
Semua langsung menyiapkan sobekan notesnya dan menulis nama orang yang disetujui usulannya. Setelah selesai menulis semua kertas akan terkumpul di depan penanggung jawab.
Semua sepertinya sudah terkumpul dan sang penanggung jawab langsung membuka satu persatu untuk menghitung voting.
"Selamat Juan ide kamu kami terima. Serahkan proposal terkait ide kamu secara detail. Apakah ada sukarelawan yang ingin membantu Juan dalam idenya sampai idenya dapat terlaksana?"
"Saya bersedia, saya juga punya keahlian dalam gizi jadi saya bisa menakar takaran nantinya yang akan kita pasarkan." Dion dengan semangatnya tanpa diminta.
"Baru tahu aku kalau dia ada ahli di bidang gizi." seru Lana lirih.
"Salah seorang orang tuanya adalah dokter ahli gizi di rumah sakit kota." bisik pak Bram kepada Lana.
"Bukan main para pegawai ku." sahut Lana.
"Yaudah sekarang sudah selesai mengecek semua pegawai baru dan sudah sore, saya mau ke restoran Tere."
"Baik saya siapkan mobilnya, nona." Pak Sam langsung pergi meninggalkan Lana dan pak Bram berdua.
-
-
-
"Eh Juan, ini kipas jarang di pakai ya. Bisa apa kagak si ini." Dioan mengutak-atik kipas yang ada di sebelah meja presentasi. Dia masih mengelus dan memastikan kipas itu bekerja atau tidak.
"Udah lah ngapain ngurusin kipas mending bantu rapihin berkas." Juang yang sibuk mengurusi berkas berantakan di meja presentasi. Jikalau bukan berkas penting pasti ob yang akan membereskan namun, ini berkas idenya jadi itu penting baginya.
Dion yang masih ingin tahu kipasnya bekerja atau tidak akhirnya mencolokkan kabelnya ke stopkontak. Dan terjadilah angin ribut di dalam ruangan rapat sehingga berkas yang ditata Juan menjadi lari dari tangannya. Lana yang berdiri diambang pintu bersama bodyguardnya menjadi sasaran angin ribut itu, semua kertas berhamburan ke arah Lana.
"Arkkkgghhh... apa ini?" teriak Lana dalam serangan kertas kearahnya itu.
"Hentikan kipasnya, atau ku hentikan nafasmu sekarang." teriak pak Bram yang tengah berdiri bersama pak Sam melindungi Lana dari terjangan kertas.
"Alamak, nafasku pun nak dihentikan." dengan cepat Dion mencopot kabel kipas dari stopkontak.
"Kau sih, jadi berantakan berkasnya. Kena omel nona dan bodyguardnya pula. Ambil aja jantungnya pak, daripada bikin ulah mulu ini orang." Celetuk Juan meledek Dion.
__ADS_1
"Kalian berdua ini bisa tidak jangan membuat ulah."
"Ma'af, nona." kompak Juan dan Dion.
Lana memandang Juan dan Dion sedang berdiri seraya menunjukkan pandangan mereka. Lana pergi tanpa sepatah katapun kepada mereka diikuti bodyguardnya di belakang.
Juan sontak memandang Dion. "Awas loh! besok di meja kerja langsung ada surat pemecatan."
"Lah jangan nyumpahin gitu dong. Takut beneran nih!." Dion dengan muka memelasnya merasa telah berbuat salah dan tak ingin pula di pecat atas kesalahannya.
"Hahaha, ya udah bantuin aku ngumpulin semua berkas yang berserakan di lantai. Cepet!" tegas Juan menunjuk kertas yang ada di lantai.
"Aku takut beneran ini malah di minta mungutin kertas." Dion yang masih saja memikirkan perkataan Juan padanya. Dia takut jika itu kenyataan terjadi besok atau bahkan nanti.
"Lah kan salah kamu ini semua." ujar Juan dengan santai.
"Ya tapi aku tidak mau di pecat, Juan..." Dion menuju kursi yang ada didekatnya dan duduk dengan tangan yang sedang memijit kepalanya.
"Ya ampun masih mikir candaan aku aja, kamu ini. Aku bercanda ya kali di pecat, nona pasti tahu kamu itu partner aku untuk mensukseskan ideku. Mana mungkin di pecat."
Dion langsung berdiri menghampiri Juan. "Oh iya juga."
-
-
-
bremm
Deru mesin mobil yang sedang memarkirkan di sudut restoran. Mobil itu parkir ditempat yang bertuliskan VIP.
"Lana..." teriak dari dalam restoran.
Lana yang baru turun dari mobil tentu saja kaget dengan teriakan Tere dari dalam resto. Lana berjalan ke dalam restoran. Seketika dia disambut rempong oleh Sahabatnya itu.
"Yey... akhirnya datang juga kamu. Nunggu kamu ke restoran kayak nunggu presiden, lama banget. Jadwal mu nggak bisa untuk aku aja apa?" ujar Tere dengan girangnya memeluk Lana.
__ADS_1
"Lah sakit jiwa apa, emang aku kekasihmu yang waktunya hanya untukmu."
Lana dan Tere tertawa bersama, sudah dua hari Tere meminta Lana ke restoran miliknya itu tetapi Lana tidak bisa datang karena jadwal kerja yang padat di kantor.
"Ngomong-ngomong soal kekasih... aku putus sama Alex." Muka Tere langsung berubah, yang tadinya senyum menjadi suram.
"Hm... udah ketebak si. Kamu manggil aku sering-seringnya ya pas kamu putus nyambung sama Alex. Sekarang perkara apalagi sih bisa putus?" Lana dengan wajah penuh tanya akan masalah apalagi yang membuat mereka harus putus. Dan Lana yakin sebentar lagi mereka akan baikan lagi karena sering terjadi putus nyambung antara mereka yang Lana tidak heran dengan itu.
"Kita ke dalam aja yuk! aku ceritain sekalian makan, kamu belum makan kan pasti?" Tere bersiap menyeret tangan Lana untuk mengikuti dirinya ke dalam.
Lana menatap bodyguardnya. "Pak saya kedalam dulu ya?"
"Ya, nona. Kami berjaga di luar saja. Silahkan." Ucap pak Bram dengan lembut diikuti anggukan pak Sam yang menyetujui perkataan pak Bram.
Lana pun tersenyum menandakan ia juga setuju. Akhirnya Lana mengikuti Tere yang sudah memegang tangannya dari tadi.
(Masuk ke ruangan kerja Tere)
"Duduk dulu, Na. Aku pesen makanan dulu ya?" ucap Tere mempersilahkan Lana untuk duduk.
Tere mengangkat gagang telepon untuk menelepon staff nya. "Seperti biasa ya, udah hafal kan?" hanya ucapan itu yang dikatakan Tere dan telpon pun putus.
"Gimana ceritanya?" tanya Lana sambil menatap bingkai foto Tere dan Alex.
"Loh kok masih ada si disini, padahal udah aku jadiin satu di lemari biar nggak aku liat-liat lagi."
"Dih bilang aja masih sayang cinta klepek-klepek. wlee" ejek Lana sambil menunjukan foto mesra mereka.
"Ih siniin Lana. Aku mau jadiin satu."
"Palingan di taruh di meja kerja lagi kan?"
"Nggak, siapa bilang. Biarin aku udah nggak mikirin dia lagi. Putus beneran pun nggak masalah." tegas Tere dengan tangan terlipat di dada.
"Putus beneran nggak apa-apa nih. Perkataan doa loh."
Sontak Tere mengadahkan tangannya selayaknya orang mau berdoa. "Ha... jangan dong bercanda Tuhan. Jangan ya..."
__ADS_1
"Hahaha" renyuh tawa Lana seketika saat melihat sahabatnya yang masih bucin dengan pacarnya walaupun sedang break.