
Terasa selimut seperti ditarik sehingga badan merasa dingin karena AC yang menyala. Dia akhirnya mencari selimut lagi dan memasangkan kebadannya lagi untuk meneruskan mimpinya lagi. Kembali lagi terasa selimut ditarik oleh seseorang sehingga sang mpu mulai merasa geram dan marah.
"Bibi udah ah jangan jahilin Lanaaaaa. Ini masih pagi Lana pengen tidur dulu, sana ahh." gerutu Lana sambil mata masih tertutup.
"Pagi apanya Lanaaaa ini udah sianggg jam 7 lebih, ayo bangunnnnn.." jawab seseorang yang sedari tadi mengganggu tidur Lana yang tidak lain adalah kakek Lana.
Mendengar kakek sudah mulai menaikkan nada suaranya Lana segera bangun dari tempat tidur dengan keadaan terduduk di samping tempat tidur.
"Eh kakek ternyata yang bangunin Lana." Seru Lana dengan cengengesan sambil mengucek matanya.
"Eh kakek eh kakek, kamu udah dewasa, Na. Kakek nggak selamanya ada buat kamu. Kamu harus mandiri dan disiplin." ucap kakek yang mulai berkaca-kaca menatap sang cucu yang sudah dewasa sekarang.
"Arrrkhggg kakek jangan ngomong gitu kek. Lana bakal butuh selalu kakek. Kakek bagi Lana itu segalanya, Lana nggak punya siapa-siapa selain kakek." seru Lana menghampiri kakeknya sambil menggeleyot di tangannya.
"Kakek bakal selalu ada buat Lana, sampai ajal menjemput kakek." ucap kakek dengan nada pasrah sambil mengelus kepala Lana.
Lana mendengar hal tersebut langsung memeluk sang kakek.
"Kakek akan selalu panjang umur, Lana bakal nyogok Tuhan supaya dikasih diskon penambahan umur kakek." Celetuk Lana sambil mendongakkan kepalanya melihat mata sang kakek.
Sang kakek langsung terhadap tersenyum mendengar omongan Lana.
"Lah kamu bisa aja deh buat kakek ketawa."
"Bisalah kan cucu kakek ini istimewa."
"Iyalah istimewa, orang kamu cucu satu-satunya." jawab kakek sambil mencubit hidung kecil Lana.
"Yaudah sekarang cepetan mandi dan langsung ke ruang makan. Setelah itu kita ke kantor. Siap pasukan!" tambah kakek Lana.
"Siap komandann, perintah segera dilaksanakan!!" jawab Lama sambil berdiri tegak bagai seorang prajurit di Medan tempur.
Kakek dan cucu itu tertawa bersama disertai kicauan burung yang melintas di awan layaknya ikut bergembira melihat kakek dan cucu yang bahagia bersama.
Lana segera ke kamar mandi sesuai perintah sang kakek. Beberapa menit kemudian Lana telah selesai mandi dan segera mengeringkan rambutnya yang basah. Setelah itu ia beranjak keluar kamar mandi menuju ke ruang pakaiannya yang cocok dengan mood hari ini. Lalu ia keluar dari ruang pakaian menuju ke meja riasnya. Lana tipe orang yang tidak suka make-up ribet dia memilih menggunakan make-up yang simpel dan natural ala-ala Korea yang selalu ia pakai setiap harinya.
__ADS_1
Saat sedang fokus bermake-up terdengar notifikasi pesan baru di hpnya. Lana dengan segera menghampiri hpnya yang di cas di atas meja disamping tempat tidurnya.
"Oppaa!! Apaaa boleh kau selalu tampan seperti ini haaa!" dengus Lana melihat wallpaper lockscreennya.
"Kau jadikan aku istri kedua pun aku mau oppaaa Cha Eun Woo!!" tambah Lana sambil mencium layar hpnya.
"Halu mulu aku nih, heran deh. Ohh pesan dari Rere."
•Teree Teposss•
Lan, nanti pulang kerja kamu mampir ke resto yaa. Nggak ada kata nggak, AWAS AJA SAMPAI NGGAK DATANG AKU SANTET KAMU!!! (ー_ー)
"Anjir main santet-santet aja ni bocah, aku makan juga ubun-ubunnya ni orang." batin Lana.
Iyaaaaa, awas aja lu jahilin aku.
AKU SEDOT UBUN-UBUNMU SEKALIAN AKU SRUPUT USUS KAMU.
•Terkirim✔️✔️
"Lama banget kamu, Na. Kakek sampe udah beruban nih." celetuk sang kakek sambil menyentuh rambutnya.
