My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 88


__ADS_3

Di sisa tenaga, Rarendra yang hampir hilang akal terdengar menjerit kencang terus menumbuk samsak hingga akhirnya seseorang menarik pundaknya dari arah belakang. 


“Rarendra Tan!” Suara maskulin itu menggertak, menyadarkan pria bertelanjang dada yang bermandikan keringat  “Sadar!” 


Pukulan telak mengenai rahang dan membuat Rarendra tumbang dalam hitungan detik. Dia terkapar di atas hamparan rumput hijau. Mata terpejam erat, napas naik turun.


“Jangan gila.” Pria yang tak lain sahabat baik Rarendra itu tampak berdiri di hadapan dengan tangan bertolak pinggang. “Patah hati boleh, bodoh jangan! Wanita bukan hanya satu di dunia. Masih banyak yang siap berjodoh denganmu.” Pria bernama lengkap Aryya Perkasa Hutomo Putra atau biasa dipanggil Erka itu menyadarkan.


Rarendra masih berbaring telentang, lengannya bertekuk menutup mata. Bukan sekadar menghalau silau matahari, dia menyembunyikan air matanya agar tak terlihat orang lain.


“Kalau memang cinta mati, kejar sampai ke ujung dunia.” Erka mengingatkan.


“Dia sudah menikah.” Setelah sejak tadi diam, Rarendra bersuara. “Dia menikah dengan orang kepercayaanku sendiri.” Suara itu mengadu lirih. Sesekali terdengar isak dari wajah yang tertutup dengan lengan.

__ADS_1


“Bukan hanya dia saja, ‘kan? Rarendra tidak akan kekurangan wanita. Come on, Bro. Bangun! Sadar! Ini bukan Rarendra Tan yang kukenal. Kenapa jadi lemah begini?” Erka menambahi.


Rarendra diam.


“Ayo!” Sebuah tangan terulur tepat di hadapan Rarendra. “Bangun! Jangan membuat malu komunitas kita. Mana mungkin pemain sepertimu bisa kekurangan wanita?” 


Suara gelak mengusik Rarendra. Menyingkirkan lengan yang menutup mata, dia melotot menatap Erka. “Kurang ajar! Awas kamu!” Menyambut uluran tangan sahabatnya, pria yang tengah memulihkan tenaga itu tampak memaksa bibirnya tersenyum.


...🍒🍒🍒...


“Aaah.” Suara kesakitan itu terdengar kencang dan spontan saat tak sengaja tersenggol sendok.


“Maaf, Mas. Sakit sekali?” Shanuella mengusap pelan sudut bibir yang terkena sodokan sendok dan meniupnya pelan.

__ADS_1


“Sedikit. Kalau ditiup begini, rasanya mendingan. Apalagi kalau dicium.” Bayu masih sempat-sempatnya menggoda. Rasa sakit di tubuhnya lenyap hanya dengan seutas senyuman Shanuella. Wanita itu pelan-pelan menyusup dalam hati dan mengisi tempat sendiri. Bersama Lana, keduanya mengukuhkan diri, menjadi pemilik hati seorang Bayu Lesmana.


Semburat jingga muncul di kedua pipi Shanuella, menebar hangat di hati pria yang tengah berkutat dengan debaran tak beraturan mengentak dada. Hanya dengan senyum malu-malu dan wajah merona, wanita itu sanggup memorak-porandakan hati Bayu yang mulai menggila di pagi buta.


“Em ... apa kabar Lana?” Bayu tergagap ketika mendapati Shanuella salah tingkah. Dia merutuki dirinya sendiri ketika berani menggoda, tetapi tak sanggup meredam debaran di dadanya sendiri.


Aku bisa gila. Kenapa dia harus bersikap malu-malu seperti ini? 


Bayu mengamati tangan Shanuella yang bergetar menyodorkan sendok berisi bubur ayam untuknya. Senyum pria itu merekah, mendapati canggung yang tengah menguasai.


“Lana sudah ke sekolah tadi. Diantar Mbok Sari. Buka mulutmu, Mas.” Sesaat sebelum sendok di berada di depan bibir.


“Terima kasih, istriku. Tetaplah tersenyum seperti ini, walau apa yang terjadi di depan nanti.” Menggigit bibir, Bayu mendesis pelan saat kesakitan itu datang. Ditangkupnya wajah Shanuella dengan lancang, dihadiahkannya sebuah kecupan.

__ADS_1


Maaf, aku telat up, teman-teman. Love you all.


 


__ADS_2