My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 64


__ADS_3

“Kalau aku memintamu resign dari pekerjaan, apa kamu bersedia?” Bayu ragu.


Semua jalan buntu, dia tak bisa menemukan titik terang untuk masalahnya. Ini adalah risiko yang harus diterima karena telah mengambil langkah berani. Menawari Shanuella pernikahan demi menjaga wanita hamil tanpa suami itu, kemudian memilih bekerja dengan musuh agar bisa mengawasi laki-laki yang telah menghancurkan istrinya. Semua diperparah dengan kenyataan yang selama ini ditutupi. Lengkap sudah semua dan dia tinggal menunggu bom waktu meledakkannya. Ya, menghancurkan hingga berkeping-keping.


“Mas, sebenarnya ada apa?”


“Perasaanku tidak enak, Shan. Apa sebaiknya kamu resign dan kita pergi dari Jakarta?”


Shanuella membeku. Ditatapnya lengan kekar yang mengunci erat di perut. Posesif dan dia mulai terbiasa dengan sikap Bayu. Bersama dalam waktu lama, jarak terhempas. Tembok tinggi nan kokoh itu pun runtuh.


“Aku mau tetap di sini, Mas. Lana juga sudah nyaman. Memutuskan pindah dari kota ini akan membuat semuanya asing, Lana harus beradaptasi lagi. Kenapa harus pindah? Bukannya sudah nyaman. Aku dengan pekerjaanku, Mas dengan pekerjaanmu, Mas. Kalau pindah, kita mulai dari awal lagi, Mas. Susah mencari pekerjaan, Mas.”


“Kita bisa mencobanya, Shan. Siapa tahu di luar semuanya jauh lebih baik. Bisa jadi Lana juga akan lebih nyaman. Bagaimana kalau kita coba?” tawar Bayu.


“Aku tidak tahu, Mas. Aku coba pertimbangkan lagi. Saat ini, aku tidak bisa menjawab. Begitu mendadak dan aku butuh waktu mempertimbangkannya.” Shanuella tampak kaku. Menikmati embusan napas Bayu yang menerpa pipinya. Di detik ini, dia teringat akan Daddy dan Mommy. Berat meninggalkan ibu kota setiap mengingat kedua orang tuanya. 

__ADS_1


Walau Daddy telah tiada dan Mommy ada seperti tak ada, tetap saja bagi Shanuella berat untuk meninggalkan ibu kota. Semua kenangan dan masa lalu masih tersimpan rapi di sini, dan dia tak mau mengusiknya.


“Aku tunggu jawabannya, Shan.” Bayu mencoba bersikap tenang.


Wanita cantik itu mengangguk. Tak bisa menolak, dia juga tak bisa membantah. Terlebih, dia tak bisa menerima pinta itu dengan mudah.


“Ya, Mas.”


Mengecup pundak Shanuella, Bayu mendadak bersuara. Banyak hal yang ingin dibahas, tetapi selalu terhambat karena sesuatu dan lain hal.


“Ya, Mas.”


“Em ... aku harap suatu hari nanti ... kamu akan mengingatku. Waktu membuatku mencintaimu dan Lana. Aku ... takut ....”


Shanuella berbalik, tiba-tiba memeluk pria yang terlihat rapuh. Ada banyak hal yang ingin diungkapkan, tetapi tak sanggup disuarakan. Wanita itu bisa menangkap semuanya walau selalu mengabaikan. Sejak awal menikah, dia berjuang untuk tak jatuh cinta. Bukan karena cintanya pada Blade terlampau besar, tetapi mencintai itu membuat jiwa sakit.

__ADS_1


“Terima kasih, Mas. Aku tahu ... kamu berjuang untuk berada di sisiku. Aku tahu ... banyak yang kamu korbankan Mas.”


Dekapan itu berbalas dan hangat, menemani senja yang terkikis perlahan  tenggelam bersama keremangan. Dari arah dalam rumah, terdengar suara Lana berseru, menyapa kedua orang tuanya yang tak tampak di dekatnya.


“Mama, kamu  mana?”


Dekapan Shanuella terurai, merangkak turun dari pangkuan Bayu setelah mengurai pelukan pria itu pada pinggangnya. Tepat bersamaan dengan kemunculan Lana di ambang pintu, memandang kedua orang tua yang sedang menebar canggung, suara dering ponsel terdengar nyaring.


Shanuella buru-buru mengeluarkan benda pipih itu dari saku celana dan memastikan siapa yang telah menghubunginya.


“Rarendra?” Wanita itu mengernyit bersamaan dengan suara khas Lana yang berseru sembari berlari ke arah Bayu. 


Mau apa dia menghubungiku? Menatap layar gawai, jalinan aksara yang terangkai membentuk nama itu memancing debar. Belum ada 24 jam menyimpan nomor tersebut, pria di baliknya sudah menunjukkan eksistensinya.


“Papa.”

__ADS_1


...✔️✔️✔️...


__ADS_2