My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 34


__ADS_3

“Bukan berarti dia tidak berhak hidup, kan?” todong Bayu. “Ingat, aku sudah pernah menawarimu sewaktu Lana masih bayi merah. Kamu yang mempertahankannya, bukan aku atau Mbok Sari. Kamu yang menginginkannya tetap di sini. Aku sudah memberimu kebebasan memilih. Mempertahankan atau membuangnya?”


Shanuella tersentak. Air mata tiba-tiba berhenti menetes. Dia teringat kisah kelamnya dulu. Ya, dia yang memutuskan mempertahankan Lana, bukan paksaan orang lain.


“Ya, aku tahu.” Shanuella mengangguk pelan dan mengurai diri dari dekapan Bayu.


“Ini keputusanmu. Kalau menyesal pun harusnya sesali sendiri, jangan libatkan aku atau pun Lana. Bahkan, kami tidak tahu apa-apa. Kami ada di kamar ini karena kesalahanmu dan Blade. Selama ini, apa kami pernah mengeluh?”


“Aku tahu, Mas.” Shanuella mengusap air matanya.


“Lalu, apa maumu sekarang?” Bayu tak memberi celah untuk Shanuella terus menyalahkan Lana. Pria itu terus mengingatkan bagaimana semua bermula.


Shanuella menggeleng.

__ADS_1


“Shan, kamu harus tahu satu hal. Di dunia ini tak ada kebetulan. Semua yang terjadi telah direncanakan. Entah oleh Tuhan, entah oleh manusia sendiri. Tugas kita hanya satu. Jadilah manusia sebaik-baiknya, hindarilah dosa sebisa mungkin. Cukup itu saja, tak perlu menjadi seseorang yang ‘wah’. Cukup jadi diri sendiri, cukup jadi seseorang yang apa adanya. Lima tahun yang kita lewati bersama ....” Bayu menghela napas panjang. “Harusnya kamu tahu seberapa berat hari-hari yang kita lewati. Satu hal, tidak perlu memupuk harapan terlalu tinggi. Biarkan kita mengambil bagian kita, Tuhan menyelesaikan bagian-Nya.”


Pria dewasa itu mencoba menjelaskan. Sebagai orang yang lebih dulu menjalani pahit manisnya kehidupan mencoba menerangkan.


“Jangan salahkan Lana untuk sesuatu yang jelas bukan salahnya. Kalau orang lain melakukan kesalahan, lalu dilimpahkan padamu. Apa kamu akan menerimanya?” tanya Bayu.


Shanuella menggeleng.


“Kamu sendiri tidak bisa menerima, jadi bagaimana mungkin putrimu bisa menerima kesalahanmu yang dilimpahkan padanya. Ingat, dia tidak pernah minta dilahirkan.” Bayu menegaskan.


“Sudah. Bersiap sekarang, aku akan mengantarmu ke kantor. Hari ini Lana tidak perlu ke sekolah dulu. Biar istirahat satu dua hari di rumah. Lagi pula, masih TK A, tidak masalah izin.”


Bayu hendak turun dari tempat tidur saat merasakan dua tangan tiba-tiba memeluk pinggangnya dari belakang. Tak lama, dia bisa merasakan seseorang merebah di balik punggungnya. Terkesiap, tubuh pria itu mendadak kaku.

__ADS_1


“Maafkan aku, Mas.”


Bayu masih membeku. Tak ada reaksi berlebih. Ia terlampau kaget dengan sikap Shanuella yang tiba-tiba. Kurang lebih Lima tahun perjalanan rumah tangga mereka, lebih banyak dia yang memeluk istrinya itu. Selama ini, wanita itu kaku, dingin, dan tak mau membuka diri.


“Kenapa?”


Setelah lama diam, Bayu bersuara. Perasaannya membuncah saat diperlakukan dengan manis walau hanya sebuah dekapan sederhana tanpa makna.


“Selama ini ... aku dan Lana banyak menyusahkanmu.”


Terdengar tawa kecil dari bibir Bayu sebelum akhirnya pria itu bersuara.


“Kamu istriku. Lalu, masalahnya apa? Disusahkan dan direpotkan ....” Bayu menggeleng. “Sudah menjadi tanggung jawabku, Shan. Jadi, jangan merasa direpotkan. Aku tidak pernah keberatan.”

__ADS_1


“Terima kasih, Mas.” Shanuella masih memeluk punggung kekar suaminya dan mencuri kecupan tipis di sana.


“Kalau ingin berterima kasih padaku, tolong bersikap baiklah pada Lana. Dia putriku, tolong jaga dia baik-baik. Perlakukan layaknya seorang anak kesayangan, karena dia adalah alasan hubungan kita ini ada. Tanpa Lana, tidak ada kita, hanya aku dan kamu.”


__ADS_2