My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Pengecekan pegawai


__ADS_3

Keesokan paginya seperti biasa Lana bersama sang kakek sarapan bersama di meja makan. Mereka makan sambil membahas evaluasi pegawai yang di laksanakan kemarin. Lana yang ditanya evaluasi kemarin sontak saja menceritakan keseluruhan ceritanya terutama kejadian Juan dan Dion juga peserta 09 yang membuat kericuhan di dalam ruangan.


Kakek Lana mendengarkan dengan seksama dan seringkali mengerutkan dahinya saat mendengar cerita yang dirasa tak enak didengar.


"Oh jadi Juan dan Dion itu membuatmu marah kemarin?"


Lana menghentikan aktifitas makannya. "Bukan Juan dan Dion kakek tapi, peserta 09 yang membuatku marah." tega Lana.


"Oh kau menaruh perhatian pada Dion dan Juan?" dengan nada santai kakek sambil terus menyuapi makanan ke mulutnya.


"Tidak, kemarin hanya hal kebetulan saja. Dan menurutku mereka benar, kek."


Kakek menatap Lana sebentar dengan senyum tipisnya yang menyambut mata Lana saat dia menatap sang kakek. Lana mengernyitkan dahinya yang mengartikan dia tidak tahu maksud senyuman sang kakek.


"Kenapa, kek?" Lana yang masih menyuapi makanan ke mulutnya.


"Masih tanya saja kamu, kalau kakek tersenyum berarti hal baik telah kamu lakukan dengan benar. Dan kakek selalu mendukungmu jika itu hal yang baik kamu lakukan."


Lana langsung tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada kakeknya. Setelah selesai makan, kakek dan Lana. menuju ke mobil untuk berangkat ke kantor.


Di dalam mobil kakek pun memulai obrolan seputar pekerjaan di kantor.


"Na, nanti kamu cek pegawai baru sesuai divisi yang mereka tempati ya!" Kakek menatap Lana dengan amat sangat lama sehingga menimbulkan rasa tanya di dalam pikiran Lana.


Lana pun membalas tatapan sang kakek. "Kenapa kek?"


Kakek mengalihkan pandangannya ke arah depan. "Bukan apa-apa, hanya saja kakek merasa sudah membesarkanmu sangat baik sehingga kau tumbuh dewasa menjadi gadis yang baik. Kakek harap akan selalu begitu dan kakek akan bisa selalu berada di sampingmu sampai kamu menikah nanti dan punya anak yang manis-manis seperti dirimu." ucap kakek dengan nada lembut.


"Kakek akan selalu sehat dan terus bersama Lana. Pokoknya kakek harus sehat terus. Apa kakek mau Lana menikah sekarang dengan pilihan kakek misalnya? Lana akan menyetujuinya, kek." Lana menatap kakeknya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Heh... ngomong apa kamu ini. Kakek tidak mau cerita pernikahan paksa seperti itu. Kakek mau kamu bahagia selalu dan tentu saja kau yang harus memilih sendiri pasangan yang kau cintai. Satu hal yang kakek mau, kamu selalu bahagia."

__ADS_1


Lana seketika menangis didepan sang kakek. Hal yang di utamakan Lana adalah sang kakek namun, kakek adalah orang yang selalu mengutamakan Lana itulah ikatan batin yang sebenarnya.


Obrolan Lana dan kakek berhenti seketika saat mereka sudah tiba di depan kantor. Pintu mobil dibukakan oleh penjaga di depan pintu kantor, kakek dengan tongkat kayu setianya turun terlebih dahulu lalu diikuti oleh sang cucu yaitu Lana dibelakangnya. Kakek turun dan langsung menuju ke ruangan tempat kerjanya sementara Lana turun dan langsung berbincang dengan asistennya untuk mengurusi pengecekan pegawai baru yang diterima sesuai divisi penempatan mereka.


"Kamu sudah atur jadwal saya dimana saya akan mengecek dan tentu harus disertai meja berapa, nama, dan kalau bisa kamu beri waktu berapa menit untuk setiap pegawai yang saja cek karena nanti saya harus menandatangani beberapa berkas yang sepertinya sekarang sudah ada tumpukan berkas tambahan lagi." Lana memegangi kepalanya yang jika tidak ada asistennya sepertinya kepala akan pecah memikirkan jadwalnya sendirian.


"Tenang nona jadwal anda akan aman dan nyaman. Saya sudah membuatnya dengan jelas, rapi dan terstruktur. Nona tinggal mengikuti arahan saya pasti waktu nona tidak akan terbuang." Mawar adalah asisten Lana yang sopan dan kadang bar-bar.


"Baguslah kalau begitu. Sekarang kita menuju ke mana?"


"Kita menuju ke pabrik nona."


Tanpa pikir panjang Lana berjalan menuju pabrik dimana pusat produksi ada disitu yang mana dibelakangnya diikuti oleh asisten dan bodyguardnya yang setia mengawalnya walaupun dia tidak mau mereka tetap akan mengawalnya.


Mereka akhirnya menuju tangga pabrik yang mana pabrik ada dibawah kantor.


"Ada berapa orang yang akan saya cek disana?"


"Hah soleram? namanya kek nyanyian aja." Karena tangga menuju pabrik itu ramai disertai dengan suara mesin jadinya Lana tidak terlalu kedengaran dengan apa yang diucapkan asistennya.


Kedua bodyguard Lana tersenyum menahan ketawa mereka mendengar ucapan Lana yang lucu.


Sang asisten mendekat kepada Lana agar suaranya terdengar jelas oleh Lana.


"Bukan soleram tapi lima orang." bisik Mawar kepada Lana.


"Oh... lima orang toh. Kirain Soleram kerja disini. hahaha." tawa riuh Lana dibarengi tawa oleh bodyguard dan asistennya.


Akhirnya mereka sampai di pabrik bawah tanah milih perubahan kakeknya itu.


"Mari saya tunjukkan jalannya agar cepat sampai ke pegawai yang kita tuju."

__ADS_1


Lana hanya mengangguk mengerti dan mengikuti asistennya dari belakang. Setelah beberapa menit berjalan akhirnya asisten Lana berhenti.


"Itu nona, namanya Zaki dari divisi produksi." menunjuk dengan pulpen setianya yang selalu ada di setiap kesempatan.


Lana berjalan menuju Zaki pegawai barunya itu.


"Zaki, ya?" tanya Lana.


"Zaki yang sedang membawa secarik kertas yang sepertinya prosedur kerjanya masih terfokus ke kertas yang dia pegang.


"Lah ni orang punya masalah THT apa gimana si."


"Zakii, yaa?" tambah Lana sedikit menaikkan tinggi suaranya.


Namun, belum juga ada respon dari sang pemilik namanya. Sehingga sang bodyguard mulai bertindak.


bugh


Bodyguard Lana menepuk bahu Zaki dengan pelan namun pasti.


"Eh..." terkaget dengan apa yang dilihat di depan matanya. Dia melihat bapak-bapak bertubuh kekar.


"Pak saya tidak punya utang loh. Salah orang bapak-bapak ini."


Lana pun menyingkirkan bodyguardnya agar dirinya terlihat di depan mata Zaki bahwa dirinya sedari tadi disini menunggunya yang entah mengapa kupingnya tidak mendengarnya.


"Zaki, ya?"


"Ehh, nona pimpinan. Saya bukan Zakiya, nona."


Lana menepuk jidatnya lagi karena sedari tadi akhirnya dia tahu alasan kenapa Zaki tidak merespon karena dia berpikir kalau Lana memanggil Zakiya bukan Zaki.

__ADS_1


__ADS_2