My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 107


__ADS_3

Ruang makan pagi itu telah terisi oleh kericuhan keluarga kecil Bayu. Semuanya sedang sibuk mengisi perut sebelum memulai beraktivitas. Ada Lana dengan suara khas dan gaya menggemaskan, sibuk menusuk roti selai yang telah dipotong-potong kecil. Di sebelah, Shanuella sudah rapi dan siap berangkat kerja. Wanita cantik itu tampak menawan dan elegan dengan pakaian sederhananya, celana kain hitam pekat dipadankan dengan kemeja putih bergaris horizontal bergelombang. Sepiring nasi goreng tersedia di hadapannya.


Tampak di seberang meja, Bayu tengah menikmati sepiring nasi goreng buatan Mbok Sari yang disajikan lengkap dengan acar mentimun. Pandangan pria yang selalu gagah dengan kemeja dan celana denim itu terarah pada istri dan anaknya.


“Sudah, Nak. Tidak perlu ditusuk pakai garpu. Gunakan tangan saja. Malah jadi lama.” Bayu bersuara ketika berulang kali Lana gagal memasukkan roti yang ditusuk dengan garpu ke dalam mulut.


“Dia maunya seperti itu, Mas. Katanya di sekolah diajarkan begitu. Seperti di tivi-tivi juga.” Shanuella membantu menjelaskan setelah melihat Lana sibuk sejak tadi. Tusukan garpu yang tak begitu kokoh membuat potongan roti itu jatuh dan terjatuh lagi sebelum masuk ke dalam mulut.


“Sudahlah, Lan. Nanti kamu terlambat ke sekolah,” ujar Bayu, mengingatkan gadis berseragam putih dengan rompi biru kotak-kotak.

__ADS_1


Lana cemberut. “Papa gak asssyiiik.” Penekanan di ujung kalimat membuat Lana makin menggemaskan. Bibir mencebik, kilat matanya tegas tertuju pada Bayu.


Sang kepala keluarga sebagai tertuduh langsung terperanjat. “Oh ya?” Bibir dengan kumis tipis samar-samar itu mengerucut.


“Hmm.” Gadis kecil itu mengangguk. Masih sibuk menikmati roti dari garpu yang sebelumnya sudah ditusuk terlebih dulu oleh sang mama.


“Papa.” Lana kesal. Menusuk roti sering kali gagal,


“Sudah-sudah, makan cepat. Nanti terlambat.” Shanuella merapikan helaian anak rambut yang terjatuh dari kepangannya.

__ADS_1


“Shan, kamu ke kantor bersamaku?” tanya Bayu sembari menyuapi nasi goreng ke dalam mulutnya.


“Sepertinya tidak, Mas, Hari ini aku harus ke proyek. Kebetulan perwakilan dari kontraktor lain mengajak bertemu. Ada yang harus kami bahas, karena pekerjaanku ini berkaitan dengan renovasi bangunan dan bagian interior nantinya.”


“Loh, kenapa tidak meeting di luar? Pasti lebih nyaman.” Bayu merasa tidak enak hati. Tiba-tiba teringat akan ciuman mereka seminggu yang lalu. Untuk pertama kali ada kemajuan di dalam hubungan mereka. Pria itu khawatir terjadi pertemuan diam-diam antara istrinya dan Rarendra dan memorak-porandakan perjuangannya selama ini. Terasa tak adil, apalagi sejak semua terbongkar, jelas sekali perubahan sikap atasannya itu.


“Mereka mintanya bertemu di proyek. Supaya bisa lebih detail. Kalau di luar hanya bisa berdasarkan gambar, bisa saja terjadi kekeliruan dan salah paham. Namanya otak dan pikiran manusia, kita tidak bisa mengontrol dengan detail. Dan, Mas tahu sendiri. Pekerjaanku itu bukan yang berurusan dengan administrasi. Kalau keliru tinggal cari angka dan datanya, perbaiki. Tapi, ini akan berbuntut panjang, Pengeluaran di luar estimasi, belum waktu juga akan menjadi lebih panjang. Aturannya selesai minggu ini, bisa molor sampai minggu depan. Lagi-lagi, biaya pekerja membengkak.” Menjelaskan dengan detail, Shanuella berharap suaminya mengerti walau tak paham sepenuhnya.


“Aku bisa apa.” Kedua bahu Bayu berjingkat dan memaksa bibirnya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2