
“Papa.”
Lana berlari menyambut orang tuanya saat pintu depan terbuka. Gadis kecil itu tengah menonton televisi bersama Mbok Sari ketika sang papa dan mama masuk ke dalam rumah. Kerinduan sepanjang hari ini terbayar ketika bisa memeluk keduanya.
Shanuella tersenyum ketika tangan mungil putrinya melingkar erat di kedua kaki Bayu. Dia bisa melihat dan merasakan bagaimana interaksi keduanya. Bahkan, Lana lebih dekat dengan laki-laki dewasa itu ketimbang dia—mama yang melahirkan.
“Kamu sudah makan?”
Bayu menyelipkan kedua tangan di balik ketiak putrinya dan membawa gadis kecil itu naik ke gendongan. Dikecupnya pipi Lana hingga terdengar jerit dan tawa bersamaan.
“Papa,” protes Lana, mengusap pipi yang basah. “Kotoi, Pa,” keluhnya dengan gaya bicara cadel menggemaskan.
“Oh ya? Papa turunkan saja kalau begitu.” Bayu pura-pura mengancam. Melihat pipi cemberut putrinya, tawa pria dewasa itu pecah.
__ADS_1
Lana bukanlah darah dagingnya, tetapi Bayu sangat mencintai gadis tersebut. Sejak bayi dirawat dan dijaga dengan sepenuh hati, ikatan batin keduanya terangkai dengan sendiri. Perasaan mendadak sedih, hati bagai tertumbuk dan berdenyut. Apa yang baru dia lewatkan di kamar perawatan berputar ulang. Ketakutan, kecewa, dan rasa sakit hadir bersamaan. Tidak sanggup membayangkan kalau harus hidup tanpa Lana dan Shanuella.
Namun, dia laki-laki. Ada saatnya berjuang, ada kala menyerah. Tidak bisa memaksa ego, mengedepankan keinginan diri sendiri. Dia harus memikirkan juga perasaan Shanuella dan yang terbaik untuk Lana. Andai dua orang tersebut, tak bahagia bersamanya, melepas tentu adalah yang terindah. Hanya saja, saat ini Bayu masih ingin berjuang. Berusaha membahagiakan anak dan istri dengan tangan sendiri.
Shanuella yang sejak tadi diam, tiba-tiba mendekat. Melingkarkan tangan pada pinggang kekar Bayu, merapatkan diri pada pria itu. Aroma parfum bercampur keringat yang menemani hari-hari selama lima tahun terakhir mulai menyatu dalam diri. Tersenyum, dia merebahkan kepala dengan manja pada lengan suaminya yang sibuk dengan Lana.
Bayu tersentak. Menoleh sekilas pada wanita yang tengah menumpang di lengannya tersebut. Postur Shanuella yang sepundak membuat pria tersebut hanya disuguhi ubun-ubun saja.
Kehangatan tiba-tiba menjalar, mengalir ke seluruh tubuh dan bermuara di hati. Dada berdebar, jantung bergemuruh. Seluruh tubuh Bayu nyaris lemas, menikmati manisnya sentuhan ringan yang mungkin bagi sebagian orang biasa saja.
Shanuella menggeleng lemah.
“Tidak mungkin. Kalau sudah manja begini pasti ada apa-apanya.” Bibir Bayu terbelah. Terdengar gelak kecil menyiratkan perasaan bahagia. Sudah hafal luar dalam, pria itu bisa membaca semua hal tentang istrinya.
__ADS_1
“Aku hanya ingin memelukmu, Mas. Apa tidak boleh?” Shanuella menegakkan kepala. Perlahan, pelukan di lengan Bayu terurai.
“Boleh. Apa pun boleh.” Bayu tersenyum. “Kamu dan Lana berhak atas diriku,” lanjut pria itu, menempelkan pipi di atas kepala istrinya itu dengan mesra.
Tertegun, wanita muda itu memandang tak berkedip. Setiap tingkah laku dan perubahan wajah Bayu diamati lekat-lekat. Tak sadar, Shanuella terseret ke dalam pesona yang selama ini diabaikannya. Terlalu fokus dengan kesedihan dan kekecewaannya, tak sekalipun memperhatikan pria dewasa tersebut.
Dia manis, dia tampan, dia ....
Sentilan berlabuh di dahi, menyentak lamunan Shanuella. Bayangan berisi kekagumannya pada Bayu kocar-kacir. Ia terkejut dan malu hati saat Bayu menangkap basahnya.
“Kenapa? Apa aku terlalu tampan?” Memainkan alis, pria dewasa itu menggoda.
Pipi merona, empunya buru-buru membuang pandangan. Tak mau sampai semu merah di wajah menjadi bahan olok-olokan Bayu.
__ADS_1