"Itu mah dari dulu, kek. Tuh sampe di ketawain bibi ipeh sama mbak Sri." jawab Lana dengan cengengesan.
Bibi Ipeh adalah art senior di rumah Lana dengan umur yang sudah lumayan berumur namun, bibi rela mengabdi di rumah Lana dan menyayangi Lana seperti cucu dan anak sendiri karena keluarga bibi sudah tidak ada atau entah dimana sampai tidak pernah mencari bibi. Mama Lana adalah penolong bibi Ipeh dan karena itulah bibi Ipeh menetap di rumah Lana.
Mbak Sri adalah art junior. Beliau mempunyai suami dan anak yang harus ia tinggal sebentar karena terdesak kebutuhan ia harus rela meninggalkan orang yang ia sayangi. Beliau telah bekerja di rumah Lana selama 5 tahun
"Pagi-pagi harus happy dong, ya kan bi, mbak." ucap kakek dengan semangat.
"Betull tuan." jawab kompak bibi dan mbak.
"Dihh paling bisa deh kakek nyogoknya. Nih gajiannya ditambah berapa kali lipat nih bisa kompak banget sama kakek."
"Hehh jangan bahas gaji nanti kakek pusing mikirnya." celetuk kakek sambil pura-pura memijit kepalanya.
__ADS_1
"Pusing kebanyakan uang ya, Tuan." seru bibi Ipeh dengan jahil.
"Nah Lana setuju bi."
"Ya kebanyakan uang karena melihara tuyul. Kamu kan tuyulnya kakek, Na."
"Dihhh tuyul nggak tuh." Jawab Lana dengan cemberut.
Semua yang ada di ruang makan tertawa bersama seakan-akan dunia sedang baik-baik saja tanpa perlu khawatir kejamnya dunia ini akan memasuki hidupmu.
Lana dan kakek bergegas ke kantor mengendarai mobil mereka. Seperti biasa Lana selalu di kawal oleh bodyguard suruhan kakeknya. Sang kakek dari dulu selalu khawatir terhadap cucunya karena ia tidak punya siapa-siapa selain cucu satu-satunya itu. Lana yang selalu dikawal pun merasa tidak merasa nyaman karena merasa dirinya dibatasi untuk melakukan apapun dan teman-temannya selalu memandangnya dengan kata "suka pamer/orang kaya". Padahal dirinya pun tidak suka dikawal dan selalu dibantu oleh bodyguardnya.
"Kek apa Lana akan dikawal terus ya?" jawab Lana dengan polos.
"Ya terus. Jangan membantah turuti aja kata kakek." tegas sang kakek.
"Nanti kamu evaluasi pegawai baru." tambah kakek dengan menyodorkan berkas nama-nama pegawai kantornya.
Lana hanya mengangguk dan menerima berkas tersebut seperti yang diperintahkan sang kakek. Lana selalu menurut jika kakek yang memerintah. Bagi Lana kakek adalah segalanya dan kebahagiaan kakek adalah hidup Lana juga.
Sesampainya di kantor Lana dan kakek disambut oleh beberapa satpam dan pegawai, mereka memberikan salam selamat pagi dengan membungkukkan badan dengan sopannya. Kakek dan Lana pun membalas salam dengan senyuman hangatnya kepada para pegawai dan sambil terus berjalan melewati pegawai menuju lift. Sang kakek berbeda arah sehingga Lana ditemani bodyguardnya menuju ruang evaluasi. Di depan lift Lana berpapasan mata dengan pria yang menurutnya lumayan keren dan pria itu mulai mendekatinya sehingga para bodyguardnya menghalanginya. Lana pun menyuruh untuk membiarkan pria itu mendekatinya.
"Ma'af ini saya mau tanya ya. Ini ruang evaluasi pegawai dimana ya, mbak." tanya seseorang yang tidak bukan adalah pegawai baru yang tidak tahu dimana lokasi ruang evaluasi.
"Nama mu siapa?" tanya Lana balik.
"Ezio Alfarezi Juanno." jawabnya dengan tegas.
Lana membuka berkasnya dan mencari nama tersebut serta langsung memberi nilai minus kepadanya karena datang terlambat.
"Ikut saya saja, nanti kamu aku kasih tahu ruangannya."
"Terimakasih, mbak. Semoga saja saya bisa lolos walaupun telat." ucap Juan dengan bimbang.
Lana hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke pintu lift yang terbuka menunggu hadirnya orang.
__ADS_1