My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 65


__ADS_3

“Papa.” 


Bibir mungil Lana berteriak bahagia, meluruhkan resah yang bergelayut di benak Bayu. Sesaat, pria itu mengalihkan cemburunya, mendekap sosok mungil yang sudah menaiki pangkuan dengan lancang.


“Kenapa, Sayang?” Bayu mengecup pipi Lana, ekor mata terus mengikuti Shanuella yang menerima panggilan di ujung beranda. Beberapa meter dari tempatnya duduk.


“Papa bau.” Lana menutup hidung, menjepit dengan jari-jari kecilnya. Aroma nikotin mendominasi beradu dengan sensasi kafein yang samar-samar tercium di ujung embusan pria dewasa tersebut.


“Benarkah?” Bayu mengembuskan napasnya di depan telapak tangan dan menghirupnya sesaat. Tak lama dia tergelak dan meneriaki Mbok Sari agar mengambilkan segelas air putih.


“Mbok, tolong ambilkan air putih untukku.” Bayu terkekeh, membuang muka ke arah lain. Tak mau putri semata wayangnya protes berkepanjangan.


“Yanya ambil.” Bocah perempuan berusia empat tahun tersebut melompat turun dari pangkuan papanya dan terkekeh pelan. 


Bayu menatap gadis kecilnya berlari masuk ke dalam rumah. Rambut yang diikat kuda tampak berayun ketika tubuh mungilnya melesat cepat. Terombang-ambing mengikuti gerak tubuh lincahnya. Tatapan beralih pada Shanuella, istrinya itu masih mematung di tempat semula. 


Berusaha menguping, tetapi pendengarannya tak sanggup menangkap sepatah kata pun. Suara Shanuella terlampau pelan, seakan bersembunyi darinya. Mengendap-endap, Bayu memilih melingkarkan tangan di pinggang wanita itu dari belakang, ikut menempelkan telinga di punggung tangan yang kini tengah menggenggam ponsel.

__ADS_1


“Hah!” Shanuella tersentak. Dagu terangkat kaku. Wajah datarnya seakan menunjukkan kalau saat ini dia sedang kedapatan selingkuh..


“Ssstt.” Bayu hanya mendesis pelan sembari mengusap perut rata Shanuella agar tak terkejut berlebihan. Dia tak bermaksud apa-apa, hanya ingin menguping pembicaraan istrinya.


“Maaf, Pak. Nanti aku akan membahasnya dengan tim-ku. Em ....” Shanuella melirik sekilas ke arah Bayu yang tengah menyimak obrolannya.


“Baiklah. Aku jemput atau .....”


Shanuella bisa merasakan cengkeraman pelan di perutnya saat Rarendra menawari jemputan. Bayu yang tengah menguping tiba-tiba bereaksi. Dia tidak paham obrolan keduanya, tetapi hatinya sakit dan teriris-iris.


“Kita bertemu di  lokasi saja, Pak,” putus Shanuella. 


Tepat saat panggilan terputus, samar-samar terdengar suara anak kecil menyela. Rarendra tersentak di seberang, mengulang kembali sapaan bocah perempuan yang mengalihkan dunianya.


“Papa!” 


Shanuella dan Bayu menoleh bersamaan, memandang gadis kecil dengan segelas air putih yang isinya bergelombang.

__ADS_1


“Yanya.” Bayu menyambar gelas kaca itu dari tangan putrinya yang cemberut. Gadis kecil itu cemburu saat melihatnya mendekap mesra Shanuella.


“Tidak boyeh peyuk-peyuk Mama.” Kepala Lana menggeleng kencang, menarik tangan kiri Bayu yang bebas menjuntai.


“Kenapa tidak boleh?” Bayu meneguk habis air putih di dalam gelas dan menyodorkan gelas kosongnya pada Shanuella. “Shan, tolong.”


Pria itu berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan sang putri. Diusapnya pucuk kepala Lana dengan penuh kelembutan sebelum akhirnya dua tangan mungil membelit leher dan memeluknya mesra.


Ah, bagaimana aku bisa melepaskan semua ini untuk laki-laki lain. Bukan hanya Shanuella, Lana juga milikku. Bagaimana aku bisa kehilangan dua wanita ini. Aku memang datang tanpa membawa apa-apa, hanya segenggam tanggung jawab dan rasa empati pada keduanya. Tapi, apakah aku salah kalau berharap lebih. Lima tahun ini sangat berarti, bukan hanya sekadar simpati, tapi keduanya terpatri di hati dan mengambil tempat tersendiri. Bayu ya Shanuella, Bayu ya Lana. Kami satu keluarga, bukan berdiri sendiri-sendiri. Kami adalah bagian dari Lesmana.


“Papa,” sapa Lana, menggemaskan.


Bayu memejamkan mata, menikmati dekapan kecil putrinya. Hati terenyuh, tiba-tiba merasakan sesak saat bayangan perpisahan hadir di depan mata. Di tengah gejolak yang tengah menggulung perasaannya, tangan lain terasa memeluk dari belakang. Pria itu benar-benar terkejut ketika merasakan dekapan disusul seseorang menempel erat di punggungnya.


“Shan?” 


Nyaris tak percaya, Bayu membelalak di tengah pelukan Shanuella dan Lana. Di titik ini, keikhlasannya kian teruji. Dia tidak rela melepaskan keduanya untuk Rarendra. Walau pada kenyataan, lima tahun ini keberadaannya tak lebih dari sebatas status.

__ADS_1


Menjerit dalam hati, menangis tanpa air mata. Bayu yang tak memiliki sanak keluarga itu merasa tak rela merasakan kehilangan yang mungkin akan terjadi sebentar lagi.


__ADS_2