My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Coba Saja Kalau Berani


__ADS_3

"Lah, masa' nggak bisa." Juan tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Lana. Juan mencoba menggerakkan gagang pintunya dan nihil ternyata tidak bisa juga dibuka.


"Kok bisa ya? masa' hotel mahal kayak gini pintunya gampang konslet." Juan masih terus memegang gagang pintu tersebut dan diputar ke kanan ke kiri tetapi hasilnya tetap nihil.


"Sepertinya kita di kerjain oleh Justin. Awas kau Justin!" teriak Lana tak terima.


*


*


*


(Beberapa menit yang lalu saat Justin bersama assitennya keluar kamar).


Justin mengunci pintu kamar dari luar tanpa sepengetahuan Lana dan Juan.


"Loh, tuan kenapa dikunci kamarnya?" tanya asisten Justin yang bingung apa yang dilakukan tuannya itu.


"Biarin pasangan itu berduaan. Jarang banget Lana ngajak bodyguardnya untuk ikut meeting bareng biasanya juga Mawar yang ikut, nah ini bodyguard katanya mana cakep pula kalau bukan doi nya siapa lagi? masih percaya dia bodyguard? kalau aku sih nggak. hahaha..."


"Jadi, tuan mau mereka berdua gitu?"


"Yaa, sepertinya mereka tidak ada waktu untuk berdua jadi aku baik hati membantu mereka berduaan." jawab Justin dengan santainya.


"Ayo pergi!" Justin berjalan meninggalkan kamar yang ia kunci.


Justin membuka pintu depan untuk keluar dari ruangan disusul asistennya keluar dari ruangan.


"Sudah selesai ya tuan?" tanya Pak Sam yang baru saja melihat Justin keluar.


"Sudah, tapi Lana dan Juan masih di dalam ada berkas yang saya inginkan untuk di teliti secepatnya jadi Lana masih termangu dengan berkasnya. Biarkan dia selesaikan urusannya!" jawab Juan dengan matang.


"Kau harus berterima kasih Lana, aku sudah membantumu berduaan dengan pacarmu." batin Juan sambil tersenyum tipis.


Justin menatap pak Sam dan bodyguard lainnya, "Saya permisi dulu ya!".


Pak Sam dan yang lain mengangguk layaknya mempersilahkan Justin dan asistennya pergi.


*


*


*


"Aku akan telpon pak Sam dulu." ucap Lana memecahkan masalah.

__ADS_1


"Oh iya, silahkan. Kenapa aku tidak kepikiran telpon sih." balas Juan menggerutu dirinya sendiri.


Hening...


"Halo... pak Sam! tolong buka kan pintu. Aku dikunci oleh Justin sial*n itu."


Terdengar balasan dari pak Sam ujung sana "Ha, dikunci! jadi tuan Justin membohongi kami tadi."


"Ha! aku tidak tahu maksudmu dibohongi olehnya yang penting sekarang bukakan pintunya." suruh Lana.


"Baik nona." balasan terakhir sebelum sambungan telponnya diputus oleh Lana secara sepihak.


Tut...tut...tut...


"Kita tunggu pak Sam dan yang lain datang membukakan pintunya." Lana berjalan menuju sofa dengan wajah datarnya. Juan tahu kalau Lana capek dan malah ditambah dengan kejahilan Justin pasti mood Lana jadi buruk.


"Ini kamar kok besar banget. Bisa main tenis meja di sini." celetuk Juan mencairkan suasana dan mencoba menghibur Lana.


Lana menoleh ke arah Juan, "Biasanya kamar ini sih dipakai pengantin pas malam pertama ya kalau banyak duit si ini kamar jadi tujuannya."


Juan menelan salivanya, "Ohh baru tahu ini kamar malam pertama. Padahal besar kecilnya kamar nggak mempengaruhi kan, ada-ada aja orang-orang."


Sekali lagi Lana menoleh ke arah Juan, "Pernah melakukan ya, kok tahu nggak ada bedanya?".


"Ha! melakukan apa? begituan? ya belumlah." jawab Juan dengan cepat.


Juan tahu Lana sedang gerogi dibuatnya karena pertanyaan yang sensitif itu, "Apa kau butuh bukti kalau aku masih tersegel?"


Lana gelagapan dibuatnya, "Bukti-bukti pala kau. Aku hanya bercanda kenapa kau menanggapinya serius."


