
“Aku bisa gila!” Rarendra menggeram di kamar mewahnya sembari menyesap sisa anggur merah dari gelas kristal. Berdiri di depan jendela, menatap suasana malam ibu kota yang tak pernah ada matinya.
“Kenapa dia datang lagi? Harusnya dia ikut mati, jadi tak bisa menghantuiku seperti ini,” cicit Rarendra, putus asa.
Dia sudah berjuang menghempaskan bayangan Shanuella, tetapi wanita itu tak pernah beranjak dari benaknya. Kisah masa lalu mereka berputar ulang dan meninggalkan banyak kesan yang selama ini coba diabaikan.
“Aku tidak mencintainya. Dia adalah orang yang merenggut nyawa kekasihku. Tidak, ini bukan cinta.” Meremas dadanya, sesak itu hadir lagi setelah sekian lama menghilang. “Ini bukan rindu. Tidak akan ada rindu saat bertemu musuh. Ya, ini bukan rindu. Ini hanya rada yang terjebak dan tak menemukan pintu keluar.”
Berulang kali meyakini diri kalau apa yang mencengkeram hatinya bukanlah perasaan cinta, sayang, atau sejenisnya. Dia benar-benar tak ingin menikmati debar yang disebabkan Shanuella, tak mau menerima kenyataan kalau jantungnya berdegup kencang karena ulah wanita itu.
__ADS_1
Terbukti saat ini malamnya terasa panjang, mata tak mau terpejam sama sekali. Shanuella membuatnya gila hanya dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
“Apa aku batalkan saja? Cari kontraktor lain atau ....” Rarendra bimbang.
Merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya, dia mulai mengusap layar dan mencoba mengintip kembali foto-foto Shanuella yang sempat dicurinya siang tadi.
“Ah, aku sudah membuangnya dulu. Kenapa kembali menyimpannya sekarang? Dia bukan siapa-siapa, dia tidak berpengaruh di dalam hidupmu. Ingat, kamu Rarendra Tan, bukan Blade. Kalian adalah dua orang yang berbeda. Blade yang mencintai Shan-Shan, bukan kamu.” Rarendra kembali menguatkan diri.
“Dia adalah wanita yang dicintai Blade, bukan Rarendra. Blade telah lama mati, jadi harusnya cinta itu pun ikut pergi.”
__ADS_1
Semakin menatap foto-foto Shanuella yang tersimpan di galeri ponsel, hati pun makin kacau. Ujung telunjuk sudah berlabuh di sudut layar yang bergambar tong sampah, dia bersiap menghempas semua foto-foto itu dari pandangannya. Namun, lagi-lagi sesuatu dari dalam hati coba menghalanginya. Dia tiba-tiba menjadi ragu.
Mata terpejam, hatinya berantakan. Bimbang memancing kesal di dalam dirinya. Sontak, emosi pun naik turun tak beraturan. Di ujung kewarasannya, dia melempar gelas kristal kosong yang menemani.
Prang.
“Aku membencimu. Sangat membencimu. Aku mohon pergilah dari hidupku. Aku ... aku ... tidak mau tersiksa seperti ini. Kamu sudah menghukumku selama ini. Jangan datang untuk mengacaukan hidupku, Shan. Jangan.” Tubuh kekar yang biasanya penuh wibawa, tiba-tiba jatuh di lantai. Rarendra menangis di tengah kesendiriannya. Air mata laki-laki yang putus asa, kecewa, dan terluka.
“Aku sudah bahagia sekarang. Aku ....” Kembali menatap layar ponsel, puluhan foto Shanuella tersimpan di sana. Hanya satu pose, tetapi dia mengambilnya puluhan kali.
__ADS_1
“Enyah dari hidupku!” Dihapusnya satu persatu walau hati ikut teriris. Air mata pria itu tumpah, membasahi layar ponsel ketika jemarinya dengan lincah melempar semua foto Shanuella ke folder tong sampah. Hingga akhirnya, pria itu menyerah. Sakitnya seperti diiris-iris ketika hati dan otak sedang bertempur. Tak sanggup meneruskan, Rarendra melempar kencang ponselnya ke dinding hingga berhamburan.
Saat otak tidak bisa mengontrol perasaan, di saat itulah hidupnya seperti di neraka. Cinta yang tidak diinginkan bersemayam di hati dan sulit dienyahkan. Lima tahun berlalu, Shanuella masih enggan pergi. Itu kenyataan yang selama ini disembunyikan dari dunia. Bahkan, dia tak mau mengakuinya.