My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 60


__ADS_3

“Aku didukung orang hebat. Bukan hebat secara materi, tapi kaya hati, empati, dan dia juga ....” Kedua sudut bibir Shanuella melengkung ke atas, dia tiba-tiba teringat akan Bayu. Sosok gagah yang selama ini memeluk saat terjatuh, mengusap air matanya di kala di terpuruk, dan menguatkan di saat dia lemah.


“Kenapa senyum-senyum?” Rarendra terusik dengan seringai tipis nan manis di wajah Shanuella. Tampak cantik, sayangnya tak ditujukan untuknya. 


“Hah!” Tersentak, wanita itu terkejut saat tertangkap basah memikirkan pria lain.


“Kalau bisa tersenyum, kenapa harus menangis?” Shanuella menjawab santai. “Cukup saat terlahir ke dunia saja ... aku menangis. Aku ingin meninggalkan dunia ini dengan senyuman.” Tersenyum getir, kenyataan dan ucapan tak sejalan. Acapkali, membohongi diri sendiri dan semua orang demi harga diri. Dia menangis berhari-hari sampai air matanya kering, menumpahkan semua pilu di bahu Bayu.


Rarendra mengamati lekat-lekat wanita yang membangkitkan sepotong kisah manisnya di masa lalu. Walau tak lama, diakuinya Shanuella sanggup menggetarkan rasa yang dulu sempat musnah. Patah hati karena meninggalnya sang kekasih, dia jadi pribadi yang menutup hati dan diri.


“Tersenyumlah. Kamu jelas lebih cantik saat tersenyum.” Rarendra menyudahi obrolan pribadi itu dan mencoba mengatur hatinya kembali. Shanuella membuatnya jadi sosok berbeda sejak kemunculan kembali di dalam hidupnya.


...✔️✔️✔️...


“Kamu di mana?” Rarendra menghubungi Bayu di depan mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. 

__ADS_1


“Maaf, Bos. Aku terjebak macet. Tadi, berangkat sedikit kesiangan. Putriku rewel.” Bayu berdusta. Dia tak berani muncul saat mengetahui ada Shanuella di sana. Sebelum berterus terang pada istrinya, dia tak akan mau hadir di hadapan keduanya.


“Masih lama? Kebetulan ... aku ada urusan. Aku butuh bantuanmu mengantar Shan-Shan.” Rarendra menjelaskan dengan santai.


“Masih lumayan, Bos. Aku ... ada di ....” Bayu mengedarkan pandangan di sekitar. Saat ini, dia ada di sekitar rumah tinggal Shanuella yang lama dan mengawasi dari kejauhan. “Ter ... terjebak macet di tol,” ungkapnya terbata-bata.


“Pak, aku tidak apa-apa pulang dengan taksi.” Shanuella menyela obrolan. 


“Benarkah?”


“Ya sudah, Bay. Dia bisa naik taksi.” Mengulum senyuman, Rarendra menatap Shanuella dengan pandangan yang sulit diungkapkan. 


Memutuskan panggilannya, Rarendra kembali mengamati wajah Shanuella. Ditelitinya seakan hendak mencari tahu apa yang ada di dalam hati wanita tersebut.


“Dia asistenku.” Rarendra berbasa-basi. “Suatu saat aku akan mengenalkannya padamu. Dia bawahan setiaku. Kami ... em ... namanya Bayu.”

__ADS_1


Nama yang membuat Shanuella terkesiap. Dia teringat akan suaminya yang sedang menjalankan tugas demi menghidupi keluarga kecil mereka.


“Dia sangat setia. Terlalu setia sampai-sampai aku bingung dia berdiri di pihak yang mana.” Rarendra terkekeh.


Shanuella menanggapi santai. Tak terbersit sedikit pun kalau sosok yang dimaksud adalah pria yang mengikat diri dengannya. Ada banyak nama Bayu di sekelilingnya, tak mungkin ada kebetulan sehingga orang yang dimaksud adalah sama. Walau dia sempat terusik ketika nama itu dikumandangkan dengan tenang. Namun, tak lebih karena dia ingat suaminya, bukan mencurigai keduanya figur yang sama.


“Oke, kalau begitu ... aku pamit dulu, Shan.” Rarendra masih sempat melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobil. 


“Ya, Pak.” 


Ditinggal pulang sendirian terasa lebih nyaman dan plong. Shanuella tampak melambaikan tangan dan menyunggingkan senyuman, mengantar klien perusahaannya itu.


Sunyi menyapa selepas kepergian Rarendra. Jalan kompleks yang memang tak terlalu ramai itu hanya diisi oleh beberapa mobil dan motor warga kompleks saja. Mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk berburu taksi online, Shanuella terkejut ketika sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. 


Terperangah, wanita itu tak percaya mendapati kendaraan roda empat yang begitu familier untuknya. Bahkan, dia sudah mengenali sebelum empunya turun menyapa.

__ADS_1


“Loh? Bukannya ....” 


__ADS_2