My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 102


__ADS_3

“Aku minta maaf telah membuatmu menunggu. Aku memilih membalaskan dendamku mungkin dengan cara keji. Tapi, yang harus kamu tahu, Shan ... aku pun sama tersiksanya. Kamu tahu bagaimana rasanya mencintai wanita yang harusnya dibenci. Cukup aku saja bagaimana cinta dan dendam bertemu, rindu dan benci beradu.”


Mengusap air mata dengan ujung telunjuk, Rarendra  menarik napas berat dari hidungnya yang tersumbat.


...🍒🍒🍒...


“Kenapa Mas tidak berterus terang?” 


Shanuella menumpahkan air mata yang sempat reda saat dalam perjalanan menuju ke rumah. Perasaannya saat ini sulit dijelaskan. Campur aduk tak karuan. 


“Aku tidak mau kamu terluka, Shan. Sudah cukup menangis selama ini. Kini saatnya tertawa. Ingat, hidupmu bukan hanya ada Blade saja. Tapi, ada aku dan Lana. Kami ....”


“Selama ini aku mencarinya dan Mas diam saja?” 

__ADS_1


Bayu menggigit bibir. Tangannya mencengkeram erat kemudi, tak sanggup menjawab. Dia salah, tak seharusnya berbohong saat Shanuella berlari ke sama kemari mencari Blade. Dia berdosa, menyembunyikan kebenaran dan memilih mengambil alih tanggung jawab untuk menjaga wanita di sebelahnya yang tengah hamil muda.


“Sejak kapan tahu dia Blade?” Shanuella tak puas melempar tanya hingga mendapatkan jawaban yang memuaskan.


“Sejak kematian Daddy. Aku tahu dia Blade.”


“Kenapa menyembunyikannya? Padahal Mas tahu  ... kalau aku dan Lana membutuhkannya.” 


Bayu yang tengah mengemudikan kendaraan mendadak menginjak pedal rem. Sontak laju mobil itu melambat dan membuat guncangan kecil. Suara decitan ban beradu dengan aspal menciptakan suara berisik yang memekak telinga.


“Kamu dan Lana hanya membutuhkanku, bukan Blade, Shan. Ingat itu. Dia bukan siapa-siapamu. Akulah ... suami dan ayah dari Lana. Dia hanya melintas sekilas di dalam hidupmu. Jangan menyimpannya terlalu lama di dalam hatimu. Seperti yang dia katakan tadi kalau Blade sudah mati. Andai ada cinta untukmu ... itu dulu. Dia dalam diri Rarendra tidak pernah mencintaimu. Ingat itu.”


Shanuella terdiam. Menoleh sekilas ke arah Bayu. Dalam keremangan, ada kecewa tersimpan di mata pria tersebut.

__ADS_1


“Mas ....”


“Ingat, lima tahun yang kita lewati. Mungkin cinta itu tak ada, tapi kita memiliki kenangan bersama. Lana lahir dari pernikahan kita, bukan Blade.”


“Mas, kamu kenapa?” Tanya itu terdengar lirih. Bayu terlihat berbeda dari biasa.


Sebelah tangan mengurai genggaman pada kemudi, kemudian mencengkeram lembut jemari Shanuella yang terkulai lemas di atas pangkuan.


“Aku ingin ada di dalam pandanganmu, di dalam hatimu, dan masa depanmu. Tolong, jangan hempaskan aku. Kalau tidak cinta, setidaknya demi Lana. Anak itu hanya mengenalku sebagai papanya. Jangan sodorkan papa yang lain dan akan membuatnya bingung. Aku mencintaimu, aku juga mencintai Lana. Kalau boleh serakah, aku ingin keduanya. Tapi, kalau kamu tak mengizinkannya, cukup biarkan aku memiliki Lana.”


“Mas?” 


“Maaf, kalau selama ini aku tidak berterus terang. Aku sendiri tidak tahu jelas motifnya meninggalkanmu. Aku bisa bekerja dengan orang lain. Tapi, aku memilih dengannya demi melindungimu dan Lana. Kita tidak pernah tahu ... dendam itu masih tersisa atau musnah. Jangan sampai terjerembap di kubangan yang sama. Cinta boleh, bodoh jangan.”

__ADS_1


“Mas.” Suara Shanuella tercekat. “Aku tidak tahu masih bisa jatuh cinta lagi atau tidak. Tapi, apa yang selama ini Mas lakukan untukku dan Lana, pasti kuingat.” Sebuah senyuman merekah di bibir Shanuella.


“Terima kasih.” Masih menggenggam tangan Shanuella, Bayu mencondongkan tubuhnya ke kursi penumpang sebelah. Sebuah kecupan dilabuhkan di pipi, kemudian mengedipkan matanya.


__ADS_2