My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Sakit Mata


__ADS_3

Alex melepaskan pelukan mereka dan menatap wajah Tere, "Apa mau menikah sekarang saja biar percayanya full kan udah nikah."


Tere langsung menepuk dada Alex degan pelan, "Ya! mau berdebat lagi ha?"


"Uhuk...uhuk..." suara terbatuk-batuk dari arah pintu yang membuat Alex dan Tere langsung memalingkan muka mereka ke sumber suara.


Lana yang tadinya berdiam diri di depan pintu sambil memandangi Alex dan Tere, kini berjalan mendekati mereka, "Dih, yang tadi minta ketemu ternyata udah bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Iya gitu dong bicara baik-baik selesaikan bersama."


"Oh jadi kamu nggak mau bantuin aku gitu kalau aku minta tolong ke kamu?" sindir Alex.


Lana mendengus kepada Alex, "Heh! iya bukan gitu dong konsepnya."


Tere memukul lengan Alex dengan pelan, "Ih! kamu apaan sih pakai acara nyalahin Lana. Ini bukan salah Lana!"


"Dih! iya-iya bestie. Kayaknya besok aku bawa Leo aja dari Singapura ke sini biar aku juga punya bestie yang belain." Alex mengelus-elus lengannya yang baru saja dipukul oleh Tere walaupun tidak sakit.


Alex mengernyitkan dahinya sambil menatap orang di depan pintu, "Eh siapa itu di pintu, kayak bukan proporsi bodyguard yang biasa nemenin kamu?"


"Oh, itu Juan." Lana menjawab dengan santainya sambil duduk di sofa.


Tere terkaget karena belum pernah mendengar nama itu sebelumnya dan juga tidak pernah diceritakan apapun oleh Lana, "Juan? siapa? kekasihmu?"


Sontak Lana menoleh ke arah Tere, "Ish! dia bodyguard sekaligus pegawai kantor."


"Hei, masuklah!" ajak Alex sambil melambaikan tangannya ke arah Juan yang berdiri di depan pintu.


Juan membalas lambaian tangan Alex dengan senyuman ramah, "Tidak, saya disini saja menunggu, nona."


Alex pun berdiri dan berjalan ke arah Juan untuk mengajaknya masuk, "Ayolah kawan, tidak apa-apa umur kita sepantaran sepertinya jadi santai saja. Apa Lana pernah membenturkan kepalamu sampai kau tidak mau masuk? Kau takut dengan Lana?"


"Tidak!" pekik Juan.

__ADS_1


Karena merasa nanti salah paham dengan kata tidaknya, Juan pun kembali memutar otaknya untuk mencari alasan, "Eh maksudku, nona tidak pernah melakukan kekerasan kepada saya maupun pegawai lainnya."


"Padahal kata tidak ku pun aku tujukan untuk menjawab aku tidak takut dengan Lana." batin Juan.


Alex pun masih ingin tahu jawaban yang ia ajukan namun belum dijawab oleh Juan, "Lalu pertanyaanku selanjutnya tidak kau mau menjawabnya? kau takut dengan Lana?"


"Ya! berhentilah memojokkannya." teriak Lana. Niat Lana bukan membelanya namun ia takut kalah nanti Juan mengatakan dia tidak takut dengannya malah kedua temannya itu akan mengejeknya.


"Dih! dibela nih ye..." ejek Tere seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Lana.


"Tere!" pekik Lana yang tak suka temannya mengejek dirinya. Padahal dia dan Juan tidak ada apa-apa.


Tere pun manggut-manggut dari pada temannya pulang dan tak mau membantunya lagi, "Iya-iya udah jangan ganggu dia, Al."


"Sekarang sudah baikan kan kalian? tidak perlu pihak ketiga untuk jadi mediasi kan?" tanya Lana dengan halus bagai pengacara yang sedang menenangkan kliennya.


"Kau pikir kami sedang rujuk." ucap Alex.


Lana memutar bola matanya, "Iya habisnya drama kalian kayak sudah berumah tangga."


Tere langsung menggenggam tangan Alex erat-erat, "Iya-iya ma'af. Udah ya marahnya, kita baikan kan sekarang? udah nggak break lagi?"


"Iya dong sayangku." Alex menarik Tere ke dalam pelukannya seraya memberi kecupan di kening Tere.


"Aduh!" pekik Lana.


Sontak Juan khawatir kepada Lana takut terjadi sesuatu kepada bosnya, "Kenapa nona? nona sakit?"


Lana manggut-manggut, "Iya sakit, mataku sakit melihat pemandangan buruk kalian."


"Ya!" pekik bersama antara Alex dan Tere yang masih berpelukan

__ADS_1


Tere melepaskan pelukannya, "Kalau kau iri, kau bersama Juan juga bisa. Lagian ku akui dia tampan. Aku rasa Juan juga tipemu." dan melanjutkan pelukannya sambil menatap ke arah Lana dan Juan.


"Hei! tahu apa kau tentang tipeku." ucap Lana tak terima.


Alex yang merasa dirinya tersaingi oleh Juan karena Tere menyebutnya tampan, "Yang! sejak kapan kamu memperhatikan ketampanan Juan? apa tampan Juan dari aku?"


"Sayang... walaupun ada banyak pria tampan kamulah yang menjadi pujaanku. Kalau aku mengincar pria tampan mana mungkin dari kita sekolah sampai sekarang dengan hubungan putus nyambung aku tetap bertahan dengan pria ku ini yang manis..." Tere mengelus pipi Alex dengan lembut dan mesra agar pria itu semakin luluh dan tidak gampang cemburuan.


"Huek..." Lana benar-benar muak dengan adegan di depannya. Walaupun tidak jijik namun karena terlalu mendrama itulah yang Lana tidak suka.


"Kau ini benar-benar mengganggu suasana, Na." jelas Alex yang kesal dengan Lana yang mengganggu.


Lana pun angkat bicara, "Aku yang terganggu disini, lebih baik aku pergi saja daripada melihat kisah bucin kalian."


"Pergilah!" seru Alex. Lebih baik Lana pergi daripada mengganggunya.


Sekali lagi Tere memukul tapi kali ini bukan di lengan namun di dada Alex, "Kau jangan mengusirnya seperti itu, nanti kalau ada masalah dia tidak mau membantu kita, baby."


"Tuh, dengerin!" ucap Lana sambil mengejek Alex. Tere lebih mengerti daripada Alex.


Tere tersenyum tipis, "Yang halus dong. Enyahlah!"


"Hahahaha..." Alex dan Tere tertawa bersama seakan-akan kejadian break yang lalu telah berlalu.


Lana kesal mendengarnya, "Kau mau aku bakar restomu ha! biar kau dipaksa pulang oleh ayahmu."


Tere melepaskan pelukannya, "Ya! aku bercanda Lana. Ma'af."


"Hmm..." Lana hanya berdehem karena malas membalas temannya itu. Pokoknya kalau udah bucin udah akut nggak bisa dipisah mereka.


"Udah ya jangan marah, cantik. Kalau mau pergi silahkan dan kalau makan dulu juga silahkan dibawa pulang di delivery order pun terserah mau pesan yang mana. Ada menu baru juga kalau mau nyoba makan." bujuk Tere dengan mengorbankan makanan restorannya secara gratis.

__ADS_1


"Dih! paling bisa kalau nyogok." sindir Lana yang akhirnya luluh dengan sogokan Tere.


Tere mengedipkan matanya lagi ke arah Lana, "Hehehe... kau yang paling tahu aku."


__ADS_2