My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 51


__ADS_3

Tubuh Shanuella bergetar. Ini adalah pertemuan keduanya dengan laki-laki yang memiliki rupa sama dengan Blade. Di perjumpaan pertama, pria mengaku bernama Rarendra itu adalah orang yang menolongnya saat pingsan di proyek beberapa saat lalu..


Dia terguncang. Suasana hati carut marut, pikiran berantakan. Bahkan, Shanuella tak sempat mengucapkan terima kasih pada pria asing tersebut.


“Bi ...carakan saja dengan Ibu Fro. Aku ... em ... maksudnya saya ... hanya menjalankan perintah, Pak.” Menarik napas dan mengembuskannya berulang, Shanuella berjuang agar tak terlihat gentar.


Bohong kalau mengatakan kalau masa lalu tak bermakna apa-apa lagi. Saat ini bisa menegakkan kepala karena menyembunyikan luka itu agar tak terlalu kentara. Cukup dia yang tahu, dunia tak perlu melihat isi hatinya.


Rarendra yang tak kalah gugup pun berusaha terlihat biasa. Tak mau sampai hatinya yang goyah terbaca oleh lawan bicara. Dia mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


“Bisa antarkan aku ... menemui pimpinan?” Bertanya sembari menyelipkan tangannya yang terkepal ke dalam saku celana. Telapak tangan Rarendra basah. Gugup, panik, dan tentunya jantung pun ikut berdebar kencang.

__ADS_1


“Em, ikut saya, Pak.” Shanuella berjuang untuk tak terpengaruh. Kepala terus menunduk dia tak mau sampai tertangkap basah diam-diam mencuri pandang.


Perjalanan menuju ke ruang pimpinan terasa lebih lama dari biasa. Shanuella memilih diam dan baru bersuara saat ditanya. Demikian juga dengan Rarendra yang berdiri sudut lift dan menatap punggung wanita yang selama lima tahun terakhir mengisi benaknya.


Sejak pertemuan terakhir di sebuah villa di pinggiran kota, Rarendra bertekad melenyapkan Shanuella dari ingatannya. Namun, rencana yang disusun rapi itu berbalik menghantamnya. Bukan melupakan, sejak malam di mana mereka berbagi peluh dan bertukar saliva, bayangan wanita itu terus menghantuinya hingga dia sulit bernapas.


Shanuella selalu muncul bersama desah dan rintih manja di tiap malamnya. Bahkan, bayangan wanita itu hadir di mata terpejam rapat. Rarendra hampir gila, sesak, dan nyaris tak sanggup bernapas. Berdiri dan terus menatap punggung yang tak jauh dari jangkauan, dia mengepalkan tangan. Andai tak ingat logika yang terus ditanamkannya, tentu dia akan menyergap dan menculik makhluk feminin yang telah membuat akal sehatnya lenyap.


Shanuella sudah keluar lebih dulu, berbalik badan. Berdiri berhadapan dengan Rarendra, dia menunduk sembari memeluk kencang dokumen di dada.


“Pak, ruangan Ibu Fro ... ada di ujung. Nanti tanyakan saja pada sekretarisnya.” Salah satu tangan terarah pada sisi kiri lift. Tak sekalipun kepala itu terangkat, bahkan Shanuella sudah berbalik kembali sebelum pria gagah itu melangkah keluar dari lift.

__ADS_1


Rarendra tersentak. Melangkah pelan dengan tangan terselip di saku celana. Pandangan tertuju pada wanita yang sudah bergerak menjauh darinya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas dan menyeringai tipis.


Buru-buru sekali. Bahkan, dia tak melihatku sama sekali.


Berdiri mematung di depan pintu lift, Rarendra menatap pergerakan wanita yang berjalan menjauh dan berbelok di salah satu ruangan.


Shan, maafkan aku.


Cairan bening lolos dari sudut mata kirinya, Rarendra buru-buru mengusap dengan ujung telunjuk. Hatinya bak tersayat sembilu saat melihat Shanuella yang menghindar dan tak mengenalinya lagi.


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


__ADS_2