"Siapa tahu kamu masih ada rasa tanda tanya di kepalamu tentang aku masih perjaka atau tidak?" Juan masih terus menjahili bosnya itu selain itu pipi Lana menjadi merah dan membuat Juan semangat terus menjahili Lana.


"Dihh, mana ada. Aku tidak punya urusan dengan keperjakaanmu, mau kamu sudah main dengan siapapun itu urusanmu." jawab Lana dengan cueknya.


"Apa kamu masih tersegel?" tanya Juan sambil berjalan mendekati Lana.


"Kenapa? apa urusanmu?" Lana menatap Juan dengan sedikit rasa takut dan penasaran akan pertanyaan Juan.


"Mmmm..." Juan bergeming dan dia sudah ada di depan Lana, tepat di depan Lana.


"Kau tidak takut jika kita sedang berdua saja?" tambah Juan sambil memegang kancing bajunya.


"Coba saja jika kau berani" jawab Lana sembari menggigit bibir bawahnya.


Juan sebenarnya tidak ingin meneruskan aksinya untuk menjahili bosnya itu tapi kenapa dia tergoda.

__ADS_1


"Mengapa begitu menggoda saat Lana menggigit bibirnya itu." batin Juan yang malah tergoda dengan aksi Lana.


Juan berusaha mengalihkan pembicaraan agar dia tidak tergoda.


"Aku tahu kau belum pernah jadi, yaa... jangan berlagak anak kecil." Juan mengacak-acak rambut Lana.


Lana tersipu malu dibuatnya karena itu pertama kalinya ada orang yang mengacak-acak rambutnya.


"Yaaa! Kau merusak rambutku." Lana berusaha menyembunyikan salah tingkahnya.


Juan duduk tepat di samping Lana sambil berbisik, "Aku tahu kau juga belum pernah merasakan pacaran kan?"


"Yaaa! kau ini terus saja memojokkanku. Seharusnya aku tidak membawamu kerumahku dan mengenalkan pada kakek." Lana bangun dan mengepalkan tangannya kepada Juan untuk memukulnya tapi pada akhirnya Juan malah menyeret tangan Lana.


Lana terjatuh ke pelukan Juan. Mereka saling menatap satu sama lain. "Iya ini salah satu scene jika kamu pacaran." celetuk Juan sambil mengedipkan matanya kearah Lana.


"Yaa! lepaskan aku!" teriak Lana.


"Apa mau tahu scene selanjutnya?" Juan masih semangat menjahili bosnya.


"Jangan coba-coba!" ancam Lana.


"Hei! kau sendiri yang mengatakan coba saja kalau berani!, berarti kau takut dan belum pernah kan?"


"Arkkkgghhh terbongkar sudah." batin Lana sambil meratapi dirinya yang akan di ejek oleh Juan.


"Bagaimana mau dilanjutkan atau tidak?" Juan menyentuh pipi Lana dengan jemarinya dengan lembut.


Lana dibuat membatu dengan sentuhan Juan, darahnya berdesir juga jantungnya berdegup kencang. Jangan ditanya Juan sebenarnya juga berdegup kencang jantungnya tapi dia lebih memilih tetap menjahili Lana supaya tidak ketahuan.


"Nona!" teriak pak Sam dari Luar kamar.


Sontak Lana dan Juan terkaget dan terbangun bersama sehingga saat terbangun bersama ada scene dimana Juan tak sengaja mengecup pipi Lana. Sontak Lana kaget dan menatap Juan dengan tajam disertai pipi Lana yang memerah.


"Yaa! kau kurang ajar!"


"Sumpah! aku tidak sengaja itu. Nona yang terlalu dekat makanya tidak sengaja ada scene itu. Aku beneran tidak sengaja."


Lana mengayunkan tangannya ke arah Juan dan Juan langsung menarik tangan Lana sehingga dua kali ini Lana terjatuh ke pelukan Juan.


"Aku berani bersumpah aku tidak sengaja menciummu, tapi kau tahu pipimu merah. Apa kau suka?" bisik Juan di telinga Lana.


Lana yang mendengar itu langsung panik karena tidak menyangka pipinya akan merah.


brak...

__ADS_1


Suara pintu terbuka dengan paksa.


Juan dan Lana masih dalam pelukan langsung kaget mendengar pintu yang terbuka.


__ADS_2