
“Cinta memang tidak bisa memilih, tapi tidak boleh memaksa. Kalau sampai akhirnya dia tidak mencintaimu, itu hak-nya. Kamu tidak boleh menyalahkan. Sama seperti hatimu yang egois, hatinya juga boleh egois. Mbok tidak bisa bicara banyak, perjuangkanlah apa yang bisa diperjuangkan, Tapi, jangan memaksa apa yang tidak bisa menjadi milikmu. Kalau bisa bertahan dalam rumah tangga seperti ini, bertahanlah. Kalau tidak bisa, lepaskan. Terkadang, kalian harus bicara. Saking terbuka dan mengungkapkan isi hati masing-masing. Ingat, ada Lana. Gadis itu yang paling terluka.”
Bayu tertunduk diam.
“Tuhan tidak pernah sengaja menciptakan masalah. Pasti ada hikmah di balik semua ini. Tiap orang punya alasan, untuk melangkah dan bersikap.”
“Ya, Mbok.”
“Tidurlah. Ini sudah malam. Besok harus bekerja, ‘kan?”
Mbok Sari baru saja berdiri saat bayu memeluk pinggangnya dan menumpahkan tangis tanpa air mata. Dekapan seorang anak yang butuh dukungan dari seorang ibu begitu kentara.
“Dia memintaku menempati salah satu rumahnya. Membawa anak dan istriku tinggal di sana.” Bayu menumpahkan apa yang sejak tadi jadi buah pikirannya. Dia bingung, menolak atau menerima. Posisinya sulit, dia takut akan membuat Shanuella kecewa dengan keputusan yang diambil.
__ADS_1
“Mbok tidak bisa memutuskan. Diskusikan dengan Shan-Shan. Kalian sudah menikah, keputusan pun harus bersama. Jangan sampai di kemudian hari ada masalah dengan hal-hal seperti ini. Baiknya bicarakan berdua.”
“Ya, Mbok,” ucap Bayu, menenangkan diri. Mengurai dekapan dan melepaskan wanita tua yang sudah dianggapnya ibu itu masuk ke dalam.
Terlahir sebagai yatim piatu, dia kehilangan orang tua saat masih kecil. Tinggal dengan neneknya yang telah renta. Di usia sebelas tahun, hantaman datang ketika sang tumpuan berpulang. Bayu harus ikut orang, pontang-panting demi bisa hidup dan sekolah. Menamatkan SMA dengan terseok-seok, dia bahagia saat dapat kesempatan bersama dengan Hartanto Sunjaya.
...🍒🍒🍒...
Alunan indah tak hanya membuai tidur, Shanuella terusik dan melepas pelukannya. Berbalik, dia mengganti posisi menghadap ke sisi luar tempat tidur. Awalnya, dia tak merasa ada yang aneh. Namun, saat kesadaran timbul tenggelam, embusan hangat menerpa wajah.
Perlahan, kelopak mata mengerjap. Kesadaran terseret pulang, kepingan ingatan mengumpul. Saat semua terang, Shanuella terkejut mendapati Bayu sudah di dalam pandangan. Pria itu duduk di lantai, wajahnya di bibir tempat tidur. Begitu dekat hingga hampir tak berjarak.
“Mas, kamu di sini?” tanya Shanuella dengan suara serak. Kantuk bergelayut, dia memaksa tubuhnya segera bangun.
__ADS_1
Kedua sudut bibir laki-laki itu tertarik ke atas. Hangat dan menenangkan, menemani menyambut pagi yang sebentar lagi datang.
“Aku tidak bisa tidur.” Bayu bersuara pelan, melirik ke arah Lana sekilas. Dia tak mau sampai membangunkan gadis kecilnya.
“Memangnya ada masalah?” Shanuella mengernyit heran. Bayu tak biasa bersikap seperti ini. Ditepuknya sisi ranjang yang kosong, meminta Bayu duduk di atas. “Bicaranya di sini.”
Menurut tanpa protes, laki-laki itu mengikuti semua titah. Sorot mata terarah pada Shenuella, tak beralih sama sekali. Pelan-pelan menjatuhkan bokongnya di bibir ranjang, dia memunggungi sang istri Tak mau sampai resah yang dirasa sampai terbaca. Tubuh melengkung ke depan, jemari saling meremas satu sama lain. Gugup melanda, mengusir bingung yang sejak tadi merajalela di dalam benaknya.
“Kenapa, Mas?” Shanuella menatap laki-laki yang tengah membelakanginya itu.
“Pernah menyesal menikah denganku?”
Senyap.
__ADS_1