My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 111


__ADS_3

Rarendra tersentak. Dipandanginya Shanuella yang berbalik badan dan terpaku menatap. Sepasang mata indah itu terlapisi cairan kristal, paras meredup, bibir terkatup. Memperhatikan dari kepala sampai ke ujung kaki, pria itu tersadar saat tak sengaja melihat jemari yang sedang meremas. Cincin terselip di jari manis, menampar dan menyadarkan dalam hitungan detik.


Dia sudah menikah. Tak seharusnya aku menyatakan cinta.


Mengukir senyuman, Rarendra membenahi jawaban yang kadung terlontar keluar. Ditariknya kembali pernyataan cinta sembari menikmati perih. Luka yang diciptakan sendiri karena tak sanggup mengontrol hati. Ketika dendam dan cinta hadir bersamaan, siksanya mengukir luka dan menorehkan nestapa.


“Pasti kamu mengharap jawaban itu, ‘kan?” Memaksa bibir melengkung, sembilu menikam kalbu dan menciptakan luka baru. “Jangan dimasukkan ke dalam hati, aku hanya bercanda.” Rarendra menyembunyikan getir.


“Blade?” Shanuella menyapa datar.


“Ya. Mulai sekarang, panggil aku Endra saja. Blade hanya fiktif. Dia tidak pernah ada. Mungkin sama seperti cintanya.” Rarendra berdusta.


Keinginan untuk mengejar cinta terkendala saat mendapati Bayulah sosok pahlawan di dalam hidup Shanuella. Andai pria lain, mungkin akan lain cerita. Rarendra bisa mengungkapkan perasaannya dengan mudah.

__ADS_1


Mungkin sejak awal aku diciptakan untuk membencinya. Makanya, Tuhan menakdirkan banyak hal agar aku tak memupuk rasa ini terlalu lama. Tapi, bagaimana aku bisa melupakannya? Sedangkan dia hadir di dalam hati tanpa kusadari. Tuhan, kalau boleh memilih. Aku tidak mau serakah. Cukup hadirkan satu rasa saja di dalam hati ini. Cinta atau benci. Jangan siksa aku dengan rasa yang hadir bersamaan.


“Kita makan siang sekarang. Wajahmu itu seperti sedang menahan lapar.” Rarendra mengalihkan pembicaraan. Baru akan menggenggam tangan Shanuella, dia tersadar. Beberapa detik tubuhnya membeku dan memilih mengurungkan niatnya. “Ayo.”


Ternyata, mengalah bukan hal yang mudah dilakukan. Sering kali khilaf, lupa akan status Shanuella yang istri orang. Dia harus benar-benar menjaga diri, agar tak bersikap berlebihan dan menabrak batasan


“Ayo, setelah makan siang, aku akan mengantarmu ke kantor. Jangan khawatir, aku sudah meminta izin suamimu.”


Mengekor langkah pria di depannya, wanita itu tersentak ketika hendak melangkah ke mobil yang terparkir di tepi jalan dan mendapati Rarendra berbalik.


“Oh ya, ada yang lupa aku sampaikan.” Wajah tampan itu tampak tenang. “Aku sudah memaafkanmu atas kematian tunanganku.”


Deg.

__ADS_1


Shanuella terkesiap. Kaki yang sedang melangkah tiba-tiba berhenti. Menatap dalam, mencari kejujuran di dalamnya.


“Hidup terus berjalan. Aku sadar ini. Dendam yang kujaga selama ini hanya akan melukaiku. Aku kecewa, siapa pun akan merasakan hal yang sama. Tapi, hari-hari yang aku lewatkan selama lima tahun ini ... menamparku.” Rarendra tak sanggup melanjutkan ucapannya ketika sudah menyangkut perasaannya. “Aku mendapatkan karmaku karena telah berani menyakitimu. Mulai hari ini, hiduplah dengan baik, jangan khawatirkan apa pun. Ini takdirku dan juga takdirmu.”


Memutar tubuhnya kembali, Rarendra menitikkan air mata. Tangis tanpa suara selama lima tahun belakangan, ketika harus terperangkap dalam cinta pada orang yang tak seharusnya.


“Blade?” Shanuella setengah berlari dan menyusul.


“Jangan panggil Blade. Aku sudah lupa rasanya menjadi Blade,” ujar Rarendra, tak memandang lawan bicaranya. Berdiri di samping pintu mobil, membukakan untuk Shanuella. “Silakan, Shan.”


Shanuella terpaku. Mengingat selama ini, laki-laki itu bersikap baik padanya. Sebagai Rarendra maupun Blade, tidak pernah melukai. Satu-satunya sakit yang ditorehkan hanya karena meninggalkannya tanpa pesan.


Apa dia benar-benar sudah memaafkanku? Kalau memang sudah, apakah aku juga harus melakukan hal yang sama? Apa aku juga harus melupakan sakit hatiku?

__ADS_1


__ADS_2