
“Shan, are you okay?” Rarendra mencoba menyentuh lengan Shanuella dan dia terkejut ketika mendapati wanita itu ketakutan. Padahal sentuhannya terbilang ringan, tak menyiratkan apa pun.
Napas tersengal, paras pun memucat. Shanuella tampak terguncang oleh sesuatu yang tak terlihat.
“Shan, bernapas.” Rarendra panik. Dilepasnya sabuk yang membelit tubuh Shanuella agar wanita itu tak semakin sesak. “Tarik napas!” pekik laki-laki di balik kemudi yang mulai menyeberangkan separuh tubuhnya ke arah seat di sebelahnya.
Direngkuh paksa, kemudian didekap mesra. Ada rasa yang menggelepar dari kungkungan, memancar keluar dari jiwa yang selama ini terluka. Pelukan hangat disertai usapan itu sanggup menentramkan sejumput trauma yang berkubang di dalam nestapa tak kasat mata.
“Mas.” Shanuella bersuara setelah beberapa detik jiwa dan raganya terbelenggu bayangan masa lalu. “Dia ... meninggal?” Bukan hanya suara yang bergetar, tubuh pun gemetar hebat.
“Shan, tarik napas dan embuskan pelan-pelan.” Rarendra menuntun wanita yang masih dikuasai ketakutan.
“Mas ... apa dia meninggal?” tanya Shanuella, setengah berbisik. Sesaat, kesadarannya timbul tenggelam, berkelana bersama separuh kisah kelam di masa lalu. Guncangan yang mungkin telah dilupakan semua orang, tetapi masih membekas di sisi mengendap di sisi terdalam jiwanya.
“Shan, sadar!” Membaca tatapan kosong Shanuella, Rarendra menangkap sesuatu. Ada kisah yang disimpan dan terjalin menjadi momok berkepanjangan. Ditepuknya pipi mulus itu agar segera sadar dan kembali ke kenyataan.
__ADS_1
Tersentak, wanita pucat berhias peluh di dahi itu terseret ke alam nyata. Terpaku beberapa detik hingga dia menyadari ada di dalam dekapan pria yang selama ini hadir di dalam benci dan rindunya.
“Blade?” Bisikan itu terdengar lirih. Mengamati sosok gagah yang tengah mendekapnya. Serasa tertarik ke masa silam, saat dunia Shanuella begitu indah tanpa lara.
“Maaf, aku Rarendra, bukan Blade,” tegas pria tampan itu, buru-buru mengurai dekapan dan memberi jarak. Kembali ke tempatnya semula, dia berusaha untuk bersikap biasa
“Maaf.” Suara Shanuella mengambang. Wajah pun tampak datar saat kesadarannya kembali. Setitik cahaya hadir di tengah kegelapan dan menyeret wanita itu kembali ke alam nyata. Sedikit menjulurkan kepala, mengintai apa yang terjadi di depan mobil. Bayangan mengerikan yang sempat muncul nyatanya hanya ilusi.
“Aku juga minta maaf. Kamu baik-baik saja?” Rarendra mendadak canggung.
“Maaf, aku tadi ... sempat blank. Tiba-tiba muncul dan sudah di depan mobil.” Rarendra menjelaskan.
“Ya, Pak. Aku mengerti.”
Sapaan ‘saya’ di awal perkenalan mulai berganti aku. Rarendra mengulum senyuman, setidaknya keakraban itu mulai terjalin walau harus tertatih-tatih. Ini proses, dan dia sadar untuk bisa ke sana memerlukan waktu yang panjang.
__ADS_1
Selebihnya, kecanggungan kembali menyelimuti keduanya. Shanuella bungkam dan fokus pada pemandangan di jalan raya. Sembari mengulang apa yang baru saja menimpanya, sesekali melirik ke arah Rarendra.
...✔️✔️✔️...
Walau bukan kali pertama, debar dan kesedihannya sama seperti saat perdana menginjakkan kaki ke kediaman lamanya setelah sekian tahun. Shanuella menatap nanar ke arah bangunan yang masih sama seperti dulu saat ditinggalkannya. Hanya saja, sekarang tak terurus, berhias debu dan rumput liar. Bahkan, beberapa titik di bangunan utama tampak mengalami rusak parah.
“Shan.” Rarendra mengulurkan tangan. Semak belukar membuat keduanya kesulitan berjalan mendekat.
Wanita berambut panjang terurai itu tercengang. Sikap Rarendra sedikit aneh. Dipandanginya pria yang tengah menawarkan diri untuk menjadi penuntun dengan telapak tangan terbentang disodorkan padanya. Senyum terkembang, laki-laki berkemeja putih susu itu tengah menunggu wanita di hadapannya pasrah.
“Terima kasih. Aku bisa sendiri.”
Ditolak dan Rarendra menyerah? Tentu tidak. Laki-laki itu menyunggingkan senyuman pasrah kemudian menggeleng samar dan terkekeh pelan. Berjalan di depan, melangkahi semak dan rumput liar, dia membiarkan Shannuella dengan keangkuhannya. Sesekali, dia masih sempat melirik ke arah belakang dan memastikan wanita itu mengekor di belakangnya.
“Hati-hati, di sini banyak ular.” Rarendra berhenti melangkah dan menunggu reaksi yang mungkin menguntungkannya.
__ADS_1