
“Kamu?” Sepasang mata menyipit, meneliti buket mawar yang dikenalinya. Tentu saja Rarendra hafal, dia sendiri yang memilihkan rangkaian mawar itu untuk Shanuella. Namun, yang membuatnya bingung adalah sosok di balik bunga yang sama sekali tak dikenalinya.
“Di mana Bayu?” tanya Rarendra, tegas. Tak tampak senyuman, apalagi keramahan. Disambarnya buket bunga itu dari tangan pemuda asing berpakaian serba hitam.
“Maaf, Pak. Aku sekuriti di sini. Aku dimintai tolong oleh seseorang tadi di pintu depan. Katanya, beliau buru-buru.” Pria berkulit sawo matang dengan potongan rambut ala tentara Republik Indonesia itu menjawab sopan.
Rarendra membeku. Pikiran berkelana dan mencoba menangkap sesuatu yang mungkin dilewatkannya. Sesaat tatapannya berubah teduh dan tergelak ringan. Memusatkan kembali perhatiannya pada buket bunga, disambarnya buru-buru.
“Terima kasih.” Meraih dan menyerahkan buket pada Shanuella. “Kamu boleh pergi,’ lanjut Rarendra. Dia tak bisa menginterogasi sekuriti mengenai menghilangnya Bayu. Jelas terdengar dari kata-kata yang menerangkan kalau laki-laki itu hanya sekadar membantu.
“Untukku?” Shanuella terbelalak.
“Tentu. Untuk siapa lagi? Tidak ada siapa-siapa di sini, ‘kan?” Rarendra mencoba menyembunyikan kecewanya dengan berusaha tersenyum manis. Rencana yang sudah digodok matang harus berakhir berantakan karena Bayu.
Apa dia sudah mengetahui sesuatu? Tidak mungkin.
__ADS_1
“Terima kasih.” Tertunduk dan menatap rangkaian bunga di dalam genggaman. Kebingungan itu jelas tertera di wajahnya, jujur saja dia tak paham arti semua sikap manis Rarendra.
Makan siang sambil membahas pengerjaan proyek HVAC berjalan lancar. Canggung dan sungkan di awal perlahan terhempas. Shanuella mulai larut dalam obrolan yang mencair. Tak lagi menjaga jarak dan terus menghindar. Wanita itu mulai bisa memperlakukan Rarendra sebagai orang lain. Tak lagi menganggap jelmaan Blade.
“Kenapa tidak dihabiskan?” Rarendra menatap lekat-lekat sosok manis di depan matanya. Tak peduli empunya merasa salah tingkah.
Shanuella terkejut. Pandangannya jatuh dan tertuju pada isi piring yang menyisakan separuh makanan.
“Aku sudah kenyang, Pak.”
“Bukannya semua makanan kesukaanmu?” Rarendra keceplosan.
“Bukannya semua ini adalah maka ….”
Tersadar, Rarendra berhenti bicara dan menggigit bibir. Senyum terkulum tampak jelas di bibirnya.
__ADS_1
Gawat! Aku kelepasan. Dia pasti curiga.
“Maksudku … semua ini makanan kesukaanku.” Terbata-bata, Rarendra terkekeh. Suasana mendadak canggung, dia tahu pernyataannya akan membuat bingung wanita di hadapannya.
Shanuella tercengang. Memberanikan diri mengangkat kepala, tatapannya dan Rarendra beradu di udara. Ada Blade di dalamnya. Berjuang menghempaskan laki-laki itu, tetap saja tak bisa membuangnya utuh. Bayangan masa lalu itu kembali, walau hanya berupa kepingan.
“Shan, maaf sebelumnya. Untuk pekerjaan, aku kira sudah clear. Ada yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Ya, Pak.”
Rarendra mengembuskan napas di ujung indra penciumannya. Rasanya aneh setiap kali dipanggil ‘Pak’ oleh Shanuella. Ada jarak yang membentang dan seolah-olah tak mengizinkannya untuk mendekat.
“Bagaimana kehidupanmu?”
“Hah!” Shanuella terkejut. Dia tak paham arti pertanyaan yang ditujukan untuknya. “Maksudnya?”
__ADS_1
“Aku tahu masa lalumu, Shan.” Tatapan Rarendra tak berpindah. Bahkan, pria itu tak berkedip sejak tadi. Membaca isi hati wanita di hadapannya dari perubahan wajah dan sikap yang terkesan ditutup-tutupi.
Apa hubunganmu dengan Bayu? Kenapa dia berjuang untuk menyembunyikan segala informasi tentangmu. Apa ada rahasia yang selama ini tak aku ketahui?