yang terlihat!"


sejak kapan Tuan Muda sangat membenci gunting?, bukanya biasanya melihat gunting di meja biasa saja....


"Oh... baiklah Tuan muda, kalau begitu saya akan segera memberitahukan kepada seluruh pekerja lain untuk menyingkirkan gunting-gunting yang terlihat di sekitaran rumah!"


Bibi hanya mengiyakan perintah Tuan mudanya, walaupun ia merasa aneh dan bingung karena perintah Tuan Muda yang ini aneh tidak seperti biasanya ini.


"Iyah baguslah!"Tuan Muda yang fokus kembali ke layar ponselnya.


Felly terlihat sangat cantik keluar dari pintu kamarnya dengan pakaian yang modis seperti akan berpergian,...


Ia langsung menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya.


"semua persiapan mu sudah selesai Sayang?" Rey sambil membelai rambut Felly dengan lembut.


"Sudah sayang kita tinggal berangkat!"Felly yang tersenyum senang sambil memegang tangan suaminya.


"Tidak papa sayang!,aku hanya kena pecahan gelas yang aku jatuhkan semalam!"


"kenapa kau tidak bilang kepadaku sayang?, pasti ini sangat sakit yah?" Felly yang tampak khawatir sambil mengelus telapak tangan Suaminya.


"Tidak sayang,ini hanya luka kecil!"Tuan Muda yang langsung tersenyum menatap Felly.


"Hati-hati di sana!, jaga diri baik-baik!, jangan berbuat macam-macam yah, istirahat yang cukup!, jangan lupa sering menghubungiku,aku pasti akan sangat merindukanmu!"Tuan Muda yang langsung mencium kening istrinya.


"iya sayang!, pastinya aku akan sering menghubungimu, lagian aku kan cuma pergi sebentar kok, cuma satu Minggu!"Felly langsung memeluk erat suaminya.


"Satu Minggu itu lama sayang,aku pasti rindu..!"Jawab kembali Reyhano yang ikut memeluk erat istrinya.


"aku juga rindu sayang"


Setelah lama membersihkan diri di kamar mandi, akhirnya Ayana selesai juga membersihkan dirinya.


Ia langsung bersiap-siap dan merapikan rambutnya seperti biasanya, memoles sedikit riasan di wajahnya agar terlihat lebih segar dan menawan.


"thok..thok..thok.."ketukan pintu terdengar di pintu kamarnya.


"Iyah... masuklah!"


Ayana mempersilahkan masuk karena ia sedang sibuk menata rambutnya agar rapi bergelombang di ujung rambutnya seperti biasanya.

__ADS_1


"Nona,apa ada sudah siap?, semuanya sudah menunggu di meja makan untuk sarapan!" salah satu pelayan rumahnya yang datang itu.


"oh iya baiklah, Terimakasih Bi..aku akan segera ke sana dalam waktu dua menit!"Ayana yang langsung terburu-buru mengakhiri riasannya dan segera keluar dari kamarnya untuk bergabung ke meja makan.


Udah jam segini lagi, pasti Manusia gila itu akan memarahiku nanti....


Ayana yang merasa gelisah melihat waktu yang terus berjalan cepat semakin siang.


Pakaian dress yang ia kenakan hari ini tampak sangat indah dan cocok di tubuhnya, dress dan sepatu heels-nya sangatlah cocok dan senada, rambutnya yang panjang bergelombang membuatnya terlihat cantik dan bener-benar menawan saat di pandang.


Cantik juga dia, ternyata pintar berdandan sekarang...


Tuan Muda yang tidak berhenti menatapnya yang sedang berjalan menuju meja makan.


Tunggu!,apa dia sudah waras kembali?,...


Tuan Muda tampak penasaran dengan sikap Ayana hari ini, mengalihkan pandangan kembali berhenti menatapnya dan ia langsung melihat gunting yang tergeletak di meja makan.


Bagaimana bisa ada gunting disini?, bukankah aku sudah menyuruh para pelayan untuk menyingkirkan seluruh gunting yang terlihat...


Rey yang tampak gregetan dan langsung melempar gunting ke kolong meja makannya.


"Pagi Mah,pagi Tuan Muda dan Pagi Nona" Ayana yang langsung menyapa,tersenyum ramah dan langsung duduk di sebelah ibu mertuanya.


"Iyah pagi juga Ayana"Ibu mertuanya yang membalas sapaan Ayana sambil tersenyum manis.


sepertinya dia sudah sadar sekarang...,


Tapi bagaimana bisa sikapnya sangat berlawanan dari semalam, ia terlihat sangat berbeda, saat sadar ia tampak terlihat sangat manis saat bersikap,


apa di balik semua ini ia sedang menahan perasaannya yang sesungguhnya seperti tadi malam...?


Tuan Muda yang masih terdiam sambil memainkan sendok-nya menatap Ayana kembali.


Kenapa Tuan Muda menatapku seperti itu?,apa ada yang salah dengan penampilanku..?


Ayana yang tidak sengaja bertemu pandangan dengan suaminya.


"Mah biar aku yang melayani mu!"Ayana yang melihat ibu mertuanya mengambil makanan sendiri.


"baiklah" mamah tersenyum senang menatap Ayana.


semenjak kehadiran Ayana, suasana hatiku saat sarapan di meja makan seketika berubah cerah tidak seperti biasanya...


biasanya tidak ada yang melayaniku, tidak ada yang perhatian,apa lagi menyapaku, sikap dingin putraku membuatku sesak setiap hari,tapi kehadirannya membuat rasa hatiku sedikit lega dengan kesesakan ini...


"Sayang sini biar aku suapi!, tanganmu sedang terluka,aku saja yang menyuapi mu!"


Felly yang perhatian kepada suaminya, suasana hatinya yang sedang berseri-seri membuatnya ingin melayani suaminya dengan baik.


Tangan Tuan Muda terluka..memang dia terluka kenapa..?

__ADS_1


Ayana bertanya-tanya sendiri sambil memulai sarapan paginya.


__ADS_2