My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 90


__ADS_3

...🍒🍒🍒...


Berjalan mondar-mandir dengan sebuah map hitam di tangan, Shanuella tampak mengawasi pekerjaan orang lapangan. Dia harus memastikan hasil pekerjaan sesuai dengan gambar yang sudah disepakati. Sebagai tangan kanan pimpinan perusahaan, dia diharuskan meninjau ke lokasi untuk memantau progres. Mengenakan helm dan rompi proyek, tampak wanita itu berjalan ke sana kemari dengan lincah, meninjau konstruksi awal yaang masih berupa bangunan kasar.


Kepala menengadah, berdiri di antara scaffolding yang berjajar memenuhi area kontruksi. Shanuella tak canggung sama sekali, mengobrol dengan beberapa pekerja yang sedang merakit besi. Dalam keadaan berantakan, kediamannnya yang dulu mewah tak lagi tersisa. Shanuella bahkan tak mengenali di mana kamar tidurnya berada setelah mengalami pembongkaran sana sini.


Menghela napas panjang, wanita itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Terkadang dia merindukan masa lalu, masa di mana tak ada kesulitan yang berani menghampirinya. Sandang, pangan, papan, bukanlah sesuatu yang harus dirisaukan. Terlahir sebagai putri konglomerat ternama, dunia terasa ada di dalam genggaman.


“Dad, aku rindu.”


Kaki melangkah tanpa sadar, membawa Shanuella menyusuri ruang demi ruang yang auranya telah berbeda. Sesaat, dia tersesat ke dalam dimensi berbeda. Tumpukan material yang menggunung di sana sini tak lagi terlihat, semburat cahaya menyilaukan membawa Shanuella pada ruangan luas dengan desain mewah.


Satu set sofa putih tampak di sudut ruangan yang didesain mewah. Sebuah televisi layar curve berukuran raksasa mengisi rak putih dengan garis keemasan sebagai hiasan. Sepasang suami istri tengah bercengkerama ditemani anak gadis mereka yang baru saja pulang sekolah. Tawa ketiganya bersahutan, saling menebar bahagia satu sama lain.

__ADS_1


Shanuella tercengang . Dia bingung mendapati pemandangan di depan matanya yang tampak nyata. Keluarga kecil bahagia itu memancing iri semua pasang mata. Suskes, memiliki keluarga bahagia, dan seorang putri yang cantik jelita. Wanita muda itu tiba-tiba membeku ketika menyadari sesuatu. Wajah-wajah familier itu adalah bagian dari masa lalunya.


“Itu … aku?” tanya Shanuella, terbata-bata. “Tapi, Daddy sudah pergi. Mommy juga sedang sakit. Lalu, siapa mereka?”


Mengusap matanya yang tiba-tiba basah, Shanuella nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Menggeleng kencang, wanita itu terkejut ketika mendapati bayangan yang sempat terlihat nyata itu tiba-tiba menghilang.


“Mom.” Teriakan Shanuella terdengar kencang, mengejutkan beberapa pekerja yang sedang berada di dekatnya. Terdengar seorang pria mengingatkan, ketika melihat atasan mereka hampir menabrak tiang scaffolding.


Shanuella bergeming, masih mencari keberadaan kedua orang tua yang dirindukannya. Keduanya tiba-tiba menghilang saat dia menggeleng kencang.


“DAD!” Teriakan Shanuella lebih kencang dari sebelumnya, menyusuri ruangan dan menyingkirkan penghalang di depan mata. Bayangan itu masih timbul tenggelam, di batas nyata dan mimpi.


“Bu, awas!” Teriakan seorang pekerja terdengar khawatir. “Tiang-tiang itu belum safety.” Tepat saat ucapan itu selesai dikumandangkan, sebuah kanal tiba-tiba roboh dan mengarah pada Shanuella.

__ADS_1


Teriakan orang-orang yang memintanya segera menyingkir membuat wanita itu panik, Berlari mengindar, Shanuella yang terkejut dan panik tak sengaja menabrak tiang lain yang tak kalah beratnya. Kali ini bukan hanya satu, ada beberapa tiang yang saling terhubung dan roboh bersamaan. Terjebak, ibu dari seorang putri itu hanya mampu berjongkok dan melindungi tubuhnya dengan tangan. Di detik-detik menunggu tiang-tiang besi itu menimpanya, dia sadar kalau sebentar lagi akan mengalami kesakitan luar biasa. Tubuhnya tak akan sanggup menerima.


“Aaaah!” Berteriak seraya memejamkan mata, Shanuella meringkuk dan berusaha melindungi kepalanya. Namun, keajaiban datang. Ada yang melindunginya di detik-detik terakhir. Hangat, empuk, dan beraroma maskulin.


Suara kegaduhan bersama pekik para pekerja mengiringi tumbangnya beberapa tiang dalam waktu bersamaan. Wanita cantik itu tertegun, merasakan kehangatan yang telah lama dirindukannya. Tidak ada rasa sakit, tetapi Shanuella seperti menemukan sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


“Blade?”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mampir di karya temank, bisa dibaca gratis di Noveltoon.


__ADS_1


__ADS_2