
Sayup-sayup hembusan nafas terasa lembut menyentuh setiap lapisan kulit pipi wajah Ayana,
terasa begitu hangat dan nyaman saat di rasakan oleh Ayana yang masih memejamkan mata tepat di samping wajah suaminya itu.
Ia masih berada di antara sadar dan tidak sadar, matanya masih begitu susah untuk di buka, ia masih merasa sangat ngantuk,
Kedua wajah yang saling berdekatan itu pun saling tukar menukar nafas,.
Hingga sampailah Ayana terbangun dari tidurnya, mendapati wajah Suaminya yang begitu dekat dengannya membuatnya kaget dan mengundurkan diri.
Melihat jam yang ada di dinding dan menunjukkan waktu yang sudah semakin siang mebuatnya langsung bergegas untuk bangun dan beraktivitas.
Terlebih lagi hari ini adalah hari kepulangan Felly tentunya ia harus segera kembali ke kamarnya.
Sebelum itu, Ayana menyiapkan beberapa lembar roti tawar,selai dan susu yang ia siapkan di nampan dan di taruh di atas meja samping ranjang Tuan mudanya.
Rey masih terlihat pulas, mungkin badannya butuh istirahat untuk menambah stamina tubuhnya.
Ayana segera keluar dari kamar Rey untuk kembali ke kamarnya,
tapi setelah ia menuruni beberapa anak tangga ia berpapasan dengan kakak Iparnya,
kakak Ipar yang begitu mirip dengan suaminya, yang belum bisa ia bedakan antara keduanya,
bagaimana bisa aku membedakan antara keduanya...
sedangkan wajah dan bentuk tubuhnya sama persis seperti ini.... mungkin aku butuh waktu lama untuk membedakan keduanya..
Untuk memecahkan keheningan,Ray mencoba berbicara terlebih dahulu kepada Ayana yang terdiam menatapnya.
"Apa Rey baik-baik saja?"
Ayana menganggukkan kepalanya sambil menunduk tidak berani menatap kakak iparnya.
"Tak usah bersikap seperti itu!, panggil saja aku kakakmu,aku tidak segalak suamimu kok!"
Ray sambil tersenyum meninggalkan Ayana.
Ayana tidak mengucapkan apa-apa, ia merasa begitu canggung saat berpapasan dengannya tadi, Ia pun segera melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
"Tunggu Ayana!"
Panggilan dari kakak Iparnya yang kembali memberhentikan langkahnya.
"Datanglah ke acara ku!,aku harap kau bisa datang!"
Ray tersenyum sembari memberikan sebuah undangan kepada Ayana.
Ayana menerimanya dengan baik,menatap undangan itu lama dan tanpa sadar Ray sudah menghilang dari hadapannya.
*****
Mobil sudah terparkir di parkiran lobby bandara internasional,
15 menit sebelum penerbang pesawat Felly mendarat Danu sudah standby seperti biasa menjemput Nona mudanya.
benar-benar anak buah yang teladan!.
__ADS_1
Tak lama kemudian pesawat pun mendarat dengan sempurna,
Danu segera menghampiri Nona mudanya dan membawakan barang-barangnya menuju ke mobil.
Baru kali ini, kepulangan Felly tanpa jemputan dari Tuan muda, biasanya tidak pernah Tuan Muda tidak menjemput kepulangannya.
Tanpa halangan dan kendala keduanya langsung kembali ke rumah.
Tuan Muda sudah terbangun,Ia sedang sedang berdiri di balik kaca besar kamarnya,menatap lingkungan sekitar rumahnya,
Baru kali ini juga Tuan Muda berwajah datar dan begitu terdiam menatap pemandangan sekitar, seharusnya wajah berseri-seri yang ia tampakkan bukan, atas kepulangan istrinya kali ini,
Namun sepertinya pikirannya sedang tenggelam di suatu tempat.
"Sayang...!" Teriak Felly yang menghampiri Rey dan langsung memeluknya dari belakang.
"Sayang...kau sudah pulang.."
Tuan Muda yang mencoba tersenyum senang di hadapan Felly,sebenarnya pikirannya masih sangat kacau dan tenggelam dengan lamunannya itu.
"Kau baik-baik saja sayang?,apa kamu masih sakit?"
Felly berbicara manja dan masih menggelayut di lengan suaminya itu.
"Tidak Sayang aku baik-baik saja!" Rey mengelus kepalanya dan menyuruhnya untuk duduk di ranjang.
bagaimana aku merasa biasa saja dengan kepulangannya...
Ada apa dengan perasaanku...
Tuan Muda yang merasa aneh dengan perasaanya sendiri,biasanya dia sangat senang dan gembira ketika Ayana pulang dari manapun itu.
"hmm"Jawab Rey singkat.
"maafkan aku!,... yang telah membiarkan Ayana keguguran!, seharusnya aku memperingatkan teman-temanku waktu itu, seharusnya ini tidak terjadi...!"
Felly berbicara dengan nada lemas dan muka kusutnya menatap suaminya.
"Sudahlah lupakan saja!,Anggap saja ini tidak pernah terjadi!"
Andai saja Nadin tidak meracuni Ayana waktu itu, mungkin kehidupanku dengan Ayana akan segera berakhir...
Sial...aku harus mengulang dan menunggu kembali sampai Ayana benar-benar memberikanku seorang Anak....
"Baiklah..!"
"Bagaimana liburanmu di sana apa kau sangat senang?"Tanya Rey sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Aku sangat senang tapi masih kurang?.."Felly dengan tersenyum memeluk erat suaminya.
"Kurang...?"Tanya Tuan Muda yang sedikit Heran dengan jawabannya.
"Iyah...aku merasa kurang, karena kamu tidak ikut di sana sayang, mungkin jika bersamamu.. liburanku akan lebih memuaskan!".
Felly langsung saja mencium pipi suaminya berulang-ulang.
"Apa kau merindukanku?"Tanya Rey pelan.
__ADS_1
"Iyah..Tentu saja sayang!,aku sangat merindukanmu..!"
"lalu kenapa kau jarang memberi kabar?"Tanya Rey sambil tersenyum mantap istrinya.
"Deg"Felly yang mendengarnya langsung menggarukan kepalanya karena bingung harus menjawab apa.
Sebenarnya sesibuk apa sih ia di luar negeri?, sehingga jarang memberi kabar kepada suaminya!,
apakah ia terlalu sibuk bersenang-senang, sehingga lupa waktu dan lupa mengabari suaminya?...
Ataukah ada kesibukan lainnya?..
"Ah...aku hanya takut mengganggu kesibukanmu sayang, dan kamu tahu sendiri!.., perbedaan waktu disana sangatlah berbeda dengan sini!, kadang jika aku mengabari mu di waktu siang,di sini waktu malam,aku hanya takut mengganggu Istirahat mu!... maafkan aku sayang!.. Maaf..!"
"Iya...iya baiklah aku memaafkanmu!".Rey mengelus rambut istrinya sesekali.
*****
Ayana sudah cantik dan wangi,ia keluar dari kamarnya untuk mengambil Roti tawar dan selai karena merasa sangat lapar.
Ia berjalan menuju Dapur dan mengambil apa saja yang sedang di butuhkan-nya.
Melihat buku-buku yang berjejer di ruangan keluarga sekian kalinya, membuatnya terpersit untuk mengambil dan membacanya,
beberapa buku yang ia baca kemaren mebuatnya ketagihan dan tergoda untuk membacanya kembali.
Ia langsung mendekati ke arah rak buku. Mengambil dua buku yang ia lihat dan agak sedikit menarik dari judulnya yang ia baca.
Lalu membayangkan ia duduk santai dan membaca di ruangan keluarga sudah membuatnya ilfil, jadi ia memutuskan untuk kembali ke kamar.
Lagi-lagi karena jalannya yang meleng ia menabrak seseorang di depannya dan menjatuhkan ke-dua buku itu,
menatap baju yang ia pakai kesekian kalinya membuatnya mencoba memanggil dengan sebutan kakak Ipar.
"kakak..!"
Apa di setiap harinya ia harus memperhatikan baju apa yang suaminya pakai itu dan baju apa yang kembaran suaminya itu pakai..uh.. ini sungguh melelahkan.
Ray langsung tersenyum mendengarnya,...
"Kamu sudah bisa membedakan aku dengan suamimu..?"
Ayana hanya tersenyum sambil menunduk mengambil buku yang sudah ia jatuhkan.
Rey ikut menunduk membantu mengambil buku yang terjatuh itu.
"Kau suka membaca buku?"Tanya Ray sambil memegang satu buku yang belum Ayana ambil.
"e.. Iyah...aku suka membaca buku Tuan..e..kak"
Ayana menjawab pertanyaannya dengan gugup sambil mengambil satu buku yang masih di genggaman Ray.
Namun Ray tidak melepaskan genggaman bukunya,Ia justru mempererat genggamannya dan membuat Ayana kesusahan untuk mengambilnya,
Bahkan Ray menatap mata Ayana lama dengan tatapan penuh tanda tanya itu
kenapa dia menatapku seperti itu?..apa yang sedang ia pikirkan..?..
__ADS_1
Ayana yang melihat tatapanya semakin canggung dan jantunya berdebar kencang.