My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 66


__ADS_3

Menjerit dalam hati, menangis tanpa air mata. Bayu yang tak memiliki sanak keluarga itu merasa tak rela merasakan kehilangan yang mungkin akan terjadi sebentar lagi.


Mereka milikku, tidak mungkin aku bagi pada pria lain. Mereka bukan barang, bisa disodorkan ke sana kemari. Mereka bagian dari hidupku, napasku, nyawaku. Bagaimana aku bisa memberikannya pada orang lain. Sama saja bunuh diri.


“Papa.” 


Sapaan gadis kecil itu menumbuk perasaan Bayu. Dia tersadar dari bayangan mimpi buruk, menikmati dekapan hangat wanita-wanita terpenting di dalam hidupnya. 


“Aku ... mencintai kalian,” bisik Bayu sebelum mengurai berbagai simpulan tangan di tubuhnya. Meraih tubuh Lana, menaikkan gadis kecil itu di pundak, berbalik dan merengkuh bahu Shanuella dan mengajak wanita itu masuk. “Sudah gelap, kita lanjut di dalam.


“Ya, Mas.” Pandangan Shanuella tertuju pada gelas kosong bekas Bayu di dalam genggamannya.


Perasaanku seperti gelas ini sekarang. Kosong tanpa rasa, hampa tanpa cinta, dan terluka karena dia. Terlalu dalam bekas torehannya, sampai-sampai tak lagi bisa sembuh sempurna. Andai dunia tahu seberapa hancurnya aku, mungkin dia akan mengizinkanku pergi dulu sebelum waktunya. Sayangnya, Tuhan mengirim gadis kecil itu padaku, seakan Dia tahu semua rencanaku. Lana memelukku dan membuatku tak bisa menghilang dari semua problematik dunia. Gadis kecil itu mencoba menguatkanku dengan terus membuatku ingat semua kisah kelam itu. Musuhku adalah ayah dari anakku. 


Shanuella menghela napas berat, wajah menengadah ke atas. Masuk ke dalam rumah, dia membiarkan Bayu dan Lana melangkah lebih dulu. Dia merenung di tengah pintu, memandang senja yang berlalu berganti malam nan syahdu. Matahari menuntaskan tugasnya hari itu, dan diganti oleh rembulan malam yang tersenyum di dalam pekat.

__ADS_1


“Tuhan, aku masih sakit. Tolong sembuhkan dulu baru beri aku rasa sakit yang baru. Entah dia Rarendra atau Blade, tolong jangan hadirkan dia di dalam hidupku untuk menyempurnakan rasa sakit terdahulu. Aku tidak siap hancur untuk kedua kalinya.”


...✔️✔️✔️...


Gugup melanda, detak jantung bergemuruh menggoda. Shanuella tiba lebih dulu di restoran yang menjadi tempat janji untuk jumpa. Duduk di sudut, tangannya meremas di atas meja. Ini pertemuan kedua, tetapi dia merasakan kegugupan yang sama.


Berulang kali melirik jam di ponselnya, Shanuella tak bisa duduk tenang. Seperti ada masalah besar yang akan datang menghantam. Di tengah penantian, dia tersentak ketika benda pipih di atas meja berdering kencang. Nama Rarendra muncul di sana.


“Ya, Pak.” Shanuella menyapa. Berulang kali diminta memanggil dengan nama Endra, lidahnya menolak tegas. Panggilan ‘pak’ lebih berjarak dan membuatnya nyaman.


“Ya, Pak.”


“Kamu sudah di restoran?”


“Jangan khawatir, aku baru saja tiba. Aku bisa menunggu, Pak.”

__ADS_1


“Baguslah.” Rarendra terkekeh. Duduk di kursi belakang, pria itu terus menerus mengamati pengawal pribadi yang tengah mencengkeram kemudi. “Bay, apa masih lama?”


Gawai menempel di telinga. Teman bicara pun masih setia menanti di seberang. Rarendra sengaja menyapa pengawalnya sembari tersenyum licik.


“Tidak lama, Pak. Sebentar lagi.”


“Baguslah, tidak enak. Ini klien penting perusahaan. Makanya aku memintamu membelikan bunga.” Rarendra bersuara, sengaja membiarkan wanita di ujung panggilan ikut mendengar.


“Hah!” Shanuella yang sejak tadi menyimak, tiba-tiba terkejut.


“Ma ... maaf, ternyata masih tersambung. Aku sedang bicara dengan pengawal pribadiku, Bayu. Nanti, aku akan kenalkan padamu, supaya ke depannya lebih mudah. Saat aku tak ada, kamu bisa menghubungi Bayu.”


“Bayu?” Perasaan Shanuella mulai tak enak. Pertemuannya dengan Rarendra hari ini sengaja tak dikabarinya pada sang suami. Dia mulai move on, dan menganggap laki-laki itu sosok baru, bukan masa lalu. Berhenti mengingat-ingat tentang laki-laki brengsek yang menghancurkan hidup dan hatinya dalam waktu bersamaan.


“Ya, Bayu Lesmana. Teman baikku sekaligus pengawal setiaku.”

__ADS_1


Bayu yang menyimak obrolan sejak tadi mendadak tersentak ketika namanya disebut dengan lengkap.


__ADS_2