My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Extra Chapter 2


__ADS_3

“Shan?” 


Wanita berbalut bathrobe itu masih mematung, nada sapa terasa menggantung . Ditelitinya Shanuella dan seorang gadis kecil yang tengah menatapnya bingung, seakan kemunculannya bak makhluk ruang angkasa yang baru saja mendarat di bumi.


“Kathy?” Sepotong tanya meluncur ragu, lolos bibir tipis Shanuella. Berjuang keras memulihkan ingatan, ibu muda itu mengenali jelas seringai manis wanita di hadapannya.


Lima tahun berlalu, Kathy—sahabatnya itu—tidak berubah sama sekali. Waktu mungkin mengaburkan separuh memori yang sengaja ditenggelamkan ke dasar lautan karena pedih dan perih yang begitu kompak mencabik jiwa raga, tetapi tidak untuk nama tersebut. Mereka teman baik di bangku kuliah walau akhir kisah tak semanis awal jumpa. Pasca kebangkrutan keluarganya, disusul kehancuran karena harus hamil tanpa suami, Shanuella memilih menghilang dari dunia. Bersama Bayu dan Mbok Sari, dia memulai hidup baru.


“Kamu Shanuella SunShine, ‘kan?” Kathy mengernyit. Sepasang mata beriris kelabu itu memindai dua obyek di depan mata. Tak satu pun lolos dari pengamatan. Wanita cantik tengah menggenggam erat tangan gadis kecil memasang raut terheran-heran.


Shanuella menelan ludah. Isi kepalanya tengah bernostalgia. Dia berkaca-kaca setelah kenangan lamanya bersama sang sahabat terangkum utuh. Bahagia nyata terpatri dari senyuman yang akhirnya mengembang sempurna.


“Ya, aku Shan Shan, Kath. Apa kabarmu, Kath?” Terlampau gembira bertemu sahabat lama, dia lupa dengan logika yang menyapa di depan mata. Mengurai jalinan tangannya dan Lana, kedua tangan Shanuella membentang hendak menyambut Kathy. 


Namun, kakinya baru selangkah bergerak maju, alarm kewarasan membuat logikanya berjalan. Shanuella membeku. Kedua tangan yang sudah siap menyambut pertemuan tak sengaja itu perlahan terjatuh. Dia menyadari sesuatu. 


“Ba … bagaimana bisa ada di sini, Kath?” 


Binar bahagia meredup, air muka berubah datar. Semburat cemburu menyelinap masuk dalam hati Shanuella. Ditelusurinya penampakan cantik itu dari ujung kepala hingga ke kaki yang tak beralas sama sekali.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan di sini, Kath?” Shanuella mundur selangkah, tubuhnya menjauh. Berharap pergerakannya sanggup memberi udara segar. Dadanya tiba-tiba sesak, dia sulit bernapas. Selintas, bayangan Rarendra hadir. 


Jangan katakan … kalau ini bagian dari balas dendamnya juga. Ya, ini puncak dari balas dendamnya. Rarendra ingin menghancurkanku sampai tak bersisa.


Dunia berputar, kepala Shanuella berat. Otak tak sanggup berpikir lagi, sosok Rarendra yang tengah menyeringai licik dalam benaknya itu menunjukkan kepuasan. Tubuh lunglai, lemas sudah kedua tungkai. Beruntung, di detik-detik hendak terjatuh, tangannya tak sengaja menyentuh rok Lana yang akhirnya menguatkannya kembali.


Bodohnya!  


Wanita itu merutuki diri sendiri. 


Kenapa aku bisa tak menyadari? Rarendra tak mungkin semudah itu memaafkanku. Dia kehilangan nyawa kekasihnya, tak mungkin kesalahanku dibayar dengan semua kemewahan dan perhatian seperti yang diberikannya padaku selama ini. Cinta yang ditawarkannya terlalu tak masuk akal. Apalagi pernikahan dan tanggung jawab yang dijanjikannya untukku. Ya, ini adalah puncak pembalasan dendamnya. Dan, dia berhasil membuatku hancur sampai tak bersisa.


“Shan?” Rarendra memandang calon istri yang terlihat berantakan. Beralih pada putrinya—Lana—yang kebingungan. “Sayang,” sapanya ulang sebelum menyadari kehadiran sosok asing yang selama ini tak pernah mau dijumpai.


Kathy tersenyum. “Ren, aku kembali,” ujar wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher Rarendra dengan lancang. Sedikit berjinjit, dia mengecup pipi pria yang selama bertahun-tahun disimpannya rapi dalam hati. “Aku merindukanmu,” lanjutnya dengan perasaan membuncah.


Shanuella terpukul. Mengusap cairan bening yang membasahi matanya, dia bisa melihat jelas kemesraan sepasang cucu Adam dan Hawa yang sedang meredam kerinduan.


“Aku … aku ….” Terbata-bata, Shanuella kehabisan kata saat mendapati kenyataan yang menyakiti. Ini lebih perih dibandingkan saat ditinggal Blade tanpa pesan, lebih sakit dibandingkan harus dipaksa menikah dengan laki-laki yang tak dicintai.

__ADS_1


Shanuella baru saja memupuk kembali kepercayaan pada Rarendra, tetapi sudah ditampar dengan fakta mengerikan. Dia salah mengambil keputusan dan keliru mengenali rasa. Tak mampu melihat kenyataan di depan matanya lebih lama, wanita itu berbalik. Di tengah akal sehatnya yang lenyap, dia berlari pergi meninggalkan semua, termasuk melupakan Lana. 


Dunia menggelap, pikiran Shanuella membatu. Saat ini jiwanya dipaksa keluar dari raga. Hatinya menjerit, menyadari kebodohan.


“Mama.” Lama berteriak dan menangis kencang saat ditinggalkan. Bermaksud menyusul, langkah kecilnya tak sebanding dengan Shanuella yang sudah berlari keluar gerbang.


Suara gadis kecil itu mampu menyentak Rarendra yang tengah tenggelam dalam kejutan begitu tiba-tiba. Butuh beberapa detik untuknya menyadari kelancangan Kathy sebelum akhirnya mendorong kasar wanita yang telah mengacaukan segala rencananya. 


Bruk.


Terdorong membentur pintu, Rarendra tak peduli dengan wanita yang tengah mengeluh kesakitan karena ulahnya. Dia harus mengejar Shanuella dan Lana yang sudah berlari menjauh.


“Shan, tunggu. Aku bisa jelaskan.” 


Langkah kakinya lebar-lebar, Rarendra berusaha untuk mendapatkan keduanya kembali. Perasaan berantakan, jantung bergemuruh kencang. Dia tak mau sampai semua hancur karena kesalahpahaman. Susah payah mendapatkan Shanuella dan Lana kembali, dia tak mungkin membiarkan Kathy menghancurkan.


“Sayang.” Rarendra meraup tubuh putrinya dan membawa ke gendongan.


“Mama! Mama!” jerit Lana, menangis saat tak mendapati Shanuella di depan matanya lagi. “Mama pegi, Dad. Mama pegi.”

__ADS_1


“Ya, kita susul Mama.” Sambil menggendong Lana, pria tampan itu bergegas menyusul keluar gerbang. “Jangan menangis, Sayang.”


__ADS